Tautan-tautan Akses

Penelitian di AS Tunjukkan Sifat Biokimia Kompleks dalam Percintaan Manusia

  • Adam Phillips

Salah satu bagian otak yang disebut ventral tegmental area (VTA -- warna merah) mengirim sistem imbalan dan mendorong rasa rindu pada tahap awal jatuh cinta.

Salah satu bagian otak yang disebut ventral tegmental area (VTA -- warna merah) mengirim sistem imbalan dan mendorong rasa rindu pada tahap awal jatuh cinta.

Tanggal 14 Februari adalah Hari Valentine, kesempatan yang digunakan untuk menyatakan cinta romantis dengan kartu, coklat, bunga atau bahkan lagu, namun menurut para peneliti otak, percintaan manusia memiliki sifat biokimia kompleks yang biasanya tidak diisyaratkan dalam ungkapan sayang itu.

Pikiran dan emosi kita mungkin tak terlihat, tak berwujud. Tetapi, kondisi internal, misalnya perasaan cinta, dapat disimpulkan dengan memantau aliran darah di berbagai bagian otak dengan menggunakan teknik pencitraan yang canggih.

Ilmuwan syaraf Lucy Brown melakukan percobaan dengan 17 mahasiswa yang sedang dilanda asmara untuk pertama kali. Mereka mengikuti pemindaian otak dan diminta untuk melihat gambar orang yang mereka cintai. Tanpa kecuali, gambar itu merangsang aktivitas listrik yang meningkat di dua bagian utama otak yang disebut caudate nucleus dan ventral tegmental area.

Guru besar di Albert Einstein College of Medicine itu mengatakan kedua bagian otak tadi terlibat dalam “sistem imbalan.” Bagian otak ini juga ditemukan pada mamalia lain dan lebih sering dikaitkan dengan hasrat untuk makan dan minum, bukan dorongan seksual.

"Sistem ini aktif pada orang yang sedang jatuh cinta," papar Brown.

Brown mencatat bahwa bagian otak itu juga yang menyala saat mengalami euforia karena kokain, dan mendorong ketagihan. Menurutnya, campuran rasa euforia dan rindu serupa dirasakan oleh orang yang pernah jatuh cinta.

"Bukan hanya euforia. Anda bisa cemas. Anda bisa sedikit marah. Tapi kuncinya, ini adalah motivasi terhadap orang lain. Sasarannya adalah orang lain,karena memberi imbalan sangat besar!" paparnya lagi.

Ketika dirangsang, sistem imbalan di otak mengeluarkan senyawa kimia yang disebut dopamine. Helen Fisher, antropolog Universitas Rutgers yang bekerjasama dengan Profesor Brown dalam penelitian pemindaian otak dan cinta, mengatakan dopamine kemudian menyebar ke bagian otak lain yang memiliki fungsi masing-masing.

"Saat kita menjamah sepotong coklat dan menginginkannya, saat kita ingin kenaikan gaji di kantor, saat kita ingin anak kita berhasil di sekolah, bagian otak ini diaktifkan. Tetapi, diaktifkan dengan kombinasi bagian otak yang berbeda, sehingga membuat rasa ingin makan coklat berbeda dengan rasa ingin mendapatkan pacar,” papar Fisher.

Fisher menegaskan bahwa kencan dan membina hubungan dengan pasangan biasanya mengikuti pola yang berbeda. Ketika pertama jatuh cinta, segala sesuatu tentang orang yang dicintai memberi makna khusus. Ini mengindikasikan sistem dopamine di otak bekerja.

Fisher menjelaskan bahwa serbuan dopamine sering menyebabkan fokus yang kuat pada sang kekasih. Itu, pada gilirannya, dapat membuat emosi naik turun yang merupakan ciri umum cinta romantis.

Ia mengatakan, “Ada kegembiraan kuat ketika semuanya berjalan lancar, suasana hati berubah menjadi putus asa yang mengerikan ketika segala sesuatu berjalan buruk. Kita memiliki energi yang luar biasa. Kita bisa berjalan sepanjang malam dan ngobrol sampai fajar. Ada semua jenis respon fisiologis – gugup, mulut kering ketika berbicara dengan orang itu di telepon, perasaan memiliki yang kuat.”

Evolusi atau kelangsungan hidup, kata Fisher, adalah alasan mengapa dorongan untuk mendapat seks, percintaan dan hubungan jangka panjang dapat menjadi lebih gigih dan kuat dibanding hasrat manusia lainnya. Menurut Fisher, kaitan yang dalam antara cinta dan kelangsungan hidup menjelaskan kenapa pikiran kita tercurah untuk mencari pasangan, dalam senang dan susah.

Seperti ketagihan apapun, cinta dapat mengaburkan penilaian kita. Kita tentu sering mendengar istilah cinta buta.

XS
SM
MD
LG