Tautan-tautan Akses

Perempuan Jihadis Gunakan Twitter untuk Promosikan ISIS

  • Matt Hilburn

Seseorang dengan akun @_UmmWaqqas memasang foto ini di Twitter, dan menyebut teman-temannya @UmmLayth_, Umm Haritha dan Umm Ubaydiah.

Seseorang dengan akun @_UmmWaqqas memasang foto ini di Twitter, dan menyebut teman-temannya @UmmLayth_, Umm Haritha dan Umm Ubaydiah.

Jaringan Umm membantu ISIS merekrut anggota, menyebarkan gambar dan video untuk calon jihadis dan mempromosikan pesan-pesan kelompok militan itu.

Gambar-gambar kucing dan sepatu perancang diunggah di Twitter, di samping retorika-retorika ekstremis, menggambarkan "kehidupan indah" di Suriah, dan gambar-gambar medan perang yang mengerikan.

Selamat datang ke "Jaringan Umm", beranggotakan lebih dari 100 orang yang mengklaim sebagai jihadis perempuan asing di Twitter.

Umm adalah panggilan terhormat dalam Bahasa Arab, dipaka untuk perempuan sebagai figur ibu.

Seperti juga dengan kelompok militan Negara Islam (ISIS), Twitter ternyata merupakan alat media sosial favorit dari jaringan Umm, menurut para analis yang memantau aktivitas media sosial jihadis.

Media sosial ini digunakan untuk berbagai cara, termasuk merekrut perempuan dan laki-laki, menyebarkan gambar dan video untuk para calon jihadis, dan mempromosikan pesan-pesan ISIS.

Salah satu dari anggota yang paling dikenal dari jaringan Umm adalah @UmmLayth - alias Aqsa Mahmood, yang mengidentifikasi diri sebagai remaja Skotlandia keturunan Muslim yang meninggalkan rumahnya ke Suriah, tempat ia diyakini telah menikahi seorang militan. Ia tidak lagi menulis di Twitter, namun pihak berwenang memperkirakan ia ditarik ke Suriah lewat jejaring Internet.

Meski jumlah jihadis perempuan Eropa mungkin hanya 30 orang, menurut Pusat Internasional untuk Studi Radikalisasi di London, ada kekhawatiran bahwa peringkat mereka dapat naik.

Di Perancis, sebuah salurang untuk melaporkan radikalisasi melaporkan bahwa 45 persen panggilan menyangkut perempuan. Baru-baru ini, seorang perempuan Perancis berusia 16 tahun ditahan di Perancis karena diduga sedang mencari jalan ke Suriah.

Erin Saltman dari Yayasan Quilliam di London, sebuah lembaga pemikiran kontra-terorisme, memperkirakan jumlah perempuan Barat yang bepergian ke Suriah mencapai 200 orang, dibandingkan 3.000 untuk pria.

Para pejabat Barat telah menunjukkan kekhawatiran bahwa para pejuang jihadis Barat yang kembali dari Suriah dan Irak dapat meluncurkan serangan teroris di negara asal mereka.

Kebutuhan akan Perempuan

Militan-militan ISIS ingin membentuk masyarakat Islam yang berfungsi penuh versi mereka, atau kekhalifahan, dan untuk mencapainya, mereka perlu perempuan sebagai istri dan ibu.

Abu Bakr al-Baghdadi, khalifah ISIS, telah menyerukan baik laki-laki maupun perempuan untuk bergabung dalam proses pembangunan negara.

"Dengan adanya aliran laki-laki, perempuan dibutuhkan untuk melayani sebagai istri," ujar analis Saltman.

"Akun-akun media dari istri-istri jihadis itu digunakan untuk menyebarkan propaganda ISIS, mendorong perempuan-perempuan lain untuk bergabung dan menggambarkan kehidupan seorang perempuan jihadis untuk meyakinkan dan memberikan ide mengenai kehidupan seperti apa yang akan dijalani mereka.

"Perempuan lebih mungkin merekrut sesama perempuan untuk bergabung dengan ISIS, yang merupakan tujuan utama sebagian besar akun-akun media sosial perempuan," ujar Saltman.

Seorang perempuan Amerika berusia 19 tahun, Shannon Maureen Conley, ditahan pada April oleh FBI saat akan menuju Suriah untuk bergabung dengan para militan ISIS. Pada Rabu allu, ia mengaku bersalah atas tuduhan teror.

