Tautan-tautan Akses

Penggunaan Air Keras Masih Marak di Pakistan


Para korban serangan air keras di Kunduz, Pakistan, yang disebabkan karena penolakan orangtua mereka untuk menikahkan anaknya pada tuan tanah. (Foto: Dok)

Para korban serangan air keras di Kunduz, Pakistan, yang disebabkan karena penolakan orangtua mereka untuk menikahkan anaknya pada tuan tanah. (Foto: Dok)

Dua korban yang berusaha menata kembali kehidupannya berbicara pada VOA mengenai kendala-kendala yang mereka hadapi.

Meski ada aturan yang melarang serangan dengan air keras, praktik menyiram zat asam tersebut pada laki-laki, perempuan dan anak-anak sebagai bentuk hukuman terus belanjut di Pakistan.

Muhammad Hassan Mangi, Direktur Jenderal Kementerian Hak Asasi Manusia di Pakistan, mengatukan ada undang-undang melawan serangan air keras. Namun ia mengakui, masih banyak yang harus dilakukan.

"Anda perlu metode-metode dan hal-hal dalam praktik untuk mengekspresikan bahkan amarah secara sopan. Hal itu harus dipahami oleh masyarakat," ujarnya.

Muhammad Farooq, yang menolak menikahi seorang perempuan yang dipilihkan keluarganya, mendapat hukuman disiram air keras ke muka.

"Rasanya seperti air, tapi saya salah. Zat asam itu membakar wajah dan tubuh saya. Kulit saya bergemeretak seperti daun kering," ujar Farooq.

Ia termasuk dari 40 persen laki-laki atau anak laki-laki yang mendapat serangan air keras di Pakistan.

Farooq mengalami luka fisik yang parah dan depresi mendalam.

"Awalnya saya putus asa. Tidak ada yang tersisa dalam hidup saya. Tidak ada masa lalu, masa depan, masa kini," ujarnya.

Ada 143 serangan air keras yang dilaporkan oleh Acid Survivors Foundation pada 2013. Sebagian besar adalah perempuan, baik anak-anak maupun dewasa.

Saudara laki-laki Nusrat Bibi menolak menikah dengan perempuan dari keluarga iparnya, dan Bibi lah yang harus menanggung akibatnya. Ia telah menjalani 17 operasi untuk memperbaiki tubuh dan wajahnya.

"Siapapun yang melihat saya jadi takut. Orang-orang menunjukkan foto saya ke anak-anak saya untuk menakut-nakuti mereka, memberitahu mereka bahwa ibu mereka menakutkan dan telah jadi hantu," ujar Bibi.

Valerie Khan, ketua lembaga bantuan penyintas Acid Survivors Foundation di Islamabad, mengatakan mematahkan stigma luka-luka penyintas adalah penting untuk membuat mereka bertahan.

"Ini mengenai pembentukan kembali pikiran mereka, kepercayaan diri mereka, dan mengklaim kembali tempat dalam masyarakat dan publik sebagai laki-laki, perempuan, yang pantas dan akan mendapatkan, rasa hormat dan harga diri mereka," ujarnya.
Farooq tidak lagi menyembunyikan wajahnya. Ia mencoba fotografi dan menjalani kembali hidupnya.

“Pesan saya terhadap mereka yang melakukannya adalah Anda telah melakukan yang terbaik untuk membunuh kami, tapi kami diselamatkan. Insya Allah kami akan terus maju. Jangan hilang harapan, terus bersabar. Ini adalah uji kesabaran. Tuhan akan memberi kita ganjaran," ujarnya.
XS
SM
MD
LG