Tautan-tautan Akses

Peringati Haul Ke-7, Presiden Ingatkan Sifat Akhlak Mulia Gus Dur 


Presiden Joko Widodo menyaksikan pembacaan dan penandatangan Ikrar Damai Ummat Beragama Indonesia oleh 9 Pemuka Agama di Ciganjur, Jakarta, 23 Desember 2016. (Foto: Biro Pers Kepresidenan).

Haul ke-7 Almarhum K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden Joko Widodo menyaksikan penandatangan Ikrar Damai Umat Beragama Indonesia oleh 9 Pemuka Agama, sebagai bentuk persatuan atas kemajemukan negara Indonesia.

Presiden Joko Widodo mengajak semua kalangan untuk berusaha meneladani sikap hidupAlmarhum K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Presiden Joko Widodo dalam peringatan Haul ke-7 K.H. Abdurrahman Wahid sekaligus Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1438 H, Jumat (23/12) malam di Komplek Masjid Al-Munawwaroh, Ciganjur, Jakarta Selatan menjelaskan, sikap hidup Gus Dur sejalan dengan misi utama kelahiran Nabi Muhammad SAW. Gus Dur, lanjut Presiden, selalu mengingatkan pentingnya kesadaran bahwa negara Indonesia adalah milik semua golongan.

"Yang menuntun manusia menuju akhlak mulia dan menebarkan rahmat bagi seluruh alam. Selama hidupnya Gus Dur selalu mengingatkan kita bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah milik seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali, milik bersama, bukan milik golongan dan bukan milik perseorangan," sambut Presiden Joko Widodo.

Presiden Jokowi dalam sambutannya sedikit menyinggung soal kondisi terakhir Indonesia yang mulai muncul sikap intolerasi, pemaksaan kehendak dan terorisme.

"Saya percaya Gus Dur pasti gemes gregetan kalau melihat ada kelompok atau orang-orang yang meremehkan konstitusi, yang mengabaikan kemajemukan kita, yang memaksakan kehendak dengan aksi-aksi kekerasan, radikalisme, terorisme," lanjutnya.

Saling hujat, fitnah dan ujaran kebencian di media sosial juga disinggung Presiden Jokowi.

"Kita sudah lupa, atau lalai, atau tidak mengerti. Tidak bisa membedakan mana yang kritik mana yang menghina. Mana yang kritik, mana yang menjelek-jelek kan. Mana yang kritik, mana yang menghasut. Mana yangkritik, mana yang menghujat. Lupa semua kita. Mana yang kritik, mana yang ujaran kebencian. Mana yang kritik, mana yang makar. Ga bisa membedakan kita semua ini," imbuh Presiden Joko Widodo.

Presiden Jokowi memberi sambutan dalam peringatan Haul Ke-7 K.H. Abdurrahman Wahid, Jumat 23 Desember 2016 malam, di Komplek Masjid Al-Munawwaroh, Ciganjur, Jakarta. (Foto: Biro Pers Kepresidenan)
Presiden Jokowi memberi sambutan dalam peringatan Haul Ke-7 K.H. Abdurrahman Wahid, Jumat 23 Desember 2016 malam, di Komplek Masjid Al-Munawwaroh, Ciganjur, Jakarta. (Foto: Biro Pers Kepresidenan)

Kegaduhan yang ada di sekitar kita saat ini lanjut Presiden, harus cepat dihentikan.

"Kalau ini kita teruskan, energi besar kita habis. Untuk hal-hal yang tidak perlu. Bisa kita lupa strategi besar negara kita. Lupa bagaimana kita mensejahterakan rakyat kita. Lupa kita membangun strategi besar ekonomi negara. Lupa kita membangun strategi industri kedepan untuk membuka lapangan pekerjaan sebesar-besarnya buat rakyat. Lupa semua karena kita ribut dan ribut. Kalau almarhum Gus Dur masih ada, akan ada yang memberitahu kita.. 'masih kayak anak Tk aja',” imbuhnya.

Presiden Joko Widodo juga mengagumi sikap optimisme Gus Dur dalam memandang bangsa Indonesia ke depan dan selalu optimis dalam memandang Indonesia ke depan.

"Dan ketika mengambil keputusan yang rumit, saya suka teringat kata-kata beliau 'Gitu saja kok repot!?.' Gus Dur selalu berpegang teguh pada sebuah kaidah fiqih 'Yassirru wala Tuasirru' yang memiliki makna ‘permudahlah dan jangan dipersulit’. Kita ini sekarang ini, yang mudah-mudah malah dipersulit. Harusnya yang sulit itu dipermudah, jangan dibalik balik," kata Presiden Joko Widodo.

Pada kesempatan Haul ke-7 ini Presiden Joko Widodo menyaksikan pembacaan dan penandatangan Ikrar Damai Ummat Beragama Indonesia oleh sembilan Pemuka Agama, sebagai bentuk persatuan atas kemajemukan negara Indonesia. Para tokoh lintas agama itu di antaranya Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj, Uskup Agung Jakarta MGR Ignatius Suharyo, Pendeta Nababan, Biksu Suryanadi Mahathera, tokoh Hindu Yanto Jaya, Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) Uung Sendana, hingga tokoh agama kepercayaan.

"Memelihara keberagaman dan perbedaan dengan saling melindungi berbagai agama dankeyakinan yang ada di Indonesia. Secara tulus dan sungguh-sungguh. Semoga Tuhan yang Maha kuasa meridhoi dan melindungi kita semua," demikian ikrar sembilan tokojh lintas agama tersebut.

Presiden Ingatkan Pesan Gus Dur pada Cagub DKI Jakarta

Peringatan Haul ke-7 Gus Dur dihadirioleh sejumlah pimpinan lembaga negara, tokoh masyarakat, pemuka agama, para kyai, para ulama hingga para santri. Termasuk juga, tiga pasang calon Gubernur DKI Jakarta yang siap berkompetisi dalam Pilkada DKI 2017. Ketiga cagub dan cawagub yang hadir adalah Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, serta Anies Baswedan.

Presiden Joko Widodo mengapresiasi solidaritas dan kerukunan yang ditunjukkan oleh ketiga pasangan calon Gubernur DKI Jakarta. "Nih, sekarang hadir disini tiga calon pasangan calon Gubernur DKI hadir semuanya. Diabsen dulu, katanya tadi yang di sana minta di absen. Silahkan berdiri semuanya. Lha mbok ya begitu yang rukun, wong kita ini kan saudara, saudara sebangsa dan setanah air. Persaudaraan itu yang diajarkan oleh Gus Dur," kelakarnya.

Kyai Haji Abdurrahman Wahid atau Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur 7 September 1940 dan meninggal di Jakarta 30 Desember 2009 di usia 69 tahun. Cucu dari K.H. Hasyim Asyari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini, adalah tokoh muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001. [aw/gp]

XS
SM
MD
LG