Tautan-tautan Akses

Perempuan Pakistan Berkeras Ikut Pemilu Meski Ada Ancaman

  • Sharon Behn

Perempuan pendukung mantan bintang cricket yang menjadi politisi, Imran Khan, dalam sebuah kampanye di Islamabad (9/5).

Perempuan pendukung mantan bintang cricket yang menjadi politisi, Imran Khan, dalam sebuah kampanye di Islamabad (9/5).

Di tengah serangan-serangan dan ancaman terkait pemilu, perempuan-perempuan di Baluchistan, Pakistan, bersikeras membuat suaranya didengar.

Meski sekitar setengah dari penduduk Pakistan adalah perempuan, di provinsi barat daya Baluchistan, suara mereka dalam pemilihan umum nasional sangat kecil.

Berkomitmen untuk membuat perbedaan dalam pemilihan majelis nasional yang baru mendatang, beberapa perempuan mengatakan mereka bersikeras untuk membuat suaranya didengar pada 11 Mei.

Di provinsi yang rentan konflik dan konservatif itu, kandidat politik Ruqqaya Hashmi mengatakan bahwa ia adalah panutan. Sebagai perempuan dan anggota minoritas Syiah Hazara yang ditarget, ia mengatakan kampanyenya berisiko.

"Saya telah menerima ancaman-ancaman dalam beberapa hari terakhir," ujarnya, namun enggan menjelaskan siapa yang membuat ancaman tersebut.

"Pergerakan saya sekarang terbatas. Saya harus menyamar untuk datang ke sini. Saya mengubah pakaian saya, mengganti supir saya, mengganti mobil saya."

Serangan dan ancaman terkait pemilu telah membuat beberapa pemilih perempuan seperti Humaira Yasmeen gentar pergi ke tempat pemungutan suara.

"Melihat situasi di sini, perempuan tidak dapat bergerak secara bebas. Pergi keluar rumah adalah persoalan," ujarnya.

"Akan sulit bagi perempuan memberikan suaranya karena kondisinya tidak aman. Apa yang harus kita lakukan? Ini berisiko dan mengancam nyawa. Dan tidak ada yang lebih penting daripada nyawa."

Tantangan lain, ujar Farah Naz, seorang pekerja lembaga swadaya masyarakat, adalah membuat perempuan memilih secara otonom.

"Masalah terbesar di antara perempuan adalah mereka tidak diajarkan untuk memberikan suara, mereka tergantung pada laki-laki," ujarnya. "Mereka melakukan persis seperti yang dikatakan suami mereka. Mereka seharusnya memberikan suara secara independen."

Karena kampanye yang diganggu kekerasan, para kandidat menjangkau pemilih perempuan lewat iklan televisi dan radio, bukannya dengan kampanye di lapangan.

Para mahasiswi di Quetta seperti Kanza Shakeel, yang mengatakan muak dengan ketidakamanan dan pengangguran, terlihat bersikukuh membuat suara mereka terdengar.

"Saya tidak mau pemimpin-pemimpin tua terpilih kembali," ujarnya. "Saya mau perubahan, orang-orang baru, bukan orang-orang lama yang mempromosikan diri lewat iklan berbayar. Saya benci mereka."
XS
SM
MD
LG