Tautan-tautan Akses

Pengungsi Kristen Irak di Kamp Ankawa Rayakan Natal


Seorang warga Kristen Irak yang melarikan diri dari desa qaraqush dan Bartala, 30 kilometer sebelah timur provinsi Nineveh, mencium patung santa di sebuah tempat penampungan pengungsi di kota Arbil, Irak (Foto: dok).

Seorang warga Kristen Irak yang melarikan diri dari desa qaraqush dan Bartala, 30 kilometer sebelah timur provinsi Nineveh, mencium patung santa di sebuah tempat penampungan pengungsi di kota Arbil, Irak (Foto: dok).

Suasana Natal jelas terlihat di kamp Ankawa, hari Jumat  (23/12). Tempat tersebut menampung ribuan orang Kristen Irak yang telah mengungsi sejak kelompok ISIS merebut kota dan desa mereka di dataran Nineveh Irak utara tahun 2014.

Pohon Natal dan gambaran tempat kelahiran Yesus sudah dipasang di pojok jalan. Sebagian anak-anak dengan bangga mengenakan topi merah Santa atau memperagakan mainan baru, yang sebagian besar senapan plastik untuk anak-laki-laki. Balon-balon warna-warni diikatkan pada jendela dan balkon.

Suasana Natal jelas terlihat di kamp Ankawa, hari Jumat (23/12). Tempat tersebut menampung ribuan orang Kristen Irak yang telah mengungsi sejak kelompok ISIS merebut kota dan desa mereka di dataran Nineveh Irak utara tahun 2014.

Tetapi semangat hari raya bercampur dengan kecemasan dan kerinduan untuk pulang ke kampung halaman. Mereka masih belum dapat pulang walaupun kota dan desa mereka sudah direbut kembali dari militan oleh pasukan Irak. Kota-kota tersebut terlalu porak-poranda, dan tidak ada air dan listrik. Kaum Kristen juga dihantui oleh ingatan penderitaan mereka ketika melarikan diri dalam kegelapan untuk menghindarkan pembantaian oleh ISIS.

“Saya hanya ingin pulang,” kata Victoria Behman Akouma yang berusia 79 tahun dan dengan berlinang air-mata. Dia termasuk di antara beberapa orang yang sempat tertinggal sebentar, setelah ISIS merebut kotanya, Karamlis bulan Augustus tahun 2014.

“Mereka meminta saya beralih agama ke Islam, tetapi saya mengatakan kepada mereka, saya akan mati sebagai seorang Kristen dan bahwa mereka dapat membunuh saya kalau mereka mau,” katanya.

Setelah 11 hari di bawah kekuasaan ISIS, militan mengawalnya ke perbatasan daerah Kurdi yang mempunyai pemerintahan sendiri di Irak utara.

Kaum Kristen di provinsi Nineveh, yang ibukotanya Mosul, adalah keturunan anggota masyarakat Kristen kuno tetapi masih kuat di Irak. Mereka menikmati perlindungan dan hak yang hampir sama dengan mayoritas Muslim Irak di bawah Saddam Hussein, tetapi jumlah mereka dengan cepat menurun setelah penyerbuan ke Irak yang dipimpin Amerika menggulingkan rejim mendiang diktator itu tahun 2003, yang mendatangkan kebangkitan militansi agama yang dipimpin jaringan terror al-Qaida.

Militan Sunni sering menyerang Kristen dan gereja, meneror masyarakat tersebut dan memaksa banyak dari mereka melarikan diri ke luar negeri, sebagian ke Barat, sebagian ke daerah Kurdi dimana toleransi agama minoritas jauh lebih besar daripada di seluruh wilayah lain Irak.

Dari kira-kira 1,5 juta orang Kristen yang tinggal di Irak sebelum penyerbuan yang dipimpin Amerika, kira-kira setengah juta orang yang tersisa sekarang. [gp]

XS
SM
MD
LG