Tautan-tautan Akses

Perselisihan Upah di Kaesong Ancam Kerjasama Dua Korea

  • Brian Padden

Buruh Korea Utara bekerja di kawasan industri bersama Kaesong dengan upah yang relatif murah (foto: dok).

Buruh Korea Utara bekerja di kawasan industri bersama Kaesong dengan upah yang relatif murah (foto: dok).

Perselisihan upah yang berlangsung di kawasan industri bersama Kaesong di Korea Utara dapat mengakhiri sisa-sisa terakhir kebijakan Sinar Matahari terkait keterlibatan Korea Selatan dengan Korea Utara.

Simbol kerjasama antar-Korea dalam industri bersama di kawasan Kaesong ini telah menjadi titik pertikaian tentang tenaga kerja murah dan kekhawatiran bahwa kerjasama ini digunakan untuk menghindari sanksi.

Sengketa upah saat ini di Kawasan Industri Kaesong di Korea Utara tampaknya sepele di permukaan tetapi merupakan indikasi bahwa hubungan antar-Korea telah memburuk.

Pyongyang baru-baru ini menaikkan upah minimum bulanan untuk para pekerja di sana dari $70,35 menjadi $74 atau sekitar 956 ribu rupiah. Para pejabat di Seoul keberatan dengan kenaikan upah yang relatif kecil ini – lima persen – karena keputusan itu dibuat secara sepihak di Pyongyang.

Profesor Andrei Lankov, seorang analis Korea Utara di Universitas Kookmin, mengatakan walaupun masalahnya kecil, penting bagi Seoul untuk meminta Korea Utara agar mematuhi apa yang disepakati sebelumnya mengenai proses negosiasi untuk menentukan upah.

"Uang itu sendiri hampir tidak relevan karena jumlah total yang mereka perdebatkan sangat kecil. Namun mereka tidak ingin membuat sesuatu yang bisa dijadikan contoh dan sedikit banyak posisi mereka dapat dimengerti," kata Lankov.

Kawasan Industri Kaesong yang terletak di perbatasan utara Seoul itu diciptakan lebih dari satu dekade lalu sebagai bantuan ekonomi dan proyek kerja sama untuk membangun kepercayaan antara kedua Korea. Ini adalah satu-satunya proyek besar yang masih beroperasi dan merupakan bagian dari kebijakan keterlibatan mendiang Presiden Korea Selatan Kim Dae-jung yang disebut kebijakan Sinar Matahari.

Proyek bersama utama lainnya adalah zona wisata Gunung Keumgang. Zona itu ditutup pada tahun 2008 setelah seorang tentara Korea Utara menembak pengunjung Korea Selatan. Program bantuan Korea Selatan lainnya dihentikan dan sanksi terhadap Korea Utara diberlakukan pada tahun 2010 setelah Seoul menuduh Pyongyang menenggelamkan kapal perang Korea Selatan dan menewaskan 46 pelaut.

Lebih dari 100 pabrik Korea Selatan kini beroperasi di Kaesong dan mempekerjakan 50.000 warga Korea Utara. Tapi Kim Jin-hyang, seorang profesor di Korea Advanced Institute of Science and Technology, mengatakan proyek itu sekarang mencerminkan hubungan antar-Korea yang tegang.

Menurut Kim, karakteristik dan reputasi kawasan itu telah berubah dari rekonsiliasi, kerjasama dan perdamaian menjadi ketidakpercayaan dan konfrontasi, dan kawasan itu telah berubah dari tempat bersama menjadi tempat yang dikuasai oleh Korea Utara.

Bukannya menjadi katalis keterlibatan, Kaesong telah menjadi pengaturan ekonomi yang menguntungkan kedua pihak. Perusahaan-perusahaan Korea Selatan mendapat tenaga kerja yang murah, dimana pekerja hanya mendapat sebagian kecil dari apa yang didapat oleh warga Korea Selatan untuk bersaing dengan industri negara-negara berkembang yang memproduksi sebagian besar sepatu dan pakaian.

Berbagai kelompok hak asasi manusia telah menyuarakan keprihatinan tentang eksploitasi pekerja di kawasan industri itu, di mana rezim Kim Jong Un mengutip porsi yang signifikan dari upah mereka dan di mana hanya ada sedikit atau bahkan tidak ada perlindungan hukum bagi para pekerja.

XS
SM
MD
LG