Tautan-tautan Akses

Penumpang Misterius Malaysia Airlines Picu Pertanyaan Soal Keamanan Paspor


Warga Italia Luigi Maraldi, yang paspornya digunakan oleh penumpang pesawat yang hilang, menjelaskan pada wartawan di Phuket, Thailand (9/3).

Warga Italia Luigi Maraldi, yang paspornya digunakan oleh penumpang pesawat yang hilang, menjelaskan pada wartawan di Phuket, Thailand (9/3).

Dua penumpang yang duduk bersebelahan di pesawat yang hilang memegang paspor curian, yang menimbulkan kekhawatiran serius mengenai keselamatan penerbangan.

Dua dari penumpang yang duduk bersebelahan di penerbangan Malaysia Airlines yang hilang secara misterius Sabtu (8/3) bepergian dengan paspor curian. Fakta menakutkan itu telah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan mengenai keamanan perjalanan internasional, dan mengapa negara-negara gagal menggunakan alat-alat keamanan yang tersedia lewat badan-badan internasional.

Bayangkan kekagetan Luigi Maraldi ketika para pejabat melaporkan ia ada di dalam penerbangan Malaysia Airlines yang hilang dengan 239 orang di dalamnya. Warga Italia itu berusaha keras menjelaskan pada wartawan dengan Bahasa Inggris beraksen tebal, ia tidak tahu paspornya yang dicuri dapat membuat seorang penumpang menaiki sebuah penerbangan internasional.

"Saya tidak menyangka orang lain dapat menggunakan paspor saya karena ketika saya kembali ke Italia, saya berbicara dengan polisi, polisi Italia, untuk mencari paspor saya sehingga tidak ada yang bisa memakainya," ujarnya.

Jadi jika paspor curian dilaporkan pada otoritas internasional, bagaimana ia dapat melewati keamanan?

"Jika tidak dicek lewat pemeriksaan basis data paspor curian, maka Anda bisa masuk pesawat," ujar Chris Bronk, ahli teknologi paspor di Rice University di Houston, negara bagian Texas.

Dan ternyata tidak hanya Malaysia yang tidak memeriksa data Interpol untuk paspor curian, banyak pihak di dunia tidak menggunakannya, dan hal itu harus berubah, ujar Bronk.

Bronk mengatakan hanya Amerika Serikat, Inggris dan Uni Emirat Arab yang bersikukuh menggunakan basis data tersebut untuk memeriksa paspor di semua penerbangan internasional. Dan hanya 38 negara yang menggunakan teknologi kepingan elektronik atau e-chip dan melacak paspor sebagai bagian dari program pemberian visa.

"Jadi ada banyak teknologi terkait paspor dalam 10-15 tahun terakhir, dan semakin sulit untuk memalsukan paspor. Tapi jika Anda tidak punya data digital, hal itu hanya dokumen," ujarnya.

Bronk mengatakan infrastruktur yang diperlukan untuk mengintegrasikan data Interpol itu memakan waktu dan mahal. Ia mendorong Departemen Luar Negeri AS dan pihak-pihak terkait lainnya untuk mempertimbangkan bantuan untuk membiayai integrasi ini, karena proses mengidentifikasi para penumpang seperti dua orang yang bisa menumpangi penerbangan MH370 itu sangat sulit tanpa data paspor yang akurat.

Tidak jelas berapa sering orang bepergian di dunia dengan dokumen curian, namun dengan adanya hampir 40 juta paspor curian di luar sana, Bronk mengatakan hal itu terjadi cukup sering.
XS
SM
MD
LG