Tautan-tautan Akses

Pengungsi Fukushima Enggan Pulang karena Khawatir Radiasi

  • Associated Press

Pekerja distrik Toshima Tokyo dan petugas polisi dekat taman bermain di mana terdeteksi radiasi. Distrik Toshima, Tokyo.

Pekerja distrik Toshima Tokyo dan petugas polisi dekat taman bermain di mana terdeteksi radiasi. Distrik Toshima, Tokyo.

Bencana reaktor nuklir Fukushima menyebabkan lebih dari 150.000 orang dievakuasi. Mayoritas dari mereka tidak ingin kembali ke Fukushima, karena khawatir akan masih adanya ancaman radiasi nuklir.

Mereka merasa seperti pengungsi, meskipun mereka hidup di salah satu negara terkaya dan bangsa paling damai di dunia.

Lima tahun yang lalu, ribuan warga itu meninggalkan rumahnya, membawa apa saja yang mereka bisa, begitu reaktor nuklir dekat tempat tinggalnya meleleh setelah dihantam oleh tsunami serta memuntahkan radiasi. Secara total, bencana di Fukushima berdasarkan hitungan pemerintah telah menyebabkan lebih dari 150.000 orang mengungsi.

Sekitar 100.000 orang masih tersebar di berbagai wilayah di Jepang. Beberapa orang tinggal di unit perumahan sementara yang mirip barak, dan yang lainnya tinggal di bangunan apartemen yang dialokasikan pemerintah yang terletak ratusan kilometer jauhnya dari Fukushima.

Meskipun pihak berwenang telah membuka daerah di sekitar reaktor yang rusak yang sebelumnya dinyatakan sebagai daerah terlarang, hanya sebagian kecil penduduk yang telah kembali. Contohnya, di kota Naraha, di mana perintah evakuasi telah dicabut sejak bulan September tahun lalu. Namun, hanya 459 orang atau sekitar 6 persen saja dari penduduk sebelum terjadinya bencana, yang telah kembali.

Sebagian besar mengatakan mereka tidak ingin kembali karena khawatir dengan radiasi yang masih tersisa. Beberapa lainnya tidak mau repot karena harus pindah rumah lagi, setelah mencoba untuk memulai hidup yang baru di tempat lain.

Dengan berakhirnya bantuan perumahan yang diberikan pemerintah Jepang tahun depan, banyak yang merasa terpaksa bila harus kembali lagi.

Misalnya, Tokido Onoda, seorang perempuan berusia 80 tahun yang tinggal bersama suaminya di apartemen sempit dan berantakan di lantai 21 dari bangunan yang menjulang tinggi di pinggiran Tokyo. Di tempat ini, sekitar 1.000 orang yang terpaksa mengungsi tinggal di perumahan gratis.

Pemerintah di beberapa kota Fukushima yang ditinggalkan sekarang mendesak para penduduknya untuk kembali, dengan mengatakan sekarang sudah aman untuk tinggal di daerah tertentu. Usaha yang ambisius untuk menghilangkan kontaminasi dari petak-petak lahan yang luas dengan membuang humus dan membabat semak-semak telah mengubah ladang dan garis pantai menjadi bentang tanah dengan baris demi baris kantong sampah yang diisi rumput, tanah, dan puing-puing.

Pada saat bantuan perumahan berakhir di bulan April 2017, mereka yang tinggal di apartemen di bawah program pemerintah harus mulai membayar sewa atau pindah. Mereka yang rumahnya di Fukushima berada di daerah larangan untuk tinggal akan terus menerima bantuan.

Onoda khawatir bantuan yang diterimanya akan dihentikan karena rumahnya di Namie, termasuk bagian kota di mana perintah evakuasi berangsur-angsur dicabut pihak berwenang.

Ia tidak percaya kalau sekarang sudah cukup aman untuk kembali. Ia merasa tertipu karena ia percaya pada keamanan pembangkit tenaga nuklir.

Dengan marah Onoda membicarakan bagaimana penguasa memperlakukan orang sepertinya. Mengapa pemerintah tidak memberikan tanah kepadanya di tempat lain untuk membangun rumah?

