Tautan-tautan Akses

Persaingan dalam Pemilu Presiden Afghanistan Ketat

  • Sharon Behn

Polisi Afghanistan mengadakan patroli menjelang berlangsungnya Pemilu di negara itu hari Sabtu (14/6).

Polisi Afghanistan mengadakan patroli menjelang berlangsungnya Pemilu di negara itu hari Sabtu (14/6).

Hari Sabtu, rakyat Afghanistan akan pergi ke TPS-TPS untuk memilih presiden baru dari dua calon yang tersisa, Ashraf Ghani dan Abdullah Abdullah. Persaingan keduanya diperkirakan cukup ketat.

Pasukan keamanan Afghanistan yakin bahwa ancaman Taliban untuk menggagalkan pemilihan presiden hari Sabtu antara Ashraf Ghani dan Abdullah Abdullah tidak akan terwujud.

Selain pasukan biasa, kira-kira 195 ribu pasukan tambahan telah dikerahkan untuk melindungi kira-kira 6 ribu TPS dan pemilih, kata juru bicara Kementerian Pertahanan Jenderal Zahir Azimi.

“Gunung-gunung, lembah dan daerah di mana musuh bisa menyerang, putra-putra dan saudara-saudara kalian, tentara kita, berada di garis depan mencegah setiap ancaman dan melindungi kalian di TPS,” kata Azimi.

Pemenang pemilu itu akan menghadapi perekonomian lemah, kekerasan militan, dan mengusahakan agar komunitas internasional terlibat dalam pembangunan Afghanistan.

Jan Kubis, utusan khusus PBB untuk Afghanistan, mengatakan pemungutan suara itu sangat penting bagi masa depan negara.

“Afghanistan menghadapi salah satu hari paling penting dalam sejarah modern negara ini,” kata Jan Kubis.

Mengukur dukungan publik nasional bagi salah satu kandidat sulit, tetapi jajak pendapat yang diterbitkan dalam beberapa minggu terakhir menunjukkan kontes pemilihan presiden ini berjalan sangat sengit.

Pendukung Ghani yakin ia akan memimpin Afghanistan ke depan. Maryam Suleiman Kheil, seorang pendukungnya, mangatakan,”Ia adalah orang yang menurut saya paling mampu menciptakan perubahan, landasan dasar bagi masa depan Afghanistan, untuk keamanan dunia dan bagi kaum muda.

Pendukung Abdullah sama yakinnya. Mahmoud Saikal mengatakan hanya Abdullah yang dapat menyatukan negara yang porak poranda akibat konflik etnis dan suku ini.

“Kami sedang menyusun agenda nasional bagi Afghanistan. Kami tidak memiliki agenda etnis, tidak ada agenda linguistik, tidak ada agenda regional,” kata Saikal.

Meskipun khawatir tentang kekerasan dan kecurangan pada hari pemilihan, pemilih muda di Kabul seperti Hodadad Shweib tetap optimistis.

“Pemilu sangat penting dalam praktik demokrasi di Afghanistan, sehingga sebagai pemuda, dan warga Afghanistan saya sangat berharap pada proses ini dan saya yakin pemilu ini akan sangat berhasil,” papar Shweib.

Para pejabat berharap orang-orang yang memberikan suara hari Sabtu akan banyak, untuk memilih pemimpin selanjutnya dengan mandat yang jelas.
XS
SM
MD
LG