Tautan-tautan Akses

Perempuan-perempuan Pendobrak Politik AS Sebelum Clinton


Kandidat presiden Partai Demokrat, Hillary Clinton, tiba dalam acara kampanye di New York (7/6).

Kandidat presiden Partai Demokrat, Hillary Clinton, tiba dalam acara kampanye di New York (7/6).

Jalan menuju Gedung Putih untuk perempuan telah dirintis oleh pendahulu Clinton sejak tahun 1872.

Dengan meraih nominasi kepresidenan Partai Demokrat, Hillary Clinton telah bergabung dengan sebuah klub prestisius perempuan yang membuat sejarah dalam upaya mereka masuk dalam kekuatan politik di Amerika.

"Satu-satunya benang merah yang menyambungkan mereka adalah keinginan untuk melawan arus, karena para perempuan yang telah mencoba menjadi presiden cukup beragam," ujar akademisi feminis ​Jo Freeman, penulis sejumlah buku, diantaranya "We Will Be Heard:Women's Struggles for Political Power in the United States (Kita akan Didengar: Perjuangan Perempuan untuk Kekuatan Politik di Amerika Serikat)."

Clinton menikmati momen bersejarah sebagai perempuan pertama yang menjadi calon presiden, dengan mengatakan, "Kita semua berutang pada mereka yang telah (merintis jalan), dan malam ini adalah milik anda semua."

Para pendukung calon presiden Hillary Clinton dalam kampanye di New York (7/6).

Para pendukung calon presiden Hillary Clinton dalam kampanye di New York (7/6).

Perempuan pertama yang merintis jalan adalah Victoria Woodhull, yang pada tahun 1872 menunjukkan kekuatan dirinya dengan menjadi kandidat untuk Gedung Putih dari ​Partai Persamaan Hak. Upayanya, yang pertama oleh seorang perempuan di Amerika, muncul bahkan sebelum perempuan memiliki hak untuk memilih berdasarkan Konstitusi AS tahun 1920.

Woodhull menghadapi banyak serangan karena membuat sejarah, ujar Erin Blakemore, wartawan lepas yang ​mencatat dan melaporkan sepak terjang perempuan Amerika dalam politik untuk banyak penerbitan.

"Jelas Clinton menghadapi serangan-serangan semacam yang dihadapi perempuan-perempuan seperti Victoria Woodhull, yang kehidupan seksnya terus menerus disebutkan dan dianggap, pada saat itu, sebagai "harga yang harus dibaya" untuk kampanyenya yang gagal."

Setelah Woodhull, ada beberapa upaya lain, namun baru pada 1964, menurut Freeman, kandidat perempuan mengguncang politik kepresidenan Amerika.

Senator Margaret Chase Smith menelepon teman-temannya dari rumahnya di Skohegan, Maine, 21 Juni 1954.

Senator Margaret Chase Smith menelepon teman-temannya dari rumahnya di Skohegan, Maine, 21 Juni 1954.

"Pendobrak pertama adalah Margaret Chase Smith, 1964. Ia mencalonkan diri untuk menjadi presiden dari Partai Republik," ujar Freeman.

"Ia merupakan anggota Senat AS yang dihormati, ia bukan orang yang radikal," katanya, dengan menambahkan bahwa tidak ada lagi perempuan yang mencoba mencalonkan diri menjadi presiden sejak abad 19.

Tahun 1964, tiket Republik menjadi milik Barry Goldwater.

Namun Mary Chase Smith tahu ia tidak akan menang melawan Goldwater. Ia bersikap praktis.

"Ia mencalonkan diri untuk memunculkan isu-isu mengenai perempuan, hal-hal lain yang menjadi keprihatinannya. Ia betul-betul tidak berharap mendapatkan nominasi. Ia ingin sarana (berkampanye), dan ia mendapatkannya," ujar Freeman.

Kurang dari 10 tahun kemudian, upaya berani ditorehkan lagi. Ada dua terobosan yang dibuat Shirley Chisholm pada 1972, karena ia bukan hanya perempuan, tapi berkulit hitam.

"Terkadang saya sendiri sulit mempercayai saya bisa sampai titik ini," ujar ​ Chisholm tahun 1972. Ia sudah membuat sejarah dengan terpilih menjadi perempuan Afrika Amerika pertama yang menjadi anggota Kongres empat tahun sebelumnya.

Retorika yang diarahkan untuk Chisholm "mengerikan," ujar Blakemore, yang baru saja menulis mengenai serangan terhadapnya dalam majalah ​Time.

Blakemore menulis:

"Sebuah tulisan dari Andrew Tully menyebutkan bahwa "Saya khawatir kita terjebak dalam era dimana perempuan ikut campur dalam proses elektoral." Selain itu, tulisnya, Chisholm "tidak punya peluang ke puncak, tentu saja."

"Ia sebetulnya mencatat prestasi lebih baik dibandingkan Mary Chase Smith, namun ia mencalonkan diri setelah gerakan perempuan mulai pada saat dimana ada kesadaran mengenai perempuan dan kulit hitam," ujar Freeman.

"Saya datang ke konvensi 72," tambah Freeman. "Dengan mencalonkan diri menjadi presiden dan mendapatkan banyak peliputan, ia telah membuat retakan besar di langit-langit kaca."

Hillary menyebutkan langit-langit kaca, istilah untuk hambatan bagi perempuan untuk maju, minggu lalu pada Selasa malam, saat ia resmi menjadi kandidat Demokrat.

"Kampanye ini adalah untuk memastikan tidak ada langit-langit, tidak ada batasan untuk kita semua." [hd]

XS
SM
MD
LG