Tautan-tautan Akses

Perawatan Baru di Australia dapat Selamatkan Tentara Terluka


Tentara yang terluka dievakuasi di Luhansk, Ukraina Timur.

Tentara yang terluka dievakuasi di Luhansk, Ukraina Timur.

Pada 10 tahun terakhir, sekitar 5.000 tentara sekutu tewas di medan perang dan 87 persen terjadi dalam 30 menit pertama sebelum mereka bahkan dapat pergi ke pusat pengobatan.

Para ilmuwan Australia, Rabu (26/11), mengatakan mereka telah mengembangkan "terobosan perawatan" untuk menolong tentara yang luka berat di peperangan, dengan dana riset selanjutnya akan ditanggung oleh Amerika Serikat.

Para peneliti mengklaim hal itu dapat menjadi kemajuan besar pertama dalam merawat luka perang sejak Perang Vietnam, dengan potensi untuk mengurangi jumlah kematian di lapangan secara dramatis.

"Pada 10 tahun terakhir, sekitar 5.000 tentara sekutu tewas di medan perang (di Irak dan Afghanistan) dan 87 persen terjadi dalam 30 menit pertama sebelum mereka bahkan dapat pergi ke pusat pengobatan, jadi itu adalah waktu kunci," ujar Geoffrey Dobson dari James Cook University, who developed the treatment, told AFP.

"About 25 percent have been deemed potentially salvageable, so about 1,000 lives could (have been) saved with our new solution."

Terapi Dobson, dikembangkan dengan koleganya Hayley Letson, meningkatkan peluang hidup tentara yang terluka di daerah-daerah terpencil dengan meningkatkan tekanan darah di beberapa menit vital yang pertama setelah mereka terluka.

"Jika tekanan itu terlalu rendah, tentara akan mati. Jika tekanan terlalu tinggi, saat penyumbatan telah terjadi, tekanan tinggi akan menghancurkan sumbatan itu dan ia akan berdarah lagi," ujar Dobson.

Profesor itu terinspirasi oleh binatang seperti burung kolibri, yang detak jantungnya melambat sampai 99 persen dari tingkat reguler 1.500 detak per menit ketika mereka ada dalam kondisi lamban seperti hibernasi.

Dobson mengatakan terapi tersebut telah diuji pada tikus dan babi. Jika uji-uji coba yang didanai Amerika berhasil, perawatan itu dapat digunakan untuk merawat pasien-pasien di lokasi-lokasi yang terpencil seperti para ibu yang kehilangan banyak darah setelah melahirkan.

"Kami juga akan mulai membahas proses aturan, termasuk uji klinis yang mengarah pada persetujuan-persetujuan resmi FDA (Badan Pengawas Obat-Obatan dan Makanan di AS), dalam setahun," ujarnya.

Unsur kunci perawatan itu adalah ia hanya memerlukan sangat sedikit volume cairan: suntikan awal diberikan pada tentara dalam beberapa menit pertama dan yang kedua untuk menstabilkannya sebelum evakuasi.

Hal ini berbeda dengan volume tinggi sampai enam liter cairan yang digunakan petugas medis dalam Perang Vietnam untuk menyadarkan tentara yang terluka kritis.

Perawatan itu telah menarik perhatian Komando Operasi Khusus AS, yang menjanjikan A$550.000 (US$470.000) untuk mengembangkan uji coba manusia tahun depan. (AFP)

XS
SM
MD
LG