Menurut mereka yang memantau upaya-upaya perekrutan ISIS, kelompok ini menyasar perempuan sama besarnya dengan laki-laki, mengidentifikasi mereka yang mungkin kehilangan arah atau mencari rasa kepemilikan.

"Konten-konten akun Umm ingin membuat ekstremisme terlihat seperti keputusan gaya hidup normal," tulis Jytte Klausen, profesor dari Brandeis University di Massachussetts, AS, dan pendiri Proyek Jihadisme Barat, yang fokus terhadap aktivitas-aktivitas jihadi di Barat.

“Contohnya adalah mengunggah foto-foto dengan anak-anak mereka, yang memakai pakaian ISIS, sama halnya seperti penggemar Manchester United memakaikan baju klub bola itu kepada anak-anak mereka sebagai lucu-lucuan."

Target-target lain adalah para Muslim yang merasa tidak puas.

Mia Bloom, penulis beberapa buku mengenai perempuan dan terorisme, mengatakan beberapa Umm menggambarkan masyarakat utopis dimana perempuan dapat hidup selayaknya Muslim.

Para perekrut ISIS juga memanfaatkan calon target yang kurang memiliki kemampuan Bahasa Arab.

"Anda dapat memanipulasi Quran sesuka hati," ujar Bloom. "Dan mereka tidak akan dapat mempertanyakannya karena mereka mungkin tidak paham betul agama atau bahasa tersebut."

Bloom menambahkan bahwa saat sudah direkrut, "mereka akan berguna merekrut orang lain dari komunitas asal yang sama."

Humera Khan dari kelompok aktivis sosial Muflehun di Washington DC, yang bekerja untuk melawan ekstremisme yang menggunakan kekerasan, mengatakan jaringan Umm memberikan para jihadis perempuan asing rasa "persaudaraan sesama perempuan," sementara para pria bertempur.

Pentingnya peran perempuan dalam ISIS adalah mereka kelihatannya tidak dimanfaatkan dalam pengeboman bunuh diri, tidak seperti kelompok-kelompok ekstremis lainnya.

"Ketika merekrut, mereka mencari perempuan usia 18 sampai 25 tahun, atau usia puncak untuk memproduksi bayi," ujar Bloom.

"Jika ingin membangun kekhalifahan baru, diperlukan populasi. Untuk itulah mengapa mereka biasanya tidak aktif di medan perang."

Perempuan berusia semuda 14 tahun juga dilaporkan dijadikan target.

Untuk para perempuan yang suaminya terbunuh, ujar Khan, ada rumah komunal untuk para janda di Raqqah, yang diproklamirkan sebagai ibukota kekhalifahan ISIS.

Strategi Komunikasi ISIS

Akun-akun Umm kelihatannya merupakan bagian dari strategi ISIS yang lebih luas untuk menciptakan ketahanan dalam upaya-upaya komunikasi media sosial mereka, ujar Klausen.

"Ini bagian dari arsitektur keseluruhan pendistribusian pesan, yang mustahil diberantas oleh pemerintah-pemerintah," ujarnya.

"Hal ini adalah untuk menciptakan persepsi normalisasi dari sesuatu yang dianggap tidak normal."

Twitter telah menutup beberapa akun yang berkaitan dengan ISIS, namun sebuah laporan dari kelompok intelijen SITE, yang memantau gerakan jihadis global, mengatakan perusahaan media sosial itu perlu berbuat lebih banyak.

"Twitter harus beradaptasi terhadap situasi-situasi baru ini dan menjadi lebih proaktif dalam mencegah aktivitas semacam itu," menurut laporan tersebut.

"Twitter memiliki kemampuan untuk memantau dan menghapus akun-akun dengan skala lebih besar yang dimiliki sekarang. Sementara itu, meski saat ini sedang tidak aktif, para jihadis terus menambah dukungan, merekrut dan mempromosikan organisasi-organisasi teroris melalui layanan (Twitter)."

ISIS sendiri menyadari penutupan akun terkait kelompok militan itu oleh Twitter. Akun-akun lain yang terkait kelompok itu menulis ancaman-ancaman maut terhadap para pegawai Twitter.

Juru bicara Twitter mengatakan perusahaan itu tidak akan berkomentar mengenai akun-akun individual untuk alasan privasi dan keamanan.

Namun menutup akun-akun Twitter secara massal barangkali tidak berguna.

"Banyak akun-akun Twitter yang telah ditutup bermigrasi ke LinkedIn, ujar Bloom.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG