Tautan-tautan Akses

Pengamat Politik: Rangkul Kubu Koalisi Merah Putih, Jokowi Bermanuver Politik


Presiden Jokowi di antara tokoh-tokoh Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih dalam pembukaan Rakernas PAN di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2015. (VOA/Andylala)

Presiden Jokowi di antara tokoh-tokoh Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih dalam pembukaan Rakernas PAN di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2015. (VOA/Andylala)

Pidato politik Presiden Joko Widodo dalam acara Rapat kerja Nasional Partai Amanat Nasional, menuai tanggapan dari berbagai kalangan.

Ajakan bersatunya para pimpinan partai politik yang disampaikan Presiden Joko Widodo dalam pembukaan Rapat kerja Nasional (Rakernas) Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta Rabu (6/5) mendapat tanggapan positif dari berbagai kalangan.

Peneliti senior Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Rahadi T Wiratama kepada VOA Kamis (7/5) mengatakan kehadiran para pimpinan partai politik baik yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Hebat (KIH) maupun yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih dalam Rakernas PAN menunjukan konflik politik pasca pemilihan presiden 2014 sudah berakhir.

"Ini menunjukkan suatu sinyal politik positif bahwa, konflik-konflik yang terjadi di elit politik semakin bisa mencair. Sehingga kisruh politik yang terjadi dalam bulan-bulan terakhir yang lalu itu masih merupakan gangguan stabilitas dan ketidakpastian, saat ini semakin hari semakin bisa menunjukan suasana politik yang kondusif," ujarnya.

Situasi politik apapun kondisinya menurut Rahadi akan sangat berpengaruh kepada kehidupan sosial masyarakat khususnya menyangkut soal stabilitas ekonomi.

Yang justru saat ini terjadi menurut Rahadi adalah munculnya kesan publik yang menangkap seolah ada hubungan yang sedikit terganggu antara PDI Perjuangan dengan Presiden Jokowi.

"PDI Perjuangan mencoba menawarkan kepada Presiden untuk menilai kinerja kabinet, publik mungkin menangkapnya sebagai sebuah manuver politik berupa tekanan politik ke Presiden agar segera melakukan reshuffle kabinet (pergantian menteri). Sekalipun PDIP memastikan kehadiran beberapa politisinya di Istana (Rabu 6/5) bukan untuk mengusulkan reshuffle kabinet kepada Presiden," kata Rahadi.

Sementara itu, Pengamat Politik Centre for Strategic of International Studies (CSIS) Arya Fernandes kepada VOA berpendapat, Presiden Jokowi tampak berusaha menjaga keseimbangan politik dan menjadikan arena Rakernas PAN sebagai ruang untuk mengambil hati kubu Koalisi Merah Putih.

"Ada usaha dari Presiden untuk menggandeng (KMP) dan menambah kekuatan politik di parlemen. Bagaimanapun dengan posisi yang tidak seimbang di parlemen secara hitung-hitungan diatas kertas yang tentu menyulitkan Presiden," kata Arya.

Namun menurut Arya, meski ada sinyal Presiden membuka pintu bagi partai politik di KMP untuk bergabung mendukung pemerintah, tidak akan langsung diterima khususnya bagi PAN karena terkait dengan posisi tawar menyangkut berbagai kebijakan dari pemerintah. Kecuali untuk partai yang tengah dilanda konflik seperti Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Golongan Karya (Golkar). Partai–partai dalam KMP saat ini juga terlihat berupaya menjaga hubungan sebaik mungkin dengan Presiden Jokowi mengingat semakin dekatnya pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Kemampuan Presiden Jokowi dalam melakukan manuver politik menurut Arya, secara tidak langsung membuat Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri akan berpikir ulang untuk melakukan desakan politik agar Presiden Jokowi segera melakukan reshuffle kabinet.

"Di benak Megawati (menyaksikan langsung pidato Presiden Jokowi di rakernas PAN) tentu sangat takjub ya melihat kemampuan pak Jokowi bermanuver berhubungan dengan elit-elit di luar KIH. Akan sangat berbahaya buat PDIP kalau bermusuhan dengan Pak Jokowi, karena di sisi lain akan juga berpengaruh pada simpati publik terhadap PDIP. Pidato Jokowi jug merupakan sinyal bagi PDIP jika terus mendesak reshuffle dan menyodorkan proposal menteri, karena saat ini pak Jokowi sudah banyak pilihan," tambahnya.

Sementara itu, ekonom Yanuar Rizky kepada VOA berharap, niat baik Presiden Jokowi untuk menyatukan semua partai politik dalam membangun Indonesia, harus juga diikuti oleh para pimpinan parpol untuk terus menjalin komunikasi agar tercipta stabilitas politik sebagai prasyarat stabilitas ekonomi.

"Apa yang terjadi di (rakernas) PAN, baru sebatas simbol. Kalau Presiden Jokowi mau seperti itu, apakah Godfather dan Godmother di masing-masing partai juga (bisa) akrab? Itu yang perlu dibuktikan," ujarnya.

Presiden Joko Widodo bertemu dengan tokoh-tokoh partai politik yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan tokoh-tokoh partai politik yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP) dalam acara pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Pusatdan Rakernas I Partai Amanat Nasional (PAN) 2015 di Jakarta Rabu (6/5). Sebelum menyampaikan pidato politik, Presiden Jokowi menyalami Prabowo Subianto yang pernah menjadi pesaingnya dalam pemilihan Presiden 2014.

"Kenapa tadi saya hampiri Prabowo Subianto, kenapa hampiri Aburizal Bakrie, karena pada malam ini saya berbahagia, karena yang namanya KIH dan KMP semuanya hadir bersama. Ini yang namanya kebersamaan. ini yang namanya kerukunan. Ini yang namanya persatuan. Karena dalam pembangunan sebuah negara tanpa stabilitas politik, tanpa stabilitas keamanan, jangan berharap negara kita dapat bersaing dengan negara lain," kata Presiden Jokowi.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG