Tautan-tautan Akses

Perempuan Afrika Barat Berisiko Lebih Besar Terinfeksi Ebola


Petugas kesehatan membawa pasien perempuan yang diduga terjangkit virus Ebola ke dalam ambulans di Monrovia, Liberia (15/9). (Reuters/James Giahyue)

Petugas kesehatan membawa pasien perempuan yang diduga terjangkit virus Ebola ke dalam ambulans di Monrovia, Liberia (15/9). (Reuters/James Giahyue)

Peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat membuat mereka berisiko lebih besar terjangkit virus tersebut.

Lebih dari setengah kasus Ebola di Afrika Barat terdiri dari perempuan dewasa. Namun lembaga-lembaga bantuan mengatakan perempuan juga paling terimbas oleh penutupan perbatasan dan pembatasan perjalanan, karena mereka yang menjalankan sebagian besar perdagangan komersial antar-perbatasan.

Para aktivis mengatakan kebutuhan perempuan harus diperhatikan dalam upaya pihak berwenang menghentikan epidemi Ebola.

Badan PBB untuk Persamaan Gender dan Pemberdayaan Perempuan, dikenal sebagai U.N. Women, mengatakan perempuan dan anak perempuan mencakup lebih dari 55 persen dari kasus Ebola yang dilaporkan di negara-negara yang terdampak.

Di Liberia, sampai 75 persen dari korban jiwa Ebola adalah perempuan.

"Virus ini tidak menyasar perempuan, tapi ini adalah akibat dari peran-peran yang mereka mainkan," ujar Josephine Odera, direktur U.N. Women untuk wilayah Afrika Barat dan Pusat.

"Dalam keluarga, merekalah yang bertanggung jawab untuk merawat yang sakit. Dalam masyarakat tertentu, mereka juga yang bertanggung jawab memandikan dan mendandani jenazah," ujar Odera.

"Peran-peran tersebut membuat perempuan berisiko lebih besar atas paparan virus dan banyak dari mereka kemudian sekarat."

Perempuan juga lebih besar kemungkinan menjadi perawat dan yang bertugas mencuci pakaian di sektor kesehatan publik.

Penutupan perbatasan dan pembatasan perjalanan merupakan tantangan lain bagi perempuan. Di Liberia, misalnya, perempuan menjalankan sekitar 70 persen perdagangan antar perbatasan.

"Penutupan perbatasan mengundang lebih banyak bahaya bagi negara yang terimbas. Para perempuan berkontribusi terhadap sektor informal lebih dari pria," ujar Brahima Kaba, Duta Besar Liberia untuk Senegal.

"Jadi dalam kasus ini, kita mencegah perempuan mendapat penghasilan yang biasanya mereka dapat sehingga mereka bertambah miskin. Hal ini meningkatkan kemiskinan diantara perempuan dan keluarga mereka. Dampak ekonominya serius."

U.N. Women mengatakan produksi makanan juga terganggu karena perempuan adalah mayoritas dari petani kecil di Liberia.

"Jika pasar ditutup, itu adalah sumber penghasilan besar untuk perempuan. Saya tidak mengatakan bahwa pasar tidak seharusnya ditutup, tetapi ada langkah yang harus diambil untuk melakukan sanitasi dan edukasi sehingga beberapa perdagangan masih berlanjut dan perempuan tidak jatuh miskin."

Musu Tarnue, direktur eksekutif untuk LSM perempuan Liberia, Women in Action, mengatakan sudah waktunya membalikkan tren ini.

"Kami kira perempuan harus dipertimbangkan dalam perencanaan upaya melawan Ebola. Kami setiap hari khawatir. Sebagai organisasi perempuan, kami meminta pemerintah dan LSM-LSM untuk merancang program khusus untuk mengedukasi perempuan tentang ini," ujar Tarnue.

Tarnue menambahkan bahwa program tersebut akan menyasar perempuan dengan pesan-pesan mengenai gejala-gejala dan metode pencegahan Ebola, membantu perempuan mendapatkan akses yang aman terhadap pasar dan wilayah perdagangan, dan meningkatkan ekonomi kepala rumah tangga perempuan yang terimbas Ebola dengan rencana tabungan dan pinjaman serta akses terhadap kredit.

Ia mengatakan perempuan juga memerlukan akses yang lebih baik terhadap perlengkapan keamanan, seperti kacamata, sarung tangan dan masker yang digunakan saat merawat orang sakit.

XS
SM
MD
LG