Tautan-tautan Akses

Persaingan AS-China di Laut China Selatan Ganggu Hubungan Kedua Negara


Drone laut milik Amerika saat diuji coba di Newport, 4 November 2016 (Foto: dok).

Drone laut milik Amerika saat diuji coba di Newport, 4 November 2016 (Foto: dok).

Kementerian Pertahanan China mengatakan hari Minggu pihaknya akan mengembalikan kendaraan itu “dengan cara yang wajar,” yang menimbulkan pertanyaan mengenai apakah China akan terlebih dahulu menyita peralatan di dalam drone itu.

Kegiatan yang bersaingan oleh Amerika Serikat dan China di Laut China Selatan sedang meruncing dan sudah mengganggu hubungan antara kedua adi-daya itu dan menimbulkan perkiraan akan konflik yang lebih serius setelah Presiden terpilih Amerika Donald Trump memangku jabatan bulan depan.

Pusat Pengkajian Strategi dan Internasional Amerika mengatakan dalam laporan anggal 13 Desember bahwa Beijing telah memiliterisasi sebagian Kepulauan Spratley, yang terletak di Laut China Selatan.

Dalam insiden yang tidak berhubungan dua hari kemudian, China menyita kendaraan bawah air yang tidak berawak yang sedang digunakan oleh angkatan laut Amerika untuk penelitian ilmiah dalam laut di kawasan yang sama. Kementerian Pertahanan China mengatakan hari Minggu pihaknya akan mengembalikan kendaraan itu “dengan cara yang wajar,” yang menimbulkan pertanyaan mengenai apakah China akan terlebih dahulu menyita peralatan di dalam drone itu.

“Tindakan China itu seperti memprovokasi. Mungkin mereka ingin mengirim sinyalmereka tidak senang dengan komentar Presiden terpilih Trump,” kata Andrew Yang, sekjen Dewan Pengkajian Kebijakan China di Taiwan.

Laut China Selatan, yang kaya akan ikan serta kemungkinan endapan bahan-bakar fosil bawah laut, diklaim seluruhnya atau sebagian oleh China, Brunai, Malaysia, Vietnam, Taiwan dan Filipina. [gp]

XS
SM
MD
LG