Tautan-tautan Akses

Perempuan Afghanistan Serukan Perdamaian dan Perlindungan atas Hak Perempuan

  • Ayaz Gul

Perempuan Afghanistan turun ke jalan dalam sebuah demonstrasi memprotes kekerasan terhadap perempuan di Kabul Afghanistan (13/2).

Perempuan Afghanistan turun ke jalan dalam sebuah demonstrasi memprotes kekerasan terhadap perempuan di Kabul Afghanistan (13/2).

Perempuan-perempuan di Afghanistan berkampanye mengupayakan penghentian segera permusuhan dan mempertahankan kebebasan yang relatif mereka nikmati. Sebuah upaya sulit yang mendapat tantangan dari Taliban.

Perempuan-perempuan di Afghanistan yang lelah akan perang meluncurkan kampanye baru untuk mengupayakan penghentian segera permusuhan dan mempertahankan kebebasan yang mereka nikmati selama 10 tahun ini dalam masyarakat Afghanistan yang umumnya didominasi laki-laki konservatif.

Langkah tersebut diambil ditengah kecemasan yang meningkat bahwa Taliban akan berusaha merebut kekuasaan lagi setelah pasukan tempur NATO keluar dari negara itu Desember nanti.

Upaya Afghanistan hampir empat tahun melalui Dewan Tinggi Perdamaian, yang terdiri atas tokoh-tokoh ternama Afghanistan, sejauh ini gagal membujuk Taliban agar mengakhiri pemberontakan dan bergabung dalam proses rekonsiliasi politik.

Ketiadaan kemajuan mendorong divisi perempuan Dewan itu untuk mengambil inisiatif perdamaian yang langka, guna memberi secercah harapan bagi perempuan Afghanistan yang secara tradisional dan secara sosial tertindas.

Seorang anggota Dewan, anggota parlemen Golalei Nur Safi berada di garis depan kampanye itu, yang disebut 'Voice of Afghan Women for Peace and Cease-fire' atau Suara Perempuan Afghanistan bagi Perdamaian dan Gencatan Senjata. Kepada VOA, ia mengatakan, misi mereka adalah mendesak pemerintah dan kelompok-kelompok oposisi pimpinan Taliban, dan juga pasukan internasional agar mencoba merundingkan penyelesaian damai atas konflik tersebut sesegera mungkin.

Safi mengatakan kampanye itu diluncurkan awal bulan ini dan setiap hari banyak perempuan Afghanistan bergabung. Ia menambahkan, meski dihadang masalah keamanan, sukarelawan perempuan berupaya sungguh-sungguh dalam mengumpulkan sebanyak mungkin tanda-tangan dari perempuan masyarakat Afghanistan pada selembar kertas yang membawa pesan perdamaian.

"Kami pergi dari rumah ke rumah dan juga mengadakan pertemuan antar-perempuan. Dan kelompok sukarelawan itu mendatangi orang-orang, masyarakat, sekolah, universitas, tempat kerja, dan mereka menyampaikan isi pesan bahwa kami menginginkan perdamaian dan gencatan senjata. Ada ratusan perempuan, mereka bekerja seperti sukarelawan untuk mendapatkan tanda tangan perempuan-perempuan itu dan sampai kini kami telah mendapat lebih dari 120.000 tanda tangan,"kata Safi.

Menurut Safi, mereka juga telah menyampaikan tuntutan itu kepada para kandidat yang ikut dalam pemilihan presiden Afghanistan mendatang.

"Kami berbicara dengan setiap kandidat tentang kampanye ini dan kami memberitahukan pesan kami kepada mereka bahwa perempuan Afghanistan sangat lelah akan perang dan kami menginginkan perdamaian,” papar Safi.

Perang saudara Afghanistan tahun 1990-an membuka jalan bagi Taliban untuk merebut kekuasaan dan memberlakukan hukum Islam yang ketat sehingga tidak memedulikan hak-hak perempuan di negara yang hancur akibat perang itu. Selama berkuasa lima tahun, Taliban melarang perempuan bekerja di luar rumah dan melarang anak perempuan bersekolah.
XS
SM
MD
LG