Tautan-tautan Akses

Usia Bukan Halangan: Perempuan Lanjut Usia di India Bersekolah untuk Pertama Kalinya


Para perempuan lanjut usia mengikut kelas di Aajibaichi Shaala (Sekolah Nenek) di desa Phangane, India (15/2). (Reuters/Danish Siddiqui)

Mereka mengenakan seragam sekolah dan masing-masing membawa sebuah tas jinjing yang berisi papan tulis kecil dan kapur tulis. Di dalam ruangan sekolah mereka dengan antusias belajar membaca alfabet. Tapi mereka bukan anak-anak kecil, melainkan nenek-nenek warga India yang berumur antara 60 sampai 90 tahun.

Perempuan-perempuan itu tidak sempat belajar menulis dan membaca ketika masih muda, karena pendidikan hanya diutamakan bagi anak laki-laki.

Tapi kini, perempuan-perempuan itu, kebanyakan sudah menjadi janda, bisa meraih cita-cita mereka sejak kecil untuk melek huruf.

“Saya tidak pernah sekolah ketika masih kecil, tapi kini saya senang bisa belajar bersama kawan-kawan saya,” kata Gulab Kedar, 62, sambil tersenyum lebar. Ia dan kawan-kawan sekelasnya mengenakan pakaian sari berwarna merah jambu.

Sekolah untuk nenek-nenek itu Rabu (8/3) ini memperingati ulang tahunnya yang pertama, bersamaan dengan Hari Perempuan Internasional.

Setiap hari, ke-29 perempuan itu berjalan kaki dari rumah mereka di desa Phangane, di distrik Maharashtra, India ke sekolah untuk perempuan lanjut usia yang tidak jauh dari sana.

Cucu-cucu mereka ikut mengantarkan ke sekolah. Dari jam dua siang sampai jam empat mereka duduk bersila di lantai kelas yang dialas dengan tikar bambu. Guru mereka, Sheetal More yang berusia 30 tahun, mengajar mereka membaca dan berlatih menulis nama mereka dengan kapur di atas papan tulis kecil. Mereka juga belajar ilmu hitung sederhana.

Para perempuan meninggalkan Aajibaichi Shaala (Sekolah Nenek) di desa Phangen, India (20/2).

Para perempuan meninggalkan Aajibaichi Shaala (Sekolah Nenek) di desa Phangen, India (20/2).

Perempuan-perempuan itu punya cerita yang hampir sama. Ketika masih kecil sampai gadis mereka tinggal di rumah membantu ibu-ibu mereka mengurus keluarga, sementara saudara laki-laki mereka pergi ke sekolah. Setelah menikah, mereka harus mengurus rumah dan keluarga masing-masing, sehingga tidak pernah ada kesempatan untuk belajar menulis dan membaca.

Meskipun usia legal untuk menikah bagi perempuan di India adalah 18 tahun, hampir setengah perempuan di sana menikah lebih muda bahkan sampai sekarang, menurut badan PBB untuk anak-anak, UNICEF.

India memberlakukan Undang-Undang Hak Atas Pendidikan pada 2009, memberikan anak-anak dari keluarga miskin dan tidak beruntung lainnya hak atas pendidikan wajib yang gratis sampai usia 14.

Perdana Menteri Narendra Modi telah memprioritaskan pendidikan untuk anak perempuan dalam kampanye yang diluncurkan pada 2015 yang berjudul: 'Beti bachao, beti padhao' (Selamatkan Anak Perempuan, Edukasi Anak Perempuan).

Anusuya Kokedar, 65, mengatakan ia tidak bersekolah saat masih kecil.

"Senang rasanya duduk dengan perempuan-perempuan lanjut usi lainnya di desa ini dan belajar. Saya bisa menulis tanda tangan sekarang, dan membaca serta menulis sedikit. Rasanya menyenangkan." [isa/hd]

XS
SM
MD
LG