Tautan-tautan Akses

Pengaruh Nigeria Kecil untuk Stabilkan Harga Minyak


Delegasi OPEC mengunjungi kantor perusahaan minyak nasional Nigeria atau NNPC (Nigerian National Petroleum Corporation) di Abuja (foto: dok). Nigeria terpukul oleh anjloknya harga minyak dunia.

Delegasi OPEC mengunjungi kantor perusahaan minyak nasional Nigeria atau NNPC (Nigerian National Petroleum Corporation) di Abuja (foto: dok). Nigeria terpukul oleh anjloknya harga minyak dunia.

Anjloknya harga minyak mentah di seluruh dunia telah memukul perekonomian Nigeria, memperlambat pertumbuhan ekonomi dan memangkas pendapatan pemerintah.

Dalam kunjungannya ke Timur Tengah baru-baru ini, Presiden Nigeria Muhammadu Buhari menyerukan tindakan untuk menstabilkan harga minyak. Tapi para analis mengatakan tidak banyak yang bisa diperbuat oleh Nigeria untuk mempengaruhi negara-negara seperti Arab Saudi agar memangkas produksi minyak.

Dalam pertemuan dengan penguasa Qatar hari Sabtu (27/2), Buhari menyebut rendahnya harga minyak mentah “sangat tidak bisa diterima”. Ia mengatakan para anggota kartel OPEC lainnya perlu bekerja sama untuk menstabilkan harga minyak.

Harga minyak global anjlok sejak tahun 2014. Harga per barel berkisar 35 dolar dibandingkan lebih dari 100 dolar dua tahun lalu. Salah satu cara menaikkan harga minyak adalah dengan mengurangi produksi tapi para produsen minyak terbesar tidak mau melakukannya.

Rhidoy Rashid, analis dari Energy Aspects yang berkantor pusat di London mengatakan Arab Saudi harus memimpin setiap pemangkasan dalam produksi OPEC.

"Arab Saudi tidak bersedia memangkas produksi secara sepihak untuk memperkuat pasar dan sangat skeptis terhadap negara-negara lain termasuk Nigeria bahwa mereka akan memenuhi janji untuk mengurangi produksi," ulas Rashid.

Buhari juga berkunjung ke Arab Saudi. Di sana Buhari mengatakan Nigeria “menanggung akibat”atas kegagalan melakukan diversifikasi pendapatan minyak dan menyerukan pembangunan sektor-sektor pertanian dan pertambangan negara itu.

Dalam sebuah pernyataan, kantor Buhari mengatakan ia dan pemimpin Arab Saudi bertekad “melakukan apa saja yang bisa dilakukan untuk menaikkan harga minyak."

Tapi analis Hannes Loacker dari Raiffeisen Bank International yang berkantor di Wina mengatakan Nigeria tidak tertarik untuk mengurangi produksinya sendiri karena ancaman-ancaman dari militan dan pencuri minyak.

"Saya kira mereka tidak akan melakukan hal ini.Nigeria menghadapi banyak masalah terkait serangan atas saluran pipa minyak di negaranya," ujar Loacker.

Anggota-anggota OPEC dijadwalkan untuk bertemu akhir bulan ini di mana mereka diharapkan untuk mempertimbangkan batas produksi. Tapi Loacker mengatakan hal itu hanya akan efektif kalau semua negara mematuhinya dan Iran sudah mengisyaratkan tidak akan mematuhinya.

Jika harga minyak meningkat kata Loacker kemungkinan akan disebabkan oleh menguatnya pertumbuhan ekonomi di pasar-pasar yang baru bangkit seperti China, yang baru-baru ini menghadapi tingkat pertumbuhan yang lamban dan bursa sahamnya yang bergejolak. [my/ii]

XS
SM
MD
LG