Ketika ia tinggal di Fukushima, ia memiliki rumah besar dengan kebun dimana ia dapat menanam sayur dan bunga peony. Ia memetik jamur dan pakis di bukit-bukit.

“Kami bekerja keras sekali untuk membangun rumah itu,” ujarnya, sering berhenti untuk menyeka air matanya. “Tidak ada kekhawatiran bagi kami kecuali untuk merencanakan liburan ke sumber mata air panas.”

Rumah itu sekarang sudah tidak karuan. Meskipun rumah tersebut bertahan dari gempa bumi 9,0 Skala Richter pada 11 Maret 2011, perampok telah menjarahnya dan tikus telah membuat lubang di dinding. Terakhir kali ia mengunjunginya, alat ukur radiasi menunjukkan 4 microsieverts per jam, lebih dari 100 kali lipat rata-rata radiasi di udara yang terpantau di Tokyo. Kondisi tersebut tidak langsung membahayakan nyawa namun membuat Onoda merasa tidak nyaman karena kekhawatiran munculnya kanker atau penyakit lain di tahun-tahun mendatang.

Sebelum terjadi bencana, pemerintah telah menentukan dosis radiasi tahunan yang aman sebesar 1 millisievert. Setelah itu, pemerintah mengadopsi dosis sebesar 20 millisievert yang direkomendasikan oleh International Commission on Radiation Protection yang ditentukan untuk kondisi darurat, dan 1 millisievet menjadi tujuang jangka panjang.

Onoda mengatakan ia telah berusaha sebaik mungkin untuk mengatasi kondisi ini. Ia berteman dengan banyak orang. Ia berusaha untuk menyibukkan diri dengan pesta minum the, mengikuti kelas seni, dan berpartisipasi dalam perkumpulan menjahit.

Dan sekarang mereka menginginkannya untuk kembali, setelah semua yang ia alami?

“Hanya orang yang telah mengalami evakuasi ini yang dapat memahami,” ujarnya.

____

Ryuichi Kino, seorang wartawan menulis, menyunting, dan menyusun buku pada tahun 2015, yang berjudul “Kertas Putih tentang Pengungsi Akibat Bencana Nuklir,” percaya orang-orang seperti Onoda telah diperlakukan seperti “kimin,” yang artinya “orang yang telah dibuang” karena mereka telah dilupakan atau ditinggalkan oleh masyarakat.

“Bahkan kita tidak mengetahui jumlah pastinya,” ujarnya, dengan mengatakan bahwa pemerintah kurang memiliki definisi yang jelas untuk “pengungsi,” dan mendasarkan angkanya pada perhitungan dari mereka yang menerima bantuan. Hitungan baru-baru ini di Fukushima dan prefektur yang berdekatan menemukan jumlahnya bisa jadi sebanyak 200.000 orang, ujar Kino.

“Evakuasi adalah istilah yang mengasumsikan situasi ini hanya bersifat sementara, dan ada tempat untuk kembali,” ujar Kino.

Pemerintah menghabiskan dana sebanyak kurang lebih 40 milyar yen ($400 juta) setahun untuk bantuan perumahan bagi mereka yang tersingkir oleh bencana. Secara finansial, pemerintah juga mendukung operator pembangkit nuklir Fukushima Dai-ichi yang hancur, Tokyo Electric Power Co., untuk membuat pembayaran kompensasi bulanan, saat ini secara kumulatif telah mencapai 5,9 trilyun yen ($59 milyar) dan terus meningkat.

Beragam tes terhadap para relawan yang mengenakan alat ukur radiasi untuk masa dua minggu di kota Naraha menemukan paparan radiasi rata-rata berada pada 1,12 millisieverts per tahun.

Pejabat pemerintah Yuji Ishizaki, yang mengawasi penghentian perintah untuk evakuasi, mengatakan ia sekedar mengikuti kebijakan.

