Tautan-tautan Akses

Peretas Diduga Bocorkan Data 50 Juta Warga Turki


Para peretas mengatakan "menggunakan ‘password’ yang sulit untuk user interface hampir tidak ada artinya untuk keamanan”.

Para peretas mengatakan "menggunakan ‘password’ yang sulit untuk user interface hampir tidak ada artinya untuk keamanan”.

Data tersebut khususnya menekankan data pribadi Presiden Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Ahmet Davutoglu.

Peretas komputer dilaporkan telah membocorkan data daring yang katanya memuat informasi pribadi hampir 50 juta warga Turki.

Informasi itu termasuk nama, nomor KTP, alamat, tanggal lahir dan nama orangtua. Data tersebut khususnya menekankan data pribadi Presiden Recep Tayyip Erdogan dan Perdana Menteri Ahmet Davutoglu.

Kantor berita Associated Press mengecek sebagian informasi itu dengan membandingkan 10 nomor KTP non publik dengan informasi yang termuat dalam data tersebut. Delapan nomor KTP cocok.

Peretas memasang pesan ketika membocorkan data itu, yaitu “Siapa yang mengira ideologi terbelakang, kronisme dan maraknya ekstremisme keagamaan di Turki akan mengarah pada runtuh dan rentannya infrastruktur teknis?”.

Peretas juga menyampaikan "pelajaran" bagi Turki mengenai keamanan internet, termasuk “pergantian bit bukanlah enkripsi” dan “menggunakan ‘password’ yang sulit untuk user interface hampir tidak ada artinya untuk keamanan”.

Basis data tersebut kelihatannya menggunakan server-server di Rumania.

Jika peretasan itu diverifikasi sebagai otentik, hal itu akan menjadi kebocoran informasi publik terbesar dan akan membuat banyak populasi Turki rentan terhadap pencurian identitas.

Tahun lalu, pemerintah AS mengatakan para peretas mendapat akses ke informasi pribadi lebih dari 20 juta pegawai federal. Para pejabat AS telah menyalahkan suatu operasi mata-mata China untuk pelanggaran data tersebut.​ [my/al]

XS
SM
MD
LG