Tautan-tautan Akses

Pengalaman Ibadah Ramadan di Universitas North Carolina

  • Leonard Triyono

Perhimpunan Mahasiswa Muslim di universitas-universitas AS rutin mengadakan kegiatan bersama, termasuk buka bersama dan sholat tarawih pada saat bulan Ramadan (foto: ilustrasi).

Perhimpunan Mahasiswa Muslim di universitas-universitas AS rutin mengadakan kegiatan bersama, termasuk buka bersama dan sholat tarawih pada saat bulan Ramadan (foto: ilustrasi).

Dalam seri Ramadan kali ini, ikuti pengalaman Sri Hapsari Budisulistiorini berpuasa di kampus Universitas North Carolina (UNC) di Chapel Hill.

Kali ini kita bertemu dengan salah seorang mahasiswa Indonesia penerima beasiswa Fulbright yang selama bulan suci Ramadan tetap menjalankan ibadah puasa, walaupun waktu puasa antara fajar dan matahari terbenam sangat panjang dengan suhu udara yang panas.

Universitas North Carolina atau University of North Carolina (UNC) terletak di kota Chapel Hill, negara bagian North Carolina. Universitas dengan jumlah staf akademik lebih dari 3.500 dan staf administratif lebih dari 8.500 ini memiliki sekitar 30 ribu mahasiswa dari seluruh penjuru Amerika dan dari berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia.

Sri Hapsari Budisulistiorini – biasa dipanggil Sari – adalah seorang mahasiswa Indonesia penerima beasiswa Fulbright di salah satu universitas tertua di Amerika ini. UNC didirikan pada tahun 1795 dan menduduki peringkat atas menurut BusinessWeek dan U.S. News & World Report ini. Sari adalah dosen jurusan teknik lingkungan di Universitas Diponegoro, Semarang yang kini menempuh program doktor untuk jurusan teknik lingkungan.

Selama bulan Ramadan, sebagai Muslimah, Sari dengan tekun berpuasa walaupun dalam menunaikan ibadah itu ia menghadapi beberapa tantangan. Karena kebetulan Ramadan tahun ini jatuh pada musim panas, menurut Sari, waktu berpuasa setiap harinya berlangsung selama 16 jam. Selain itu, dalam musim panas ini suhu udara bisa mencapai 40 derajat Celcius.

Bagi Sari, berpuasa di Amerika merupakan tantangan tersendiri. “Menantang, kalau itu yang boleh saya katakan dalam satu kata,” ujar Sari.

Walaupun demikian, Sari mengatakan agar bisa tetap khusyu’ menjalankan salah satu rukun Islam ini, ia berusaha beradaptasi dengan keadaan setempat. Ia juga menerapkan strategi agar ibadah tidak terganggu.

Sari mengatakan, “Supaya tetap bisa puasa memang harus ada strateginya. Kita harus tetap makan buka pada saat buka dan sahur walaupun waktu antara buka dan sahur cukup pendek. Jarak antara buka dan sahur hanya sekitar tujuh jam; jadi mungkin masih merasa kenyang, tapi tetap harus dipaksa makan karena untuk menghadapi 16 jam kita perlu banyak energi dan untuk sahur saya lebih banyak makan sayur dan buah dan banyak minum; jadi mengurangi karbohidrat untuk sahur.”

Selama bulan Ramadan Perhimpunan Mahasiswa Muslim di UNC biasanya mengadakan kegiatan buka bersama dan sholat tarawih. MSA juga mendapat satu ruangan di kampus untuk sholat sehari-hari, sementara sholat Jumat diadakan di Rumah Sakit UNC yang memiliki ruangan ibadah untuk semua agama, tapi untuk hari Jumat digunakan oleh umat Islam.

Sari mengatakan, kebanyakan teman-temannya yang non-Muslim di kampus UNC merasa salut dan takjub bahwa ia bisa menjalankan ibadah puasa yang sesungguhnya sepanjang hari.

Sari menambahkan, “Mereka (mahasiswa non muslim) semua salut dan takjub. Awalnya mereka pikir berpuasa itu tidak makan selama siang hari tapi saya jelaskan bahwa selain tidak makan juga tidak minum, sedangkan selama musim panas ini sangat berat untuk tidak minum sepanjang hari yang sangat panas ini.”

Tentang hal-hal berkenaan dengan ibadah puasa di tanah air yang dirindukan selama ia berada di Amerika, Sari mengatakan ia rindu dengan kegiatan sholat tarawih berjamaah di masjid, karena di sekitar tempat tinggalnya tidak ada masjid. Selain itu, selama musim panas, sholat tarawih di North Carolina harus diadakan terlalu larut malam.

Walaupun demikian, menurut Sari, Ramadan di Amerika tetap menjadi pengalaman yang sangat berharga. Suhu udara yang panas dan waktu berpuasa yang lebih lama setiap harinya baginya merupakan tantangan yang harus dapat dilalui.

XS
SM
MD
LG