Tautan-tautan Akses

Pengamat: Bom Cirebon, Pergeseran Target Serangan Teroris

  • Brian Padden

Seorang polisi siaga di Kantor Polres Cirebon pasca terjadinya ledakan (14/4). Polisi kini semakin sering menjadi target sasaran para teroris.

Seorang polisi siaga di Kantor Polres Cirebon pasca terjadinya ledakan (14/4). Polisi kini semakin sering menjadi target sasaran para teroris.

Dibandingkan menyerang warga asing, ekstrimis kini telah mulai menargetkan polisi dan warga Indonesia yang menentang radikalisme.

Para pengamat masalah keamanan di Indonesia mengatakan sebuah serangan bom bunuh diri di mesjid polisi yang menewaskan pelaku pemboman dan melukai 26 orang lainnya, merupakan bagian dari strategi teroris. Dibandingkan menyerang warga Barat di hotel-hotel dan kedutaan-kedutaan, mereka mengatakan – sekelompok kecil ekstrimis Islam telah mulai menargetkan polisi dan warga Indonesia yang menentang kelompok fundamentalis.

Sidney Jones, pengamat terorisme dari International Crisis Group (ICG), di Jakarta mengatakan peledakan bom bunuh diri hari Jumat lalu yang menargetkan para polisi di kota Cirebon – Jawa Barat, memenuhi pola serangan kecil para teroris baru-baru ini terhadap warga Indonesia.

“Salah satu hal yang bergeser dalam dua tahun terakhir atau lebih adalah lebih banyak tekanan pada target-target lokal dan polisi yang menjadi nomor satu, khususnya sejak terungkapnya kamp pelatihan militan di Aceh pada bulan Februari 2010, dimana polisi menahan lebih dari 100 orang, menewaskan 24 atau 25 orang, dalam upaya untuk menangkap mereka. Dan saya kira, sejumlah kejadian telah membuat polisi menjadi musuh nomor satu,” ujarnya.

Sidney Jones juga mengatakan para petugas inteljen telah belajar bahwa kamp pelatihan teroris yang ditemukan tahun 2010 di Aceh telah digunakan untuk mempromosikan jihad terhadap para petugas lokal yang menentang hukum syariah di Indonesia, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Setelah pemboman bunuh diri hari Jumat lalu, sejumlah bom rakitan dikirim sebagai paket surat kepada orang-orang di Jakarta, termasuk tokoh Muslim liberal yang mendukung pluralism, dan seorang mantan petinggi polisi yang kontra-terorisme. Kebanyakan bom tersebut berhasil dijinakkan dan hanya sedikit orang yang terluka.

Polisi masih menyelidiki siapa yang terlibat dalam aksi peledakan bom bunuh diri hari Jumat dan bom-bom surat sebelumnya.

Sidney Jones, pengamat masalah terorisme dari International Crisis Group.

Sidney Jones, pengamat masalah terorisme dari International Crisis Group.

Sidney Jones mengatakan, dengan cara menemukan siapa yang mengajarkan kelompok-kelompok ini bagaimana membuat bom rakitan, akan dapat menghubungkan serangan-serangan tersebut pada pengaruh radikal tertentu.

“Jika kita melihat kembali beberapa kelompok kecil lainnya yang telah berkembang, meskipun mereka telah menjadi organisasi lebih besar yang independen, mereka semua menemukan seseorang yang berpengalaman dalam operasi sebelumnya yang mau mengajar mereka cara membuat bom. Dalam satu kasus seseorang belajar sendiri lewat internet, tetapi kelompok itu menjadi radikal setelah menghadiri ceramah oleh seseorang yang kini berada di penjara,” papar Jones.

Indonesia merupakan negara sekuler dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Di masa silam, kelompok-kelompok teroris memusatkan serangan pada warga Barat di hotel-hotel besar dan kedutaan. Serangan teroris besar terakhir terjadi pada Juli 2009 ketika dua pelaku bom bunuh diri menewaskan sembilan orang di hotel JW Mariott dan Ritz Carlton Jakarta.

XS
SM
MD
LG