Tautan-tautan Akses

Perguruan Tinggi Cegah NII di Kampus

  • Fathiyah Wardah

Para anggota FPI di Jakarta menonton layar lebar dalam acara doa bersama bagi Osama bin Laden (4/5). Perguruan Tinggi di Indonesia tengah berusaha menyiapkan tip bagi mahasiswanya untuk terhindar dari NII atau dari aliran radikal lainnya.

Para anggota FPI di Jakarta menonton layar lebar dalam acara doa bersama bagi Osama bin Laden (4/5). Perguruan Tinggi di Indonesia tengah berusaha menyiapkan tip bagi mahasiswanya untuk terhindar dari NII atau dari aliran radikal lainnya.

Perguruan tinggi seperti UGM menyediakan tim rehabilitasi untuk membantu korban yang diduga sudah dicuci otaknya agar kembali dapat beraktivitas di kampus.

Berbagai Perguruan Tinggi di sejumlah daerah termasuk Jakarta, tengah melakukan berbagai upaya mencegah mahasiswanya terbujuk ajakan bergabung oleh kelompok yang diduga sebagai Negara Islam Indonesia (NII). Direktur Kemahasiswaan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Haryanto menjelaskan dalam dua tahun terakhir sedikitnya sepuluh orang mahasiswanya menjadi korban perekrutan organisasi yang diduga NII.

Untuk itu, saat ini UGM melakukan antisipasi masuknya NII di kampus dengan menyebarkan buku saku berisi petunjuk pada mahasiswa tentang bagaimana kelompok ini beroperasi.

Selain itu, UGM kata Haryanto juga menyediakan tim rehabilitasi untuk membantu korban yang diduga sudah dicuci otaknya agar kembali dapat beraktivitas di kampus.
"Termasuk salah satunya adalah tip untuk terhindar dari NII atau dari aliran radikal lainnya," ujar Haryanto.

Model antisipasi lain yang disiapkan adalah sistem asrama bagi seluruh mahasiswa baru yang dididuga menjadi sasaran utama bujukan. Sistem ini telah diterapkan oleh Institut Pertanian Bogor.

Kampus lain seperti Universitas Brawijaya, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) serta Institute Teknologi Bandung dilaporkan telah menjadi sasaran rekrutmen kelompok NII. Di Malang, Universitas Muhammadiyah dan Universitas Brawijaya membenarkan sedikitnya 10 mahasiswa mereka mengalami cuci otak tahun ini.

Berbagai strategi mencegah masuknya NII ke kampus juga dilakukan oleh pihak kampus mereka.

Rektor Universitas Paramadina, Jakarta, Anies Baswedan mengatakan meskipun mahasiswa Paramadina belum ada yang menjadi korban pencucian otak kelompok NII, tetapi pihaknya tetap meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah hal tersebut.

Anies Baswedan menjelaskan, "Dari sisi kegiatan kita mengantisipasi. Kampus Paramadina kita tahu kegiatan-kegiatannya. Nah dari situ kita bisa deteksi awal."

NII Crisis Center, sebuah lembaga yang didirikan sebagai respon atas maraknya kasus rekrutmen dan cuci otak menyatakan dalam kurun tiga tahun terakhir sekitar 1.000-an orang dilaporkan hilang yang diduga kuat terkait operasi semacam ini.

Staf Ahli Kapolri, Irjen Badrotin Haiti mengungkapkan kepolisian belum bisa menindak orang-orang yang diduga terlibat dalam jaringan Negara Islam Indonesia, karena sejauh ini belum bisa mendapatkan bukti pelanggaran pidana yang mereka lakukan.

Badrotin Haiti mengatakan, "Datang ibu-ibu kalau tidak salah (sekitar) sepuluh orang mengatakan anaknya diculik kemudian setelah itu kita temukan. Mereka mengadu juga bahwa mereka mengambil uang dan perhiasan orangtuanya. Setelah melakukan pemeriksaan
ternyata anak ini (bilang): nggak pak saya tidak diculik, (maka pengaduan orangtuanya) itu sudah gagal."

Dalam beberapa waktu terakhir marak pemberitaan tentang sejumlah anggota masyarakat yang diduga ditipu, diculik, atau direkrut oleh jaringan NII. Belakangan para korban mengaku direkrut jaringan NII. Dari pengakuan para korban ini, kasus NII kemudian menjadi perbincangan, apalagi salah seorang tersangka dalam kasus bom buku diketahui pernah menjadi anggota NII.

XS
SM
MD
LG