Tautan-tautan Akses

Penyelidikan Pesawat MH370 Tampak Hadapi Kebuntuan


Seorang petugas penjagaan pantai Jepang mempelajari peta dalam pesawat Gulfstream V Jet yang terlibat dalam pencarian pesawat Malaysia Airlines yang hilang (15/3).

Seorang petugas penjagaan pantai Jepang mempelajari peta dalam pesawat Gulfstream V Jet yang terlibat dalam pencarian pesawat Malaysia Airlines yang hilang (15/3).

Sebelas hari telah berlalu sejak pesawat Malaysia Airlines penerbangan MH370 hilang, dan 26 negara kesulitan mencari jet tersebut di wilayah seluas 7 juta kilometer persegi.

Penyelidikan-penyelidikan terhadap misteri hilangnya jet Malaysia tampaknya menemui jalan buntu Rabu (12/3), dengan tidak adanya bukti konklusif dari permainan buruk dan adanya keraguan apakah negara-negara mau berbagi data pelacak militer yang dapat menunjukkan ke mana pesawat mungkin menuju.

Sebelas hari telah berlalu sejak pesawat Malaysia Airlines penerbangan MH370 hilang, dan 26 negara kesulitan mencari jet tersebut di wilayah seluas 7 juta kilometer persegi.

Para pejabat Malaysia dan AS yakin pesawat itu sengaja dibelokkan namun penyelidikan latar belakang secara menyeluruh dari 239 orang di atas pesawat tidak menunjukkan motif yang mungkin atau kaitan dengan terorisme.

Para pejabat papan atas Malaysia yang berwenang dalam operasi yang tidak pernah ada sebelumnya itu mengatakan sangat penting mengurangi skala pencarian dan kembali meminta data militer sensitif dari para negara tetangga, karena Malaysia yakin hal itu dapat memberikan pencerahan mengenai ke mana pesawat itu terbang.

"Semua upaya harus digunakan untuk mempersempit koridor yang sudah diumumkan. Saya kira itulah pendekatan terbaik. Jika tidak, kita akan terus berspekulasi," ujar penjabat Menteri Perhubungan Malaysia, Hishammuddin Hussein pada wartawan, Selasa malam.

Angkatan Laut AS mengatakan telah fokus pada penggunaan pesawat P-8A Poseidon dan P-3 Orion untuk mencari pesawat itu, daripada memakai kapal atau helikopter.

Pesawat patroli maritim jauh lebih sesuai dan lebih efisien untuk jenis operasi ini karena luas wilayah pencarian bertambah, ujar Letnan Angkatan Laut David Levy.

Pesawat MH370 hilang dari layar kontrol lalu lintas udara sipil di luar pesisir timur Malaysia pada dini hari tanggal 8 Maret, kurang dari sejam setelah terbang dari Kuala Lumpur ke Beijing.

Para penyelidik yang menyatukan data-data dari radar militer dan satelit yakin seseorang mematikan data vital dan berputar ke barat, menyeberangi Semenanjung Malay dan mengikuti rute komersial menuju India. Data lain menunjukkan pesawat itu terbang untuk setidaknya enam jam, namun tidak ada kejelasan ke mana pesawat itu menuju.

Terakhir, polisi di Maladewa mengatakan ada laporan warga melihat pesawat yang terbang rendah pada 8 Maret pagi.

Kepala Eksekutif Malaysia Airlines Ahmad Jauhari Yahya mengatakan fakta bahwa pesawat terus melakukan hubungan elektronik dengan satelit bertentangan dengan teori-teori bahwa para pilot menghadapi masalah teknis.

"Ada kemungkinan kerusakan, namun sistem komunikasi satelit masih aktif sampai data terakhir pada 8.11 pagi," ujarnya. "Ada fungsionalitas pada sistem, namun sistem pelaporan dimatikan."

Kemungkinan terorisme juga tidak terbukti, dan kecuali ada terobosan, maka penyelidikan sepertinya mengarah pada kebuntuan.

Wilayah Pencarian yang Luas

Menurut Hishammuddin, data pelacakan militer sangat penting untuk menyelesaikan misteri ini.

"Kami (Malaysia) telah mengesampingkan keamanan nasional, kepentingan nasional, untuk sampai pada saat ini," ujarnya.

Seorang diplomat senior di wilayah Asia mengatakan para pemimpin militer dan pemerintah sedang mempelajari permintaan Malaysia.

Para analis mengatakan akan sulit membujuk negara-negara lain, terutama jika hasilnya akan mengungkapkan kelemahan keamanan mengingat ada banyak sengketa maritim dan wilayah di wilayah ini.

Terobosan masih dimungkinkan, menurut para ahli. Puing-puing pesawat masih bisa ditemukan, tapi lebih lama waktu berlalu lebih mungkin bahwa puing-puing itu akan tersebar.

"Ini sebuah misteri dan mungkin akan tetap jadi misteri," ujar Elizabeth Quintalla, kepala peneliti tenaga udara di Royal United Services Institute di London. (Reuters/Anshuman Daga and Tim Hepher)
XS
SM
MD
LG