Tautan-tautan Akses

Penghentian Uji Klinis Lebih Awal Hasilnya Bisa Menyesatkan


Penulis studi ini mengatakan periset harus mampu menahan tekanan untuk mengakhiri uji klinis lebih awal.

Penulis studi ini mengatakan periset harus mampu menahan tekanan untuk mengakhiri uji klinis lebih awal.

Kadang-kadang peneliti menghentikan uji coba klinis karena hasil percobaan terlihat mendekati sempurna. Sebuah kajian internasional membuktikan hasil-hasil percobaan seperti itu mungkin saja menyesatkan.

Bila peneliti mengakhiri uji coba klinis lebih awal karena hasil percobaan lebih baik dari yang diperkirakan, besar kemungkinan obat baru itu akan segera dipasarkan, sehingga pasien dapat memperolehnya lebih cepat daripada jika uji coba itu dilakukan sesuai waktu yang direncanakan.

Kedengarannya baik, tetapi kenyataannya mungkin tidak demikian.

Sebuah analisis internasional atas 100 uji coba klinis yang diakhiri lebih awal menemukan hasil-hasil percobaan itu seringkali menyesatkan dan kadang-kadang membahayakan kesehatan.Dr. Victor Montori dari Klinik Mayo salah seorang penyusun laporan itu, mengatakan :

“Yang terjadi adalah data diperoleh ketika hasil sementara tampak bagus. Data itu kemudian dikumpulkan dan kelihatannya berdampak besar, tetapi jika dihubungkan dengan data-data berikutnya, dampaknya mungkin kecil saja.”

Atau, manfaat obat itu bahkan mungkin tidak ada sama sekali.

“Kajian-kajian itu bukan hanya menyesatkan, tentang berapa besar sesungguhnya pengaruh obat itu, tetapi juga apakah obat itu benar-benar ada pengaruhnya.”

Berbagai uji coba klinis yang dikaji Dr. Montori dan mitra-mitranya berakhir lebih awal karena hasil-hasil percobaan eksperimentalnya lebih baik daripada cara-cara pengobatan yang sudah ada.

Sebuah contoh adalah penelitian beta-blocker, obat tekanan darah tinggi. Beta-blocker memperlambat detak jantung dan dapat mencegah serangan jantung ketika pasien sedang menjalani operasi.

Uji coba awal dihentikan karena obat ini tampaknya sangat manjur jika diberikan sebelum operasi. Obat itu tampaknya mengurangi tingkat kematian. Tetapi uji coba yang lebih besar memperlihatkan banyak pasien yang diberi obat itu justru punya risiko tingkat kematian yang lebih tinggi.

Dr. Montori dan para peneliti lainnya membandingkan 100 uji coba yang dihentikan awal dengan lebih dari 400 uji coba lain yang dilakukan sampai selesai. Mereka menemukan hasil-hasilnya menyesatkan khususnya dalam berbagai uji coba skala kecil yang berakhir awal.

Dr. Montori mengatakan penemuan-penemuan yang salah itu membuat para peneliti enggan mengulangi penelitian untuk melihat apakah mereka akan mendapatkan hasil positif yang sama.

Para penyusun laporan itu mengatakan para peneliti harus bisa melawan tekanan untuk mengakhiri uji coba lebih awal. Dengan demikian, akan mencegah pasien dan dokter membuat pilihan-pilihan pengobatan yang didasarkan pada informasi yang kurang tepat, atau lebih-lebih lagi, memilih sebuah pengobatan walaupun cara lain ternyata lebih baik.

XS
SM
MD
LG