Tautan-tautan Akses

Perempuan Iran Ingin Peran Politik Lebih Besar

  • Jeff Seldin

Para pemimpin Iran membatasi gerak kaum perempuan dan mendorong domestifikasi mereka. Perempuan hanya dijadikan alat peraih suara. (Foto: Dok)

Para pemimpin Iran membatasi gerak kaum perempuan dan mendorong domestifikasi mereka. Perempuan hanya dijadikan alat peraih suara. (Foto: Dok)

Hampir separuh dari penduduk Iran yang berjumlah lebih dari 70 juta orang adalah perempuan namun mereka dilarang mencalonkan diri sebagai presiden.

Sewaktu rakyat Iran pergi ke tempat-tempat pemilihan suara pada 14 Juni mendatang, mereka akan dapat memilih seorang dari delapan kandidat presiden. Kesemuanya, kecuali satu orang, berumur lebih dari 50 tahun dan semuanya laki-laki. Dewan Garda Iran memutuskan bulan lalu, perempuan tidak bisa menjadi presiden, walaupun 30 perempuan berusaha ikut dalam persaingan tersebut.

Hal itu mencemaskan para aktivis hak-hak perempuan Iran, yang mengatakan, kaum ulama Iran di bawah Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei berusaha mengirim sebuah pesan yang keras.

"Mereka pikir perempuan Iran mesti tinggal di rumah dan lebih baik membatasi gerak kaum perempuan,” ujar aktivis kawakan dan pengacara Mehrangiz Kar.

Tetapi, beberapa kandidat tampak berusaha memenangkan suara kaum perempuan.

Sewaktu Mohammad Reza Aref, dosen umur 61 tahun yang merupakan tokoh reformasi terdepan dalam persaingan itu, mencalonkan diri, dia melakukannya dengan istrinya. Dengan cepat hal itu menimbulkan perbandingan seperti yang terjadi di Turki, di mana PM Recep Tayyip Erdogan yang berhaluan Islamis tampak berkampanye didampingi istrinya. Golongan garis keras Iran mengkritik penampilan suami-istri tersebut sebagai "kebarat-baratan."

Namun, beberapa calon konservatif juga melakukan kampanye dengan menyertakan istri-istri mereka, sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Presiden Mahmoud Ahmadinejad ketika dia mencalonkan diri dulu. Tetapi, beberapa analis mengemukakan, kemampuan perempuan mempengaruhi hasil pemilihan umum tak dapat dikesampingkan. Mereka menunjuk pemilu Mohammad Khatami tahun 1997, ketika dia mengulurkan tangan kepada kaum perempuan dan golongan minoritas.

Dalam pemilu presiden 2009, keempat kandidat yang bersaing, mengangkat isu-isu perempuan. Meskipun demikian, dambaan untuk berperan lebih besar di kalangan kaum perempuan, terus menggema. (VOA/Jeff Seldin dan Shepol Ebnabbasi)

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG