Tautan-tautan Akses

Fokus Kunjungan Obama ke Thailand untuk Pererat Hubungan Diplomatik

  • Dan Robinson

Dalam pembicaraan dengan Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra, Presiden Amerika President Barack Obama menegaskan lagi hubungan politik, ekonomi, dan keamanan yang erat antara kedua negara (foto, 18/11/2012)..

Dalam pembicaraan dengan Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra, Presiden Amerika President Barack Obama menegaskan lagi hubungan politik, ekonomi, dan keamanan yang erat antara kedua negara (foto, 18/11/2012)..

Di Bangkok, Presiden Barack Obama dan Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra menegaskan lagi hubungan erat antara Amerika dan Thailand.

Setelah kunjungan ke vihara kerajaan dan lambang agama serta budaya Buddha di Thailand, Presiden Obama dan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton berkunjung ke rumah sakit di Bangkok untuk menjenguk Raja Thailand Bhumibol Adulyadej.

Pada usia 85 tahun, raja Thailand itu masih merupakan tokoh pemersatu yang berpengaruh bagi rakyat Thailand yang berpuluh-puluh tahun mengalami pergolakan politik, termasuk kedeta-kudeta militer dan krisis politik tahun 2010.

Setelah pembicaraan bilateral, Presiden Obama dan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra mengadakan konferensi pers untuk menjelaskan hubungan diplomatik yang telah mencapai hampir 180 tahun, dan menegaskan lagi hubungan politik, ekonomi, dan keamanan yang erat.

Seperti di Amerika, Presiden Obama mengatakan, demokrasi adalah hal yang membutuhkan upaya berkesinambungan.
“Apa yang kita lihat di Thailand ini adalah perdana menteri yang terpilih secara demokratis, yang berpegang teguh kepada demokrasi, aturan hukum, kebebasan berbicara, media, dan berkumpul. Namun, apa yang jelas tepat di Thailand, seperti halnya tepat di Amerika, adalah semua warga tetap waspada dan perbaikan selalu dilakukan,” ujar Presiden Obama.

Perdana Menteri Thailand mengatakan pemerintahnya berpegang teguh pada perdamaian nasional dan demokrasi yang stabil.

“Tujuan Thailand adalah stabilitas dan demokrasi, karena kami yakin itu akan menjadi dasar bagi pertumbuhan ekonomi pada masa mendatang. Jadi, tujuan yang selaras dengan visi itu adalah perdamaian nasional,” tegas Perdana Menteri Shinawatra.

Presiden Obama yang bertolak ke Burma Senin pagi merupakan presiden Amerika pertama yang berkunjung ke negara itu yang baru saja memulai jalan panjang dan sulit reformasi politik dan ekonomui.

Meninjau pesannya kepada Burma, Presiden Obama mengatakan, ia akan mengucapkan selamat kepada rakyat Burma atas kemajuan yang dicapai, tetapi menggarisbawahi jalan masih panjang untuk melakukan reformasi.

“Apa yang akan mereka dengar dari saya adalah kami akan mengucapkan selamat kepada mereka karena telah membuka pintu bagi penghormatan terhadap HAM, kebebasan politik, dan mengatakan akan teguh membentuk pemerintahan yang lebih demokratis. Tetapi mereka juga akan mendengar bahwa mereka masih harus melalui jalan panjang,” kata Presiden Obama lagi.

Presiden Obama mengatakan Amerika “menyesuaikan kebijakan dan tanggapannya” dan akan menanggapi apabila melihat “Burma melenceng” dalam proses reformasi itu.
Di Burma, Presiden Obama akan bertemu Presiden Thein Sein, yang secara berhati-hati melaksanakan proses reformasi itu.

Presiden Obama akan mengunjungi kediaman tokoh demokrasi dan anggota parlemen Aung San Suu Kyi, yang bertahun-tahun menjadi tahanan rumah di tangan pemerintahan militer. Keduanya bertemu di Gedung Putih September lalu.
XS
SM
MD
LG