Tautan-tautan Akses

AS

Pengungsi Myanmar Paling Terimbas Inpres Trump


Pengungsi beragama Kristen dari Myanmar, di kelas mereka di Kuala Lumpur, Malaysia (11/3). (AP/Joshua Paul)

Tin, suami dan lima anaknya telah bertahun-tahun melalui berbagai pemeriksaan sebagai pengungsi yang akan datang ke AS: tes darah, wawancara, tes DNA dan sidik jari, dan pemeriksaan latar belakang.

Dia punya satu barang miliknya yang harus ia bawa, yaitu Alkitab yang sudah usang, dan telepon yang selalu siap untuk menerima telepon dari Kedutaan Besar AS.

Tapi kemungkinan itu tiba-tiba menciut sangat drastis. Presiden AS Donald Trump menerapkan larangan perjalanan ke negaranya “untuk menjaga orang jahat jangan masuk” bagi orang-orang dari enam negara mayoritas Muslim dan menutup program suaka Amerika sampai pertengahan Juli. Instruksinya mulai berlaku Kamis (16/3), tapi seorang hakim federal menundanya hanya beberapa jam sebelum aturan itu berlaku.

Inpres Trump itu juga mencakup pengurangan 55 persen visa bagi pengungsi keseluruhan, dari yang direncanakan 110.000 menjadi 50.000 tahun ini. Itu berarti, di beberapa tempat di dunia, ada 60.000 pengungsi yang tidak akan mendapat visa.

Siapa ke-60.000 orang yang mungkin telah kehilangan kesempatan untuk dimukimkan di AS menjelang September? Sebuah analisis Associated Press dari 10 tahun data pengungsi menunjukkan, negara asal mereka bukanlah salah satu dari enam negara yang warganya dilarang masuk ke AS, tapi Myanmar. Ribuan orang seperti Tin dan keluarganya, adalah orang Kristen yang dianiaya di negara asal mereka.

Mereka berharap untuk dimukimkan di Amerika sebelum September. Lebih dari 160.000 warga Burma telah dimukimkan di AS dalam dasawarsa terakhir, lebih banyak dari kelompok lain. Jumlah mereka hampir 25 persen dari pengungsi baru yang masuk ke Amerika sejak 2007. [ps/isa]

XS
SM
MD
LG