Tautan-tautan Akses

Penyelidikan Pembunuhan oleh Ekstrimis di Bangladesh Tidak Capai Kemajuan


Seorang mahasiswa mengangkat potret Profesor A.F.M. Rezaul Karim Siddique dalam protes menentang pembunuhan. Dhaka, Bangladesh.

Seorang mahasiswa mengangkat potret Profesor A.F.M. Rezaul Karim Siddique dalam protes menentang pembunuhan. Dhaka, Bangladesh.

Rentetan pembunuhan di Bangladesh telah menimbulkan pertanyaan tentang terancamnya tradisi sekuler negara Muslim moderat oleh kelompok-kelompok Islam ekstrimis. April adalah bulan dengan korban jiwa terbanyak di negara Asia Selatan itu.

Rentetan pembunuhan kaum liberal, dosen, orang asing dan penganut agama minoritas di Bangladesh telah menyebarkan ketakutan yang mendalam di negara itu dan menimbulkan pertanyaan yang mengkhawatirkan tentang apakah tradisi sekuler negara Muslim moderat itu sedang terancam oleh kelompok-kelompok Islam ektrimis.

April adalah bulan yang mengalami korban jiwa terbanyak di negara Asia Selatan itu: lima pembunuhan mengerikan terhadap seorang pria Hindu yang dituduh menghina Nabi Muhammad, dua orang aktivis hak gay, seorang professor universitas dan seorang mahasiswa hukum yang mengecam ekstrimisme agama pada halaman Facebooknya. Pembunuhan-pembunuhan ini, yang sering oleh penyerang yang menggunakan golok, mulai dengan pembunuhan dengan golok seorang blogger tahun 2013.

Cabang ISIS dan al-Qaida telah mengaku bertanggung jawab atas hampir semua serangan itu, tetapi pemerintah mengatakan kelompok-kelompok ini tidak mempunyai kehadiran di negara itu dan menuding kelompok-kelompok militan dalam-negeri.

Tetapi sementara sebagian besar pembunuhan itu tidak terbongkar, tidak ada petunjuk yang jelas siapa mendalangi serangan-serangan yang semakin berani itu. Walaupun beberapa militan tingkat rendah telah ditangkap, polisi tidak mencapai kemajuan dalam menentukan orang-orang yang merencanakan serangan itu. Para keluarga korban mengeluh tentang lambannya dan tidak ampuhnya penyelidikan kepolisian.

“Kita dalam keadaan ketidak-pastian dan kita dalam kebingungan, siapa yang patut diyakini. Pemerintah tidak memberi jawaban yang layak dipercaya,” kata Ataur Rahman, ketua Perhimpunan Ilmu Politik Bangladesh. [gp]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG