Tautan-tautan Akses

Peredaran Obat Palsu Dunia Naik 25 Persen

  • Budi Setiawan

Pemalsu lebih gesit bertindak dibanding pemerintah yang perlu waktu lama untuk menyusun kebijakan yang bisa mencegah peredaran obat palsu.

Pemalsu lebih gesit bertindak dibanding pemerintah yang perlu waktu lama untuk menyusun kebijakan yang bisa mencegah peredaran obat palsu.

Obat seharusnya membuat orang sakit merasa lebih baik atau sembuh. Namun obat palsu, selain tidak mujarab, bisa juga mematikan.

Kasus obat palsu ternyata merebak di mana-mana. Lebih dari 100 negara melaporkan kasus obat palsu pada tahun 2008. Menurut sebuah jurnal sains terkemuka, Natural Medicine, jumlah obat palsu di pasaran meningkat 25 persen per tahun. Editor jurnal tersebut, Roxanne Khamsi, menghimpun belasan artikel untuk menyusun tinjauan global jurnal itu mengenai obat palsu. Ia menyatakan peredaran obat palsu menghasilkan akibat yang mengenaskan.

"Di negara sebesar Ghana yang berpenduduk 20 juta orang, misalnya, bayangkan sekitar empat ribu anak-anak meninggal per tahun akibat minum obat palsu untuk malaria," katanya.

Artikel di jurnal tersebut didasarkan pada angka-angka yang berasal dari perhitungan tidak resmi seorang pakar Bank Dunia. Khamsi mengatakan, situasi terburuk didapati di negara-negara berkembang. Namun, Khamsi juga menambahkan bahwa masalah ini juga ditemukan di negara maju, di mana orang memesan obat melalui internet. Obat yang dijual di internet mungkin lebih murah, ujar Khamsi, namun obat-obat tersebut sulit diketahui keasliannya. Ia memberi contoh kasus yang menjadi sorotan di negara maju, di mana obat yang dipesan lewat internet didapati mengandung racun tikus dan mengakibatkan sang pasien meninggal dunia.
Banyak orang memilih membeli obat via internet karena lebih murah, tapi seringkali sulit untuk memastikan keaslian obatnya.

Banyak orang memilih membeli obat via internet karena lebih murah, tapi seringkali sulit untuk memastikan keaslian obatnya.

Berbagai negara telah berusaha mengatasi masalah ini dengan cara-cara inovatif. Di Tiongkok, teknisi laboratorium dengan mobil-mobil khusus berkeliling negeri dan melakukan pengujian obat. Di Ghana, sebuah organisasi nirlaba meminta konsumen agar mengirim SMS berisi kode delapan digit pada kotak obat ke nomor layanan gratis. Jika kode dan obat itu berasal dari sumber yang sah, pasien menerima balasan SMS-nya. Khamsi mengatakan para pemalsu obat tak kalah inovatifnya.

"Seperti pacuan senjata. Begitu kita tahu solusinya seperti apa, para pemalsu langsung punya jalan untuk mengatasinya. Ini soal waktu," jelasnya.

Para legislator juga menyusun undang-undang lebih keras terhadap para pemalsu di berbagai titik rantai pasokan. Misalnya, pemerintah India mendorong para informan agar melapor apabila mendapati obat palsu di pasar. Para pejabat Amerika mulai menyusun Rancangan Undang-Undang yang akan mewajibkan pemasok obat melapor apabila menemui masalah dalam rantai suplai. Namun Khamsi mengatakan, penegakan hukum mengalami kesulitan jika definisi obat palsu kontroversial.

Definisi obat palsu yang diajukan Organisasi Kesehatan Sedunia WHO pada tahun 1992, banyak diperdebatkan. Apakah obat palsu adalah obat di bawah standar, yang bahan aktifnya tidak memadai, atau sengaja dibuat demikian? Apakah ini obat yang mengandung sesuatu yang beracun? Atau mungkin ini yang sebenarnya dianggap sebagai obat generik?

Yang lebih mengkhawatirkan tampaknya adalah kurangnya sumber daya internasional untuk menegakkan hukum. Kepolisian internasional Interpol membentuk unit khusus untuk mengatasi kejahatan farmasi, unit tersebut hanya terdiri dari dua staf. Menurut Khamsi, itu jelas tidak memadai.

Artikel ini diterbitkan di jurnal Natural Medicine baru-baru ini.

XS
SM
MD
LG