Tautan-tautan Akses

Penyandang Difabel di Solo Gelar TPA Al-Qur’an Braille

  • Yudha Satriawan

Taufik Windu Asmoro, seorang penyandang difabel, tengah membaca Al-Qu'ran Braille di Mangkuyudan, Solo (16/7). Para penyandang difabel di kota ini mengisi kegiatan di bulan Ramadan dengan mengikiti TPA Al-Qur’an Braille.

Taufik Windu Asmoro, seorang penyandang difabel, tengah membaca Al-Qu'ran Braille di Mangkuyudan, Solo (16/7). Para penyandang difabel di kota ini mengisi kegiatan di bulan Ramadan dengan mengikiti TPA Al-Qur’an Braille.

Para penyandang difabel di Solo mengisi kegiatan di bulan Ramadan dengan menggelar TPA Al-Qur’an Braille. Mereka membuktikan bahwa kekurangan fisik tidak melunturkan semangat mereka untuk beribadah.

Jari jemari Taufik Windu Asmoro tampak meraba lembaran putih dengan tonjolan tampak diatasnya di sebuah bangunan berlantai dua di Mangkuyudan Solo, Rabu sore (16/7). Suara lantunan berbahasa arab keluar dari mulut penyandang tuna netra tersebut.

Taufik menjelaskan lembaran putih tersebut adalah Al Qur’an berhuruf Braille. Taufik mengatakan aktifitas belajar mengajar ajaran Islam bagi penyandang tunanetra, termasuk anak-anak, dilakukan di tempat ini setiap Minggu. Apalagi di bulan Ramadan, tambah Taufik Windu, kegiatan semakin meningkat.

“Ya ini kegiatan kami TPA Al-Qur’an Braille. Dulu pas awal berdiri, kami hanya punya 1 Juz Alqur’an Braille..tapi kini sudah ada 10 set Alqur’an Braille. 1 set ada 30 bagian atau Juz. Kami juga setiap mingu mengajak anak-anak SLB Yayasan Kesejahteraan Anak Buta atau YKAB di Solo untuk ikut mengaji bersama kami. Mereka kami ajarkan huruf Braille dulu, kemudian membaca dasar-dasar belajar Al-Qur’an dari Iqro hingga Alquran yang berhuruf Braille,” kata Taufik.

Kegiatan membaca A Qur’an Braille ini dilakukan di sebuah bangunan bertingkat dua lantai di kawasan Mangkuyudan Solo. Sebuah Papan bertuliskan Yayasan Al Ikhwan Solo untuk kesejahteraan Tuna netra, kegiatan TPA Al Qur’an Braille.

Yayasan tuna netra ini sudah berlangsung sejak tahun 1993 silam. Di awal terbentuknya Yayasan tunanetra ini, hanya ada 1 bagian Al Qur’an Braille, tapi kini sudah memiliki 10 set Al Qur’an Braille, dimana 1 set Al Quran terdiri dari 30 bagian atau juz.

Keberadaan komunitas Yayasan Tunanetra yang tekun mempelajari Al Qur’an Braille ini mendapat tanggapan sejumlah warga di Solo, salah satunya Anjar Hari Wartono. Menurut Anjar, keberadaan komunitas penyandang tuna netra memahami Al Qura’n Braille ini seharusnya memicu semangat masyarakat untuk memahami ajaran Islam.

“Ya, kami sebagai muslim di Solo dengan diberi kesempurnaan fisik setelah melihat aktifitas komunitas tuna netra belajar Al Qur’an Braille ini jadi merasa malu dan menjadi semangat kami untuk mempelajari ajaran Islam. Mereka yang tunanetra saja semangat belajar agama, apalagi kita yang diberi kesempurnaan fisik, apalagi di bulan Ramadan ini harus memperbanyak kegiatan ibadah,” kata Anjar Hari Wartono.

XS
SM
MD
LG