Tautan-tautan Akses

Mekanisme Pengawasan Distribusi Soal Ujian Nasional Dinilai Berlebihan


Petugas keamanan melakukan penjagaan di depan SMAN 1 Denpasar saat pelaksanaan UN. Penjagaan yang berlebihan dikhawatirkan menimbulkan beban psikologis bagi para siswa.

Petugas keamanan melakukan penjagaan di depan SMAN 1 Denpasar saat pelaksanaan UN. Penjagaan yang berlebihan dikhawatirkan menimbulkan beban psikologis bagi para siswa.

Secara umum pelaksanaan UN tahun ini berjalan lancar, namun DPR RI menyesalkan mekanisme pengawasan pendistribusian soal yang dinilai berlebihan.

Secara serentak ujian nasional (UN) tingkat SMA/SMK diselenggarakan diseluruh Indonesia. Anggota Komisi X DPR RI Nasruddin menyesalkan mekanisme pengawasan distribusi soal UN yang berlebihan.

Hal tersebut disampaikan Nasruddin usai melakukan pemantauan pelaksanaan ujian nasional di 3 sekolah di Denpasar Bali yaitu SMA Negeri 4 Denpasar, SMK Negeri 1 Denpasar dan SMA Negeri 1 Denpasar pada Senin Pagi (16/4).

Menurut Nasruddin, mekanisme pengawasan distribusi soal yang berlebihan terlihat dari pengawasan yang dilakukan tentara dan polisi hingga ke tingkat sekolah. Apalagi dari hasil pemantauan yang dilakukan terlihat polisi dan tentara ikut masuk ke ruang kelas. Nasruddin mengungkapkan Pengawasan yang berlebihan seperti ini akan sangat berpengaruh pada kondisi psikologis siswa.

“(Ini) akan mempengaruhi secara psikologis terhadap anak-anak yang mau ujian, seolah-olah ada apa ini, kok ujian begitu semacam ada kebocoran, padahal sesungguhnya tidak demikian. Ini kelihatanya terlalu over, sehingga saya khawatir,“ ujar Nasruddin.

Nasruddin berharap ke depan pemerintah melakukan evaluasi terhadap mekanisme pengawasan pendistribusian soal UN. Sedangkan Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Denpasar Drs. I Nyoman Purnajaya menyatakan tekanan psikologis bisa saja terjadi dialami oleh siswa akibat pengawasan yang berlebihan.

“Mungkin saja itu terjadi secara keseluruhan pada siswa, tetapi saya belum mendapat laporan, mungkin seperti tadi saya katakan hal-hal kecil seperti itu tidak sampai di laporkan ke kepala sekolah, mungkin dengan guru dan pada orang tua mereka, kami berusaha membangun rasa percaya diri anak-anak kami,” papar Purnajaya.

Sementara, beberapa siswa mengakui ketatnya pengawasan pelaksanaan UN pada tahun ini. Para siswa juga sempat dibuat bingung dengan adanya lembar jawaban yang kotor akibat tidak sempurnanya pencetakan, seperti diakui siswi SMA negeri 1 Denpasar Ni Made Ratih Purnama Dewi.

“Yang tadi bahasa Indonesia agak sedikit kotor samping-sampingnya, tadi teman saya beberapa agak bingung bertanya, Ibu ini kenapa, ini tidak apa-apa atau bagaimana? Kita tidak tahu bagaimana kriteria kertas yang sebenarnya itu, salah atau benar? Kita tidak tahu,” kata Purnama Dewi.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan jumlah peserta UN tingkat SMA/SMK pada tahun ini mencapai 2,58 juta siswa. UN pada tahun ini dipantau langsung oleh sekitar 300 pemantau independen yang tersebar di seluruh provinsi.
XS
SM
MD
LG