Tautan-tautan Akses

Periset Berharap Vaksin Pencegah HIV Bisa Dikembangkan untuk Manusia

  • Jessica Berman

Vaksin AIDS sangat dibutuhkan untuk mencegah pencegahan penyakit HIV/AIDS serta memangkas tingginya biaya medis.

Vaksin AIDS sangat dibutuhkan untuk mencegah pencegahan penyakit HIV/AIDS serta memangkas tingginya biaya medis.

Hasil yang menggembirakan didapat dari vaksin yang dikembangkan untuk melindungi monyet rhesus dari infeksi virus AIDS primata.

Para periset gembira dengan vaksin yang mereka kembangkan untuk melindungi monyet rhesus dari infeksi virus AIDS primata. Penemuan itu diharapkan dapat menggunakan apa yang telah mereka pelajari itu untuk membuat pencegah infeksi HIV pada manusia.

Dengan lebih dari 2,6 juta infeksi HIV baru setiap tahun, dan hampir dua juta kematian akibat virus yang menular lewat hubungan seks itu, vaksin AIDS tetap menjadi tujuan yang mendesak bagi para periset.

Sekarang, para ilmuwan di Institut Vaksin dan Terapi Gen di Oregon Health and Science University, merasa mereka akhirnya menemukan jalan. Louis Picker, kepala program vaksin itu, mengatakan para periset telah mengembangkan agen yang dapat melindungi monyet rhesus dari virus simian immunodeficiency atau SIV.

Dia membandingkan vaksin itu dengan tentara dalam keadaan siaga, langsung beraksi ketika menemukan tanda infeksi, sebelum virus itu sempat mendapat pijakan di tubuh. Ia mengatakan,"Vaksin itu menempatkan pasukan bersenjata di perbatasan yang mampu langsung mencegat HIV atau SIV dari awal. Tidak ada penundaan yang membutuhkan sel efektor, seperti vaksin lain."

Sel efektor adalah sel imunitas yang digerakkan untuk melawan bakteri atau virus yang menyerbu.

Saat ini, pembuat vaksin berusaha menyiapkan sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan memusnahkan HIV dengan melekatkan materi genetik dari virus itu pada virus pilek yang tidak berbahaya. Tapi sejauh ini, kata Picker, strategi tersebut tidak berhasil baik karena virus pilek tidak bertahan lama dalam tubuh.

Alih-alih, tim peneliti Picker menggunakan cytomegalovirus atau CMV. Kebanyakan populasi dunia terinfeksi CMV tapi tidak menimbulkan penyakit. Virus itu tidak aktif tapi tetap hidup tanpa batas waktu.

Dalam eksperimen tersebut, para periset memberi monyet-monyet itu vaksin cytomegalovirus SIV yang sudah direkayasa secara genetika atau vaksin CMV ditambah vaksin virus pilek yang sudah dimodifikasi. Kelompok monyet ketiga hanya diberi vaksin virus pilek standar dan kelompok ke empat tidak divaksinasi.

Picker mengatakan separuh dari 24 monyet rhesus yang menerima vaksin CMV saja atau CMV plus virus pilek tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi. "Bahkan ketika kami berusaha mencari virus itu kira-kira setahun kemudian, virus itu sulit ditemukan dengan berbagai teknik. Sehingga meningkatkan kemungkinan bahwa infeksi itu benar-benar dibersihkan dari monyet-monyet itu. Ini belum pernah terjadi sebelumnya untuk vaksin SIV," ujar Picker

Menurut Picker, tujuannya sekarang adalah untuk memformulasikan vaksin CMV yang lebih efektif, yang cukup aman untuk dicoba pada manusia dalam melawan infeksi HIV.

Artikel tentang eksperimen vaksin baru untuk AIDS ini dimuat dalam jurnal Nature.

XS
SM
MD
LG