Tautan-tautan Akses

Pengakuan Vatikan Kuatkan Dukungan bagi Palestina di PBB

  • Henry Ridgwell

Presiden Palestina Mahmoud Abbas (depan, kiri) bertepuk tangan saat Paus Fransiskus melakukan penasbihan kepada 2 biarawati Palestina sebagai Santo di Vatikan, Minggu (17/5).

Presiden Palestina Mahmoud Abbas (depan, kiri) bertepuk tangan saat Paus Fransiskus melakukan penasbihan kepada 2 biarawati Palestina sebagai Santo di Vatikan, Minggu (17/5).

Kekerasan antara warga Israel dan Palestina pecah di Yerusalem baru-baru ini, menyusul pawai oleh orang-orang Yahudi nasionalis hari Minggu (17/5).

Sementara itu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas menghadiri pertemuan tertutup dengan Paus Fransiskