Tautan-tautan Akses

Ratusan Pengemudi Truk Blokir Calais, Tuntut Penutupan Kamp Migran


Ratusan demonstran dengan mengibarkan bendera Perancis, memblokir jalan utama di Calais, Perancis utara hari Senin (5/9).

Ratusan demonstran dengan mengibarkan bendera Perancis, memblokir jalan utama di Calais, Perancis utara hari Senin (5/9).

Para pengemudi truk Perancis tersebut merasa frustrasi dengan upaya sejumlah migran meloncat masuk ke kendaraan mereka supaya bisa menyelinap lewat English Channel.

Ratusan pengemudi truk besar, petani yang mengendarai traktor, buruh pelabuhan dan pedagang memblokir jalan utama di bagian utara Perancis hari Senin (5/9) menuntut penutupan kamp migran Calais, yang kini dikenal sebagai “hutan”.

Otorita lokal menyerukan para pengguna jalan untuk menghindari daerah itu sehingga tidak terganggu oleh pemblokiran jalan tersebut. Pemblokiran bertujuan melumpuhkan lalu lintas pada rute yang digunakan untuk mencapai Inggris melalui jalur terowongan ‘’Eurotunnel’’ dan pelabuhan.

Ketegangan memuncak ketika jumlah penghuni kamp itu meningkat pesat menjadi sedikitnya tujuh ribu migran – yang berasal dari Timur Tengah dan Afrika – yang berupaya masuk ke Inggris. Terus meningkatnya jumlah migran ini meskipun pihak berwenang telah memperketat keamanan dan menutup separuh kamp itu, menunjukkan tantangan krisis migran yang dihadapi Eropa.

‘’Jangan sampai langkah kami ini disalahpahami. Kami tidak menentang para migran. Kami hanya mengecam pemerintah karena tidak membuat keputusan yang baik’’, ujar Frederic Van Gansbeke, yang membantu mengorganisir demonstrasi itu.

Menteri Dalam Negeri Perancis Bernard Cazeneuve hari Jum’at (2/9) mengumumkan bahwa pemerintah akan membongkar kamp itu “dalam suatu operasi terkendali’’ sesegera mungkin, tetapi para demonstran menghendaki kepastian tanggal.

Para pengemudi truk frustrasi dengan upaya sejumlah migran meloncat masuk ke kendaraan mereka supaya bisa menyelinap lewat English Channel, sementara para pedagang lokal mengatakan migran itu telah mengganggu perekonomian dan merusak citra kota itu.

Dalam beberapa bulan terakhir ini para migran telah meningkatkan taktik berbahaya untuk memperlambat laju truk sehingga mereka bisa melompat naik di bagian belakang truk itu, dengan cara melemparkan ranting-ranting pohon dan objek lain ke jalan, sehingga menimbulkan resiko bagi pengemudi truk dan diri mereka sendiri. Tahun ini tujuh migran tewas di jalan akibat tindakan-tindakan tersebut.

Sambil memegang kaos ‘’Saya Cinta Calais’’, Walikota Calais Natacha Bouchard berjalan bersama para pedagang, menuntut dipulihkannya ketertiban umum di kota itu dan mengecam pemerintah Sosialis yang telah mengirim ribuan polisi tetapi gagal merancang rencana global guna mengakhiri krisis tersebut.

Sekitar 2.000 polisi telah dikirim ke Calais untuk melindungi jalur masuk ke Eurotunnel dan pelabuhan – jalur-jalur ekonomi penting di kota itu – dan mengejar para migran di jalan, yang kerap dilakukan dengan gas air mata.

Pemerintah Perancis mengatakan sekitar 7.000 migran tinggal di kamp itu, tetapi kelompok-kelompok bantuan memperkirakan jumlahnya mencapai lebih dari 9.000 orang. [em]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG