Tautan-tautan Akses

Perancis Adopsi Pemilihan Pendahuluan Gaya Amerika


Politisi Perancis, Alain Juppe, saat ini walikota Bordeaux, anggota partai konservatif Les Republicains dan kandidat pemilihan pendahuluan untuk calon presiden, meninggalkan kampanye di Malakoff, Paris (8/10). (Reuters/Philippe Wojazer)

Politisi Perancis, Alain Juppe, saat ini walikota Bordeaux, anggota partai konservatif Les Republicains dan kandidat pemilihan pendahuluan untuk calon presiden, meninggalkan kampanye di Malakoff, Paris (8/10). (Reuters/Philippe Wojazer)

Untuk pertama kalinya kedua partai utama Perancis mengadopsi sistem pemilihan pendahuluan AS, namun tidak dengan perdebatan yang sengit.

Dibandingkan dengan perdebatan antara kandidat Hillary Clinton dan kandidat Donald Trump Minggu, perdebatan kandidat presiden Perancis yang pertama minggu ini tampaknya lebih tenang dan serius. Namun debat kali ini menandai perubahan besar karena untuk pertama kalinya, kedua partai utama Perancis kini mengadopsi sistem pemilihan pendahuluan Amerika.

“Demokrasi kami sangat mudah menyerap, kami punya budaya pop dan politik yang sama,” kata pakar ilmu politik Nicole Bacharan, sambil menjelaskan penyebaran pengaruh Amerika ke politik Eropa.

“Dan hal ini lambat laun akan diterima oleh budaya Perancis sebagai sesuatu yang normal dan demokratis."

Hari Kamis (13/10), tujuh kandidat sayap kanan tengah akan tampil di televisi untuk berdebat sebelum pemilihan pendahuluan kelompok konservatif pada November. Partai Sosialis yang berkuasa akan menyelenggarakan pemilihan pendahuluannya sendiri pada Januari, tiga bulan sebelum pemilihan presiden.

Terorisme, imigrasi, dan dampak negatif perdagangan bebas akan mewarnai retorika kampanye serta mencerminkan keresahan pemilih. Kemarahan terhadap elit politik juga muncul.

Namun ada perbedaan penting. Sementara pebisnis Donald Trump berhasil memenangkan pemilihan pendahuluan, tradisi politik Perancis bukanlah memilih pendatang baru, juga banyak yang kaget dengan lontaran kecaman dan cemoohan dalam perdebatan di Amerika.

Seberapa jauh retorika kasar bisa merembet ke Perancis masih harus ditunggu. Kedua kandidat konservatif utama, mantan presiden Nicolas Sarkozy dan mantan perdana menteri Alain Juppe, sudah mulai adu mulut seputar skandal-skandal hukum masing-masing.

“Retorika kasar bisa memuncak dengan cepat dan benar-benar menurunkan kualitas perdebatan,” kata analis Madani Cheufra dari Sciences Po University di Paris, namun ia tidak yakin akan mencapai tingkat seperti adu mulut antara Donald Trump dan Hillary Clinton baru-baru ini.

Ia malah khawatir yang sebaliknya yang akan terjadi.

“Kandidat-kandidat ini bisa mengatakan hal-hal yang serupa pada Kamis,” katanya. “Ini berisiko kebosanan buat pemirsa." [jm]

XS
SM
MD
LG