Tautan-tautan Akses

AS

Pengungsi Korea Utara dan Upaya Beradaptasi dengan Kehidupan Baru di AS

  • Elizabeth Lee

Young Koo Kim, pastur di Pusat Pengungsi Korea Utara di Amerika, mengatakan, para pengungsi itu telah lama terbiasa hidup dalam suasana serba curiga, di mana setiap bagian dari kehidupan mereka diawasi.

Pusat Pemrosesan Pengungsi, yang dikelola Departemen Luar Negeri Amerika, mengatakan, ada sekitar 190 pengungsi Korea Utara tinggal di Amerika. Namun, jumlah sesungguhnya mungkin lebih banyak, mengingat tidak semuanya mengklaim status pengungsi.

Reporter VOA Elizabeth Lee melaporkan dari Los Angeles, banyak warga Korea Utara menetap di California di mana mereka berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan baru.

Banyak warga Korea Utara, yang meninggalkan tanah air mereka, merahasiakan pelarian mereka, dan beberapa di antara mereka kesulitan menyesuaikan diri dengan kehidupan baru setibanya di Amerika seperti Sammy Hyun yang menetap di Los Angeles.

“Amerika menganut paham kapitalisme. Ideologinya sangat berbeda. Namun saya tidak menyesal meninggalkan Korea Utara dan saya tidak merindukannya,” kata Sammy Hyun.

Kehidupan Hyun di Korea Utara menghantuinya selama beberapa tahun pertama hidup di Amerika.

“Tiga hingga empat tahun pertama di Amerika, saya mengalami mimpi buruk. Dalam mimpi saya, saya berada di Korea Utara dan berusaha melarikan diri, sementara pemerintah berusaha menangkap saya. Namun kemudian mimpi buruk itu tidak pernah saya alami lagi,” lanjutnya.

Sementara Hyun tidak lagi memiliki keluarga di Korea Utara, kebanyakan pengungsi terpaksa meninggalkan orang-orang yang mereka cintai. Mereka terus menerus mengkhawatirkan keluarga mereka, kata Sokeel Park, dari Liberty in North Korea, sebuah organisasi internasional yang menangani para pembangkang dan pengungsi Korea Utara. Ia berbicara melalui Skype dari Seoul.

"Meninggalkan negara tanpa izin, apalagi pergi ke negara musuh seperti Korea Selatan atau Amerika Serikat, merupakan kejahatan sangat serius di Korea Utara. Anda pada dasarnya menempatkan banyak orang dalam bahaya karena dituduh mata-mata atau sesuatu seperti itu,” jelas Sokeel Park.

Young Koo Kim, pastur di Pusat Pengungsi Korea Utara di Amerika, mengatakan, para pengungsi itu telah lama terbiasa hidup dalam suasana serba curiga, di mana setiap bagian dari kehidupan mereka diawasi.

“Orang-orang Korea Utara terbiasa dengan pemikiran bahwa jika pemerintah memberi kamu makan, kamu makan. Jika kamu diperintahkan untuk mati, kamu mati," kata Young Koo Kim.

Park mengatakan dalam lima tahun terkahir, rakyat Korea Utara lebih mengetahui dunia luar dibandingkan dengan sebelumnya.

"Ini termasuk mereka lebih tahu mengenai perbedaan dalam sistem dan tingkat kemakmuran dan peluang di China dan bahkan Korea Selatan. Ini sebagian karena masuknya media asing yang dibaca secara illegal di Korea Utara.”

Park mengatakan, beberapa warga Korea Utara yang melarikan diri berkomunikasi dengan orang-orang yang mereka kasihi di tanah air mereka melalui ponsel-ponsel buatan China yang diselundupkan ke Korea Utara. Park mengatakan, alat komunikasi itu telah memicu gelombang baru pelarian.

"Dewasa ini, khususnya di kalangan pengungsi Korea Utara berusia muda, semakin banyak yang mengatakan, mereka frustasi dengan sistim di Korea Utara dan kurang adanya kebebasan,” imbuh Park.

Bagi Sammy Hyun, ia meninggalkan Korea Utara bukan karena rakyat atau negaranya, melainkan karena pemerintahnya. Hyun mengatakan, jika kedua Korea bersatu, ia akan mengunjungi negara itu. Namun, katanya, untuk saat ini Amerika adalah rumahnya. [ab/lt]

XS
SM
MD
LG