Tautan-tautan Akses

Selenggarakan KTT G7, Perekonomian Jepang Sedang Terjepit

  • Steve Herman

Para pejabat keuangan negara anggota G7 melakukan pertemuan di Sendai, Miyagi, Jepang membahas lesunya perekonomian global (20/5).

Para pejabat keuangan negara anggota G7 melakukan pertemuan di Sendai, Miyagi, Jepang membahas lesunya perekonomian global (20/5).

KTT negara-negara G7 tahun ini diharapkan memusatkan perhatian pada kebijakan anggaran ketika ekonomi dunia sedang berjuang untuk mendapatkan momentum.

Tuan rumah KTT, Jepang, negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia, sedang mengalami penciutan karena pemerintah tidak berhasil memperbaki keadaan,

Jepang, dengan penduduknya yang menua dan tidak ada pertumbuhan ekonomi setelah mengalami deflasi satu dasawarsa ini, tidak lagi merupakan negara yang menimbulkan iri hati tapi praktis harus dikasihani di antara rekan-rekan G7-nya, kata Martin Schulz, pengamat ekonomi dari Lembaga Penelitian Fujitsu.

"Pasar Jepang menyusut secara keseluruhan, dan itu. sangat menyulitkan untuk bergerak lagi. Akan dibutuhkan sejumlah perubahan struktural yang besar, dan ini akan membutuhkan waktu," kata Martin.

Menurut Shin Fukushige, Direktur Pelaksana Seikowave, Jepang mungkin negara besar pertama yang menghadapi tantangan ini. Ia mengatakan, "Kami mungkin negara besar pertama yang bergulat dengan kesulitan ini. Itu berarti, kita harus bisa mencari cara-cara penyelesaian yang serius."

Penyelesaian yang dicoba Perdana Menteri Shinzo Abe, yaitu stimulus fiskal, pelonggaran moneter dan reformasi struktural yang disebut 'tiga anak panah Abenomics’ telah gagal dalam dalam mencapai tujuannya.

Meskipun berbagai upaya telah dilakukan , sejauh ini konsumen yang terdiri dari orang-orang muda yang baru mulai bekerja, sampai orang-orang pensiunan yang punya banyak uang tabungan , masih enggan membelanjakan uang mereka.

"Abenomics telah gagal membuat warga Jepang membelanjakan uang mereka, karena orang tidak yakin tentang masa depan. Jadi pemerintah harus mencoba cara lain," kata Manabu Goto, warga Tokyo.

Saran-saran dari para ekonom termasuk pengadaan suku bunga negatif, memajaki deposito dan memaksa perusahaan untuk menaikkan upah yang signifikan. Tetapi beberapa pakar menegaskan, masalahnya lebih bersifat psikologis daripada ekonomis.

Penasehat khusus kantor kabinet, William Saito mengatakan, "Ini adalah masalah kepercayaan diri. Jika kita melihat 20 tahun terakhir, dasar-dasar ekonomi, infrastruktur, politik pemerintah, semua itu belum berubah. Ini adalah akibat kurangnya rasa percaya diri.”

Setelah KTT G7, semua mata akan menengok ke Bank of Japan. Gubernur Banknya mendesak untuk bersabar sampai beberapa bulan lagi sampai langkah-langkah stimulus mereka menunjukkan hasil. Jika ekonomi tidak juga membaik,kata sebagian pakar, bank sentral akan terpaksa mengambil cara-cara yang lebih radikal. [ps/ii]

XS
SM
MD
LG