Tautan-tautan Akses

Perempuan Mesir Rayakan Setahun Pemberontakan Rakyat

  • Noel King

Para perempuan Mesir ikut memadati Lapangan Tahrir dalam perayaan setahun tergulingnya Hosni Mubarak, Rabu (25/1).

Para perempuan Mesir ikut memadati Lapangan Tahrir dalam perayaan setahun tergulingnya Hosni Mubarak, Rabu (25/1).

Perempuan Mesir yang dalam puluhan tahun berada di bawah kekuasaan otokratis turut menjadi bagian dari puluhan ribu orang yang memadati Lapangan Tahrir Kairo, hari Rabu, untuk memperingati setahun pemberontakan rakyat yang menggulingkan Presiden Husni Mubarak.

Menjelang sore, Lapangan Tahrir dipadati oleh perempuan Mesir dari berbagai usia dan latar belakang. Anak-anak berdiri berdampingan dengan orang tua serta kakek dan nenek mereka ditengah puluhan ribu masa yang melambai-lambaikan bendera Mesir.

Israa yang berusia 17 tahun mengatakan pada VOA dia turun ke Lapangan Tahrir pada hari-hari awal protes itu. Setahun kemudian, perempuan muda itu senang melihat perkembangan Mesir.

Israa adalah pendukung Partai Kebebasan dan Keadilan yang didukung Ihkwanul Muslimin, yang menang dalam pemilu Majelis Rendah parlemen baru-baru ini. Partai itu mendapat 47% suara. Ia mengatakan, "Dia mengatakan segala sesuatunya lebih baik saat ini bagi perempuan, karena mereka memiliki kesempatan lebih untuk berperan dalam masyarakat, politik dan budaya."

Sebagian perempuan harus menempuh perjalanan beberapa jam untuk hadir disana.

Mona Mohammed berasal dari Mesir Selatan dan mengatakan apa yang membuatnya terkesan adalah warga Mesir tampaknya sangat kompak. “Kita berdiri bersama sebagai satu bangsa. Kita memperjuangkan hak bersama-sebagai warga Mesir," ujar Mona.

Tetapi sebagian perempuan mengatakan reformasi itu belum membawa banyak perubahan.

Sepanjang pagi, ada beberapa pidato dari ibu-ibu para martir, yang anaknya tewas dalam pemberontakan anti pemerintah tahun lalu.

Mereka mengatakan tidak banyak yang berubah dibawah kekuasaan militer sejak Mantan Presiden Mubarak digulingkan. Mereka menuduh dewan militer menggunakan taktik-taktik represif dan kekerasan seperti halnya pada masa kekuasaan Mubarak.

Akhir Desember lalu, video yang menunjukkan seorang demonstran perempuan dipukuli, di kejar dan ditelanjangi oleh tentara berpakaian hitam dalam bentrokan antara aktivis pro-demokrasi dan pasukan keamanan Mesir. Salah satu video yang mengejutkan adalah ketika tentara melucuti jilbab dan menendang perut seorang perempuan.

Sejak saat itu, ribuan perempuan turun ke jalan-jalan Kairo menuntut diakhirinya kekerasan terhadap perempuan.

XS
SM
MD
LG