Tautan-tautan Akses

Permintaan Maaf Belanda Atas Penjajahan di Indonesia Buka Luka Lama


Seorang veteran tentara di Makassar menangis saat menghadiri upacara untuk menghormati para korban Kapten Angkatan Darat Belanda Raymond Westerling yang memimpin pasukan di Sulawesi pada perang 1940an. (AFP Photo)

Seorang veteran tentara di Makassar menangis saat menghadiri upacara untuk menghormati para korban Kapten Angkatan Darat Belanda Raymond Westerling yang memimpin pasukan di Sulawesi pada perang 1940an. (AFP Photo)

Sejumlah keluarga korban perang kemerdekaan di Sulawesi meminta anak-anak korban mendapat kompensasi dan telah membawa kasus mereka ke pengadilan di Belanda.

Abdul Khalik masih ingat dengan jelas peristiwa hampir 70 tahun yang lalu saat ia melihat ayahnya dibawa dari desa mereka yang terpencil oleh tentara Belanda untuk dieksekusi.

"Ia mengatakan pada saya, 'Pulang, nak' tapi saya menolak," kenang pria berusia 75 tahun itu dengan mata menerawang, saat diwawancara di kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Ayahnya ditembak mati esoknya, satu dari ribuan yang dibunuh tentara Belanda pada perang kemerdekaan saat Indonesia ingin lepas dari penjajahan.

Operasi itu terjadi pada 1946-1947 oleh Belanda untuk merebut kekuasaan kembali di Sulawesi setelah hampir berhasil diusir keluar -- salah satu episode paling gelap dalam perang kemerdekaan, yang menewaskan ribuan orang yang dicurigai pemberontak.

Setelah sejumlah janda mendapat kompensasi tahun lalu, Belanda meminta maaf atas semua eksekusi yang dilakukan pada perang kemerdekaan dan menyatakan akan memberi kompensasi pada semua janda yang pasangannya tewas saat itu.

Namun bukannya menutup lembaran hitam, perhatian baru terhadap penjajahan Belanda di Indonesia telah memicu desakan bahwa banyak yang harus dilakukan.

Abdul dan yang lainnya sekarang meminta anak-anak korban, bukan hanya janda, juga menerima kompensasi dan telah membawa kasus mereka ke pengadilan di Belanda. Sidang kasus ini akan berlangsung di Den Haag Agustus nanti.

"Tidak adil. Penahanannya sama, penjaranya sama, penembakan sama, peristiwanya sama, jadi mengapa anak-anak mendapat perlakuan berbeda?" ujar Abdul, dengan menambahkan bahwa ia akan membagi uang dengan 32 cucunya dan satu cicit.

Shafiah Paturusi, perempuan 82 tahun yang kehilangan ayah dan abangnya pada perang tersebut, menambahkan: "Saya ingin keadilan dari Belanda, karena luka kehilangan ayah sama atau bahkan lebih buruk daripada kehilangan suami."

Kenangan Buruk

Seorang kapten Belanda yang terkenal kejam, Raymon Westerling, menggagas operasi di Sulawesi, di mana pasukan Belanda mengepung desa-desa dan menyergap orang-orang yang diduga tentara musuh sebelum membunuh mereka tanpa proses peradilan.

Ada ketidaksepakatan mengenai jumlah yang tewas dalam pertempuran yang terjadi berbulan-bulan tersebut. Beberapa pihak di Indonesia mengklaim jumlahnya sampai 40.000, sementara studi-studi sejarah mengatakan angkanya antara 3.000 sampai 4.000.

Operasi tersebut terbukti sangat kontroversial dan Westerling dibebaskan dari tugas pada 1948, meski tidak pernah diseret ke pengadilan untuk kejahatan perang.

Bagi generasi tua di Sulawesi, kenangan mengenai operasi itu masih jelas.

Abdul mengatakan ayah dan yang lainnya "ditumpuk di truk seperti hewan" sebelum dibawa pergi, meski sang ayah sempat melambaikan tangannya pada anaknya saat kendaraan itu menjauh.

"Besoknya, ayah saya diambil dari penjara, dirantai dengan delapan lainnya dan mereka semua dihukum mati," ujarnya.

Waktu Hampir Habis

Liesbeth Zegveld, seorang pengacara hak asasi manusia dari Belanda yang telah memenangkan kompensasi untuk para janda di Indonesia, juga mewakili beberapa anak korban.

Ia berharap kasus ini berhasil namun memperingatkan bahwa hal ini tidak mudah karena waktunya mendesak, sebab banyak yang meminta ganti rugi sudah lanjut usia.

"Negara mencoba membayar sesedikit mungkin dengan memproses klaim ini pelan-pelan, bertanya banyak pertanyaan secara berulang-ulang," ujarnya pada kantor berita AFP.

Jeffry Pondaag, dari yayasan di Belanda yang dikelola oleh para warga Indonesia yang membantu mereka yang mencari kompensasi, mengatakan selain uang, mereka ingin Belanda lebih terbuka mengenai sisi gelap penjajahan yang dilakukan.

"Kami akan berjuang agar pemerintah Belanda menjelaskan pada masyarakat apa yang yang mereka perbuat terhadap Indonesia itu salah," ujar Pondaag, yang bekerja di sebuah pabrik semen di barat laut Amsterdam.

Namun pemerintah Belanda menyatakan bahwa Indonesia dan Belanda telah "menarik batas dalam bagian sejarah yang mereka bagi bersama."

"Pemerintah Belanda telah berulangkali menyatakan penyesalan atas cara yang menyakitkan saat Belanda dan Indonesia berpisah," menurut pernyataan tersebut.

Hubungan diplomatik antara Jakarta dan Den Haag umumnya baik dan generasi muda Indonesia melihat masa penjajahan Belanda sebagai bagian dari masa lalu yang jauh.

Namun beberapa kalangan generasi tua masih merasakan kekesalan atas periode yang dimulai saat para pedagang dari Belanda tiba pada akhir abad 16.

Beberapa janda telah mendapat kompensasi. Sepuluh orang yang mengajukan tuntutan hukum di Belanda atas operasi di Sulawesi menerima uang sebelum permintaan maaf tahun lalu.

Sejumlah janda lain, yang suaminya tewas pada pembantaian 1947 di Rawagede, juga telah menerima kompensasi.

Pemerintah Belanda pada Agustus tahun lalu mengatakan janda-janda lain dengan klaim serupa memerlukan dua tahun untuk mendaftarkan kompensasi mereka.

The Dutch government in August last year said other widows with similar claims had two years to apply for compensation.

Namun uang tidak selalu menyelesaikan semuanya.

"Kami telah memaafkan Belanda namun ketika menerima uang tersebut, perasaan saya campur aduk," ujar Andi Aisyah, perempuan berusia 90an tahun yang suaminya tewas di Sulawesi.

"Luka yang telah lama terpendam kembali muncul." (AFP)

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG