Tautan-tautan Akses

IAEA: Penyelidikan Nuklir Iran Capai Kemajuan Signifikan


Kepala IAEA Yukiya Amano (kiri) bertemu dengan Kepala Badan Tenaga Atom Iran, Ali Akbar Salehi di Teheran hari Minggu (20/9).

Kepala IAEA Yukiya Amano (kiri) bertemu dengan Kepala Badan Tenaga Atom Iran, Ali Akbar Salehi di Teheran hari Minggu (20/9).

Kepala Badan Nuklir PBB (IAEA) Yukiya Amano melaporkan perjalanannya ke Iran yang mencakup lawatan ke fasilitas militer Parchin yang selama ini menjadi fokus utama penyelidikan.

Kepala Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), mengatakan hari Senin (21/9) bahwa kemajuan signifikan telah dicapai dalam penyelidikan PBB yang sudah lama berlangsung terhadap tuduhan bahwa Iran berusaha mengembangkan senjata nuklir.

Yukiya Amano mengatakan, ia melaporkan kepada dewan direksi IAEA mengenai perjalanannya ke Iran yang mencakup lawatan ke fasilitas militer Parchin yang selama ini menjadi fokus utama penyelidikan.

Amano mengatakan, sampel-sampel lingkungan diambil di Parchin sebelum kunjungannya itu dalam sebuah proses yang melibatkan kehadiran perwakilan Iran. Amano mengatakan, dalam beberapa situasi, IAEA mengizinkan negara yang diselidiki ikut dalam proses verifikasi selama tidak mengganggu kerja badan itu.

Amano mengatakan kepada wartawan, otentikasi yang dilakukan IAEA dalam pengambilan sampel menggunakan proses verifikasi terpercaya. Katanya, proses itu dilakukan di bawah tanggungjawab dan pengawasan IAEA. Sampel-sampel itu telah dibawa ke Wina untuk dianalisa para pakar badan itu.

Sebelumnya Minggu pagi, kantor berita pemerintah Iran, IRNA, mengutip seorang jurubicara badan nuklir negara itu, yang mengatakan bahwa sampel-sampel lingkungan diambil dari lokasi tanpa kehadiran para pengawas dari IAEA.

Selama bertahun-tahun, Iran menolak untuk memberi akses kepada IAEA dengan alasan bahwa Parchin benar-benar merupakan fasilitas militer dan tertutup bagi pihak luar.

Para pejabat Iran menuding Amerika dan Israel berusaha menarik perhatian masyarakat internasional ke Parchin. Mereka mengatakan, kedua negara itu memberikan informasi intelijen yang keliru yang menuduh Iran melakukan riset untuk mengambangkan senjata nuklir. Iran telah lama bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan damai.

XS
SM
MD
LG