Tautan-tautan Akses

Pengungsi di Jerman Ketakutan di Tengah Peningkatan Ancaman Teror


Para migran setelah melewati perbatasan Austria-Jerman dekat Wegscheid, Jerman (12/11). (Reuters/Michaela Rehle)

Para migran setelah melewati perbatasan Austria-Jerman dekat Wegscheid, Jerman (12/11). (Reuters/Michaela Rehle)

Para pengungsi Suriah mengatakan mereka takut akan reaksi buruk jika mereka dipersalahkan atas kampanye mengerikan yang semakin meningkat dari para teroris.

Di tengah meningkatnya ketakutan-ketakutan akan ancaman teroris di Eropa, kekhawatiran mendera kamp-kamp pengungsi di benua itu. Di Jerman, para pengungsi Suriah mengatakan mereka takut akan reaksi buruk jika mereka dipersalahkan atas kampanye mengerikan yang semakin meningkat dari para teroris.

"Orang-orang membicarakan kita," ujar Fahed, 27, seorang mekanik yang lari dari Damaskus beberapa minggu lalu, di sebuah kedai kopi Jumat malam. "Kami mendengar, 'Suriah, Suriah.' Tapi kami tidak tahu apa lagi yang mereka katakan tentang kami."

Sejak serangan-serangan di Paris, ujarnya, para pengungsi Suriah di Eropa terkadang ketakutan dan para politisi di seluruh dunia memperingatkan bahwa para teroris mungkin bersembunyi di antara para pengungsi.

Teman Fahed, Hashem yang berusia 17 tahun, yang datang ke Jerman sendirian untuk melarikan diri dari wajib militer, menjelaskan betapa tidak adilnya hal itu untuk para pengungsi. Menghindari pertempuran dengan tentara manapun, termasuk kelompok-kelompok militan ekstremis dan penuh kekerasan adalah salah satu dari alasan utama begitu banyak pemuda lari dari Suriah.

"Kami lari dari bom dan peperangan," ujarnya, sedikit gemetar di malam yang jauh lebih dingin daripada yang biasa dihadapi orang Suriah. "Yang paling kami inginkan adalah memberi kesan betapa orang-orang Suriah itu baik."

Ketakutan-ketakutan akan keamanan menyangkut para pengungsi juga membuat frustrasi, katanya, karena tinggal di Suriah bukanlah merupakan pilihan baginya.

Tempat penampungan pengungsi di Mannheim, Jerman.

Tempat penampungan pengungsi di Mannheim, Jerman.


Jika seseorang dipaksa bergabung dengan salah satu kelompok yang bertempur, dan seorang sepupu atau teman bergabung dengan yang lain, ia mungkin tidak punya pilihan selain menodongkan senjatanya kepada seseorang yang ia cintai, atau mati.

"Saya tidak mau membunuh teman-teman saya," ujarnya, membela pilihannya untuk lari dari Suriah. "Saya tidak mau membunuh siapa pun."

Merana di “Tempat Aman”

Untuk para pemuda di kedai kopi tersebut, Jerman tetap sebuah tempat yang aman, kalau tidak bisa dibilang menyenangkan. Warga Jerman pada umumnya ramah dan tetap berkomitmen untuk membuat sistem pengungsi berfungsi, meskipun jumlahnya meningkat.

Beberapa estimasi menyebutkan bahwa 1,5 juta orang dari Timur Tengah, Afrika dan semakin banyak tempat lain akan bermigrasi ke Eropa pada awal 2016.

Para migran mengantre di sebuah tempat di luar kantor dinas kesehatan dan sosial Berlin (LAGESO) untuk mendaftarkan diri (17/11).

Para migran mengantre di sebuah tempat di luar kantor dinas kesehatan dan sosial Berlin (LAGESO) untuk mendaftarkan diri (17/11).


Begitu di Eropa, proses untuk mendapatkan suaka legal sangat lambat, ujar Hashem. Beberapa pengungsi merana selama berbulan-bulan untuk menunggu wawancara yang akan menjadikan mereka sebagai pengungsi yang memiliki hak-hak hukum di Jerman.

Begitu semua migran diproses, tidak jelas apa yang akan dilakukan negara-negara Eropa dengan banyaknya orang yang juga datang dari Afrika dan Timur Tengah karena kemiskinan ekstrem, yang seringkali dapat mengancam nyawa seperti layaknya perang.

Namun pagi berikutnya di sebuah pasar yang populer di kalangan pengungsi karena menjual barang-barang bekas, atau barang-barang diskon, beberapa orang mengatakan kehidupan mereka di Eropa jauh lebih sulit daripada yang mereka bayangkan.

"Saya berbelanja di sini karena telah menghabiskan semua uang yang saya punya untuk ke Eropa," ujar Manal, ibu tiga anak yang sedang hamil anak keempat. Beberapa minggu lalu, ia melarikan diri dari Yarmouk, kamp pengungsi Palestina di Suriah. "Tapi situasinya sangat sulit, saya tidak tahan lagi."

Sebuah pasar barang bekas atau diskon di Mannheim, Jerman, yang populer di kalangan pengungsi (22/11).

Sebuah pasar barang bekas atau diskon di Mannheim, Jerman, yang populer di kalangan pengungsi (22/11).


Politisi-politisi Amerika

Biasanya, politisi-politisi Amerika yang terkenal di kalangan pengungsi dan migran-migran lainnya adalah mereka yang berurusan dengan kebijakan asing di Timur Tengah dan Afrika.

Namun komentar-komentar dari beberapa kandidat calon presiden AS 2016 dan beberapa gubernur negara bagian dalam seminggu terakhir cukup mengkhawatirkan sehingga mencuri perhatian banyak orang yang tinggal di kamp-kamp di Jerman.

Untuk empat pengungsi muda di dalam sebuah kereta api, saran-saran seperti memantau masjid-masjid di AS, dan melarang para pengungsi dari beberapa negara bagian Amerika tampak seperti solusi ajaib untuk masalah yang bahkan tidak ada.

Kandidat calon presiden Partai Republik Dr. Ben Carson.

Kandidat calon presiden Partai Republik Dr. Ben Carson.



Dari lebih dari empat juta pengungsi Suriah yang jumlahnya terus meningkat, sejauh ini hanya 2.200 yang boleh masuk ke Amerika Serikat.

Presiden AS Barack Obama telah berjanji untuk membuka pintu bagi 10.000 pengungsi Suriah dan mengatakan ia akan memveto undang-undang yang memberi lebih banyak batasan terhadap para pengungsi Suriah dan Irak.

Di kereta api dan di pasar, satu komentar tertentu dari kandidat capres Ben Carson banyak diperbincangkan.

Dalam komentar tersebut, Carson membandingkan teroris dengan "anjing gila" tapi kemudian mengatakan "tapi tidak berarti kita benci semua anjing." Menyebut seseorang "anjing" dalam bahasa Arab merupakan penghinaan besar.

"Pria itu menyebut kita semua anjing gila," ujar Qutaiba, pemuda berusia 16 tahun dari Aleppo, sebuah kota di Suriah yang hancur lebur setelah menghadapi pertempuran selama lima tahun. "Kita harus berpikir bagaimana?" [hd]

XS
SM
MD
LG