Tautan-tautan Akses

Persaingan Etnik Tewaskan 30 di Republik Demokrasi Kongo


Truk militer Kongo membawa pasukan Kongo setelah kekerasan terjadi akibat ditundanya pemilu presiden di Kinshasa, Republik Demokrasi Kongo, 20 September 2016. (File: dok.)

Truk militer Kongo membawa pasukan Kongo setelah kekerasan terjadi akibat ditundanya pemilu presiden di Kinshasa, Republik Demokrasi Kongo, 20 September 2016. (File: dok.)

Paling sedikit 30 orang sipil tewas hari Minggu (27/11) di desa Luhanga, bagian timur Republik Demokrasi Kongo.

Sebagian besar yang dibunuh adalah etnik Hutu dan pejabat setempat mengatakan milisi etnik Nande mendalangi pembantaian itu, yang terbaru dalam siklus kekerasan selama setahun ini antara masyarakat kedua etnis provinsi Kivu Utara, Republik Demokrasi Kongo. Joy Bokele, seorang pejabat pemerintah daerah Kivu Utara, mengatakan militan terlebih dahulu menyerang pos militer negara itu sebelum serangan terhadap Luhanga mulai.

“Mereka mulai dengan menyerang kedudukan pasukan pemerintah. Sementara mereka menyerang pasukan pemerintah, satu kelompok lainnya mengeksekusi penduduk dengan senjata tajam atau peluru,” kata Bokele kepada AFP.

Persaingan etnis, penyerbuan asing dan perebutan tanah yang kaya mineral telah menimbulkan konflik yang terus-menerus di antara puluhan kelompok pemberontak Kongo timur dalam 20 tahun terakhir, yang menjatuhkan jutaan korban jiwa.

Ketegangan telah meningkat antara Hutu dan suku-suku tetangganya sejak tentara Kongo melancarkan serangan militer tahun 2015 terhadap FDLR atau milisi yang berasal dari Rwanda,yang mengakibatkan pengungsian sejumlah besar laskar dan kaum sipil Hutu. [gp]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG