Tautan-tautan Akses

Penghargaan Sastra untuk Charlie Hebdo Picu Kontroversi

  • Carolyn Weaver

Bunga-bunga dipasang di pagar di luar kantor pusat Charlie Hebdo di Paris, seminggu setelah serangan terhadap tabloid tersebut. (Foto: Dok)

Bunga-bunga dipasang di pagar di luar kantor pusat Charlie Hebdo di Paris, seminggu setelah serangan terhadap tabloid tersebut. (Foto: Dok)

Beberapa penulis Amerika mengekspresikan ketidaknyamanan mereka dengan karikatur-karikatur Charlie Hebdo, menganggap beberapa diantaranya tidak sensitif, bahkan rasis.

Tabloid satiris Perancis, Charlie Hebdo telah mendapat penghargaan kebebasan berpendapat dari PEN American Center.

Perwakilan tabloid itu mendapat tepuk tangan gemuruh Selasa malam (12/5) setelah perdebatan emosional selama seminggu mengenai apakah penghargaan itu pantas diberikan.

Keamanan berlangsung sangat ketat sewaktu Salman Rushdie, Neil Gaiman, serta ratusan penulis, editor dan yang lainnya dari industri penerbitan menghadiri pesta besar PEN di American Museum of Natural History di kota New York.

Michael Ondaatje, Peter Carey dan empat penulis lainnya yang dijadwalkan datang batal hadir karena keberatan atas kartun majalah itu yang menggambarkan Nabi Muhammad dan menyerang Muslim. Charlie Hebdo diberi hadiah itu setelah penembakan bulan Januari di kantor tabloid itu yang menyebabkan 12 orang tewas.

Penghargaan organisasi sastra itu membagi elit sastra AS yang biasanya harmonis dan kekiri-kirian, dengan beberapa penulis paling ternama saling melemparkan tuduhan pengecut dan buta atas rasialisme.

Menyusul serangan terhadap Charlie Hebdo, beberapa penulis Amerika mengekspresikan ketidaknyamanan mereka dengan karikatur-karikatur Charlie Hebdo, menganggap beberapa diantaranya tidak sensitif, bahkan rasis.

Dan beberapa hari setelah kantor PEN di Amerika mengatakan akan memberi PEN/Toni and James C. Goodale Freedom of Expression Courage Award kepada Charlie Hebdo, enam anggota terkemuka menulis surat protes, mengatakan mereka mundur dari acara di New York.

Surat tersebut, ditulis oleh Francine Prose, Peter Carey, Michael Ondaatje, Teju Cole, Rachel Kushner dan Taiye Selasi, menyebut pembunuhan itu "menjijikkan dan tragis" dan mengatakan tidak ada ekspresi pendapat apa pun, "sebagaimana tidak disukainya," harus menghadapi kekerasan.

Namun mereka mengatakan bahwa beberapa ekspresi tidak seharusnya "diberi penghargaan secara antusias." Menggambarkan populasi Muslim Perancis sebagai "termarjinalisasi, diperangi dan jadi korban," para penulis tersebut menegaskan bahwa "Kartun-kartun Charlie Hebdo mengenai Nabi harus dilihat sebagai niat untuk menimbulkan penghinaan dan penderitaan lebih jauh."

"PEN tidak hanya memberikan dukungan pada kebebasan berpendapat, tapi juga secara berani memilih materi yang menyerang: materi yang mengintensifkan sentimen-sentimen anti-Islamis, anti-Maghreb, anti-Arab yang sudah umum di dunia Barat," menurut para penulis tersebut.

Lebih dari 200 anggota PEN lain sejak itu telah memasukkan nama mereka ke dalam surat protes, bahkan saat yang lainnya, termasuk Salman Rushdie, muncul untuk membela penghargaan itu dan menyerang para pengkritik.

Rushdie, yang hidup dalam persembunyian selama bertahun-tahun karena ancaman kematian dari kelompok Islamis untuk novelnya 'Ayat-ayat Setan', mengatakan kepada kantor berita The Associated Press, "Isu ini tidak ada hubungannya dengan minoritas yang tertekan dan miskin. Ini terkait dengan peperangan melawan Islam fanatik, yang sangat terorganisir, didanai dengan baik dan ingin menakuti kita semua, baik Muslim maupun non-Muslim, sehingga kita tunduk diam."

Di New York untuk menerima penghargaan untuk Charlie Hebdo, pemimpin redaksi Gerard Biard dan kritikus film Jean-Baptiste Thoret berbicara pada sebuah panel PEN mengenai kontroversi tersebut.

Biard mengatakan bahwa tabloid itu sejak terbit pada 1960an telah melawan "semua diskriminasi atas minoritas, perempuan, gay, warga yang lemah, orang miskin. Dan kami selalu melawan sayap kanan dan ekstrem kanan, bahkan lebih kepada Katolik atau agama-agama lainnya," ujarnya. "Kami tidak punya masalah dengan agama. Kami melawan penggunaan agama sebagai politik."

Mengenai kartun-kartun itu, Thoret mengatakan, "Jika Anda membuat upaya untuk memahami apa yang dimaksud oleh kartun tersebut, Anda tidak akan terhina. Ini lebih kepada mendorong batas, atau (mencoba) provokatif. Tujuannya untuk membuat orang-orang bepikir lebih keras, untuk sedikit lebih pintar dari sebelumnya."

Hanya sebagian kecil kartun sampul Charli Hebdo merupakan karikatur tokoh-tokoh Muslim. Lebih banyak lagi secara grafis menjadikan satir para pemimpin Katolik dan Yahudi serta tokoh-tokoh politik. Kartun-kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad, menurut para editor, bukanlah anti-Islam, namun lebih kepada mengolok-olok ekstremis dan faksi-faksi kekerasan.

Suzanne Nossel, direktur eksekutif PEN American Center, membela penghargaan tersebut.

"Keberanian adalah kata yang muncul di kepala saya, keberanian untuk terus setelah pemboman pada 2011 dan awal tahun ini, setelah staf-nya diserang," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa, meskipun penghargaan itu bukan penghargaan sastra atau sebuah penilaian artistik, "apa yang kita simbulkan, dan kami cukup tegas, bahwa ini tidak merupakan pidato kebencian, dan jika Anda memahaminya dalam konteks, cukup jelas bahwa mereka satiris. Mereka menarget tokoh-tokoh kekuasaan, simbol-simbol kekuasaan dalam banyak kedok."

XS
SM
MD
LG