Tautan-tautan Akses

Perempuan Togo Rencanakan 'Mogok Seks' untuk Gulingkan Presiden


Isabelle Ameganvi, salah seorang pimpinan kelompok aktivis perempuan Togo mengimbau kaum perempuan melakukan aksi mogok seks untuk menggulingkan Presiden Faure Gnassingbé.

Isabelle Ameganvi, salah seorang pimpinan kelompok aktivis perempuan Togo mengimbau kaum perempuan melakukan aksi mogok seks untuk menggulingkan Presiden Faure Gnassingbé.

Kaum perempuan Togo merencanakan aksi mogok seks terhadap para suami mereka pekan ini untuk mendorong kaum lelaki agar bertindak menentang Presiden Faure Gnassingbé.

Kaum perempuan dalam kelompok HAM, “Mari Selamatkan Togo” merencanakan aksi mogok seks pekan ini untuk menuntut pengunduran diri Presiden Faure Gnassingbé. Dengan melakukan aksi mogok seks terhadap suami mereka, mereka berharap bisa mendorong kaum laki-laki Togo untuk bertindak menentang Presiden Gnassingbé. Gerakan itu mengangkat masalah mengenai masa depan persamaan perempuan di Afrika.

Pada rapat akbar akhir pekan lalu, Jean-Pierre Fabre, ketua partai oposisi, Aliansi Nasional bagi Perubahan, menyerukan pengunduran diri Presiden Gnassingbé yang berkuasa sejak tahun 2005, segera setelah kematian ayahnya, yang berkuasa selama 38 tahun. Kelompok oposisi itu menyatakan bahwa keluarga itu harus melepaskan kekuasaan setelah berkuasa lebih dari empat dekade.

Meskipun kata-kata Fabre itu, aksi mogok seks menentang Presiden Gnassingbé adalah yang paling banyak dibicarakan warga. Berbagai artikel berita ditulis mengenai topik itu selama pekan lalu.

Aksi mogok seks telah digunakan sebelumnya untuk mencapai tujuan-tujuan politis. Aksi itu dulu digunakan pada masa Yunani kuno. Dalam drama berjudul “Lysistrata,” perempuan-perempuan Athena memutuskan berhenti melakukan hubungan seks dengan suami mereka sampai mereka bisa mengakhiri Perang Peloponesia.

Masalahnya adalah, apakah cara ini ampuh?

Para aktivis pro-demokrasi Togo mengatakan bahwa aksi mogok seks di Liberia-lah yang membuat mereka bersikap optimistik.

Tahun 2003, warga Liberia telah mengalami perang saudara sengit selama 14 tahun yang mencabik-cabik negara itu. Para pemimpin Aksi Massa Perempuan Liberia bagi Perdamaian mengorganisir serangkaian tindakan non-kekerasan, termasuk aksi mogok seks, menuntut diakhirinya perang. Pimpinan kelompok itu, Leymah Gbowe, kemudian memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian, bersama Ellen Johnson-Sirleaf, perempuan Liberia lainnya yang membuat pencapaian bersejarah.

Yaliwe Clarke, dosen kajian gender pada Universitas Cape Town di Afrika Selatan, mengatakan, “Menurut saya jika cara ini berhasil dilakukan perempuan di bagian Afrika lainya, maka cara sama mengilhami mereka seperti di Liberia, yaitu cara damai yang digunakan massa, metode yang digunakan kaum perempuan di Liberia untuk mencapai perdamaian. Aksi-aksi itu banyak ditulis, difilmkan, sehingga sekarang kita tahu kaum perempuan Afrika bisa mengatakan, ‘kami juga bisa melakukannya.”

Mungkin Liberia-lah yang memulai bagaimana aksi mogok seks dan upaya lain yang dilakukan perempuan di Afrika bisa memberikan hasil positif.

Tahun 2005, ketika warga Liberia melakukan pemilu, mayoritas warga memilih Ellen Johnson-Sirleaf, perempuan pertama yang terpilih menjadi presiden dalam sejarah Afrika.

Mengenai Togo, masih harus dilihat apakah upaya mereka untuk menggulingkan Presiden Gnassingbé berhasil.
XS
SM
MD
LG