“Tidak ada batasan yang jelas tentang apa yang aman dan tidak aman untuk radiasi,” ujarnya. “Bahkan 1 millisievert bisa jadi tidak benar-benar aman.”

Fukushima Medical University, lembaga akademis utama yang mempelajari efek kesehatan dari bencana nuklir, mengatakan sejauh ini tidak ada penyakit terkait radiasi yang telah terdeteksi, meskipun penyakit yang disebabkan oleh kurangnya olahraga, asupan makanan yang buruk, dan tekanan mental telah teramati.

Lebih dari 100 kanker thyroid yang ditemukan di antara 370.000 orang berusia 18 tahun atau kurang pada saat terjadi bencana disebut oleh universitas tersebut sebagai “efek saringan,” atau hasil dari pengujian yang lebih seksama.

Beberapa ilmuwan mengatakan tingginya angka tersebut tidak wajar, mengingat kanker thyroid di antara anak-anak termasuk langka yaitu dua atau tiga dari satu juta. Kanker thyroid di antara mereka yang berusia muda melonjak di Ukraina dan Belarusia setelah bencana Chernobyl tahun 1986.

_____

Seiichi Nakate relatif puas dengan kehidupannya yang baru bersama istri dan dua anak, masing-masing berusia 13 dan 11 tahun, di kota Sapporo yang terletah di utara, 600 kilometer dari Fukushima. Di sana, sekitar 1.500 orang dari Fukushima telah membentuk jejaring pendukung, yang acap kali berkumpul untuk minum-minum dan saling mendukung untuk mencari pekerjaan.

Nakate baru-baru ini membeli rumah dan memulai usaha yang membantu kaum disabilitas mendapatkan asisten profesional, dan telah mempekerjakan mantan penduduk Fukushima. Ia bersumpah tidak akan kembali ke Fukushima karena masih adanya bahaya radiasi.

Ia percaya sejak awal, penguasa meremehkan risiko-risiko yang ada. Ia tidak percaya pada mereka.

Setelah bencana, ia segera mengirim istri dan anak-anaknya ke rumah kerabat di Jepang selatan. Keluarga itu kemudian kembali berkumpul di Sapporo setahun kemudian.

Berakhirnya bantuan pemerintah untuk rumah tinggal membuat orang-orang terpaksa kembali, ujarnya.

“Pemerintah meninggalkan penduduk Fukushima, bahkan anak-anak mereka. Saat ini kebijakan pemerintah adalah untuk memaksa kami kembali,” ujarnya. “Itu adalah kebijakan yang memaksakan (risiko terkena) radiasi kepada orang-orang,” kecamnya.

Megumi Okada, ibu empat anak, berjuang keras untuk mempertahankan bantuan perumahan yang ia terima di Tokyo, mengumpulkan orang untuk menandatangani petisi dan mengadakan pertemuan dengan para pejabat pemerintah.

Ia melontarkan sindiran kepada para pejabat yang terus menerus berkata orang-orang hidup “sama normalnya” di sebagian besar Fukushima. Ia tidak ingin anak-anaknya makan makanan dari situ atau menghirup udaranya. Mereka menjalani uji darah berkala untuk memastikan bahwa mereka sehat.

Suaminya telah mendapatkan pekerjaan sebagai pekerja konstruksi di Tokyo. Apartemen mereka hanya terdiri dari dua kamar dan sebuah dapur, namun biaya sewanya ditanggung pemerintah. Okada ingin bekerja, namun perawatan anak yang dibiayai publik sulit diperoleh di Jepang, dan yang ditanggung sendiri sangat mahal.

“Tak ada kemajuan dalam kurun waktu lima tahun,” ujarnya. “Kami berhak untuk tetap mengungsi.”

Okada berkata ia ingin mengajukan permohonan status sebagai pengungsi ke PBB dan pindah ke Eropa bersama keluarganya, apabila ia mampu.

“Saya tahu orang Jepang tidak pantas menjadi pengungsi sekarang. Namun saya harap saya bisa,” ujarnya. “Bagi kami ini masalah untuk bertahan hidup.” [ww]

XS
SM
MD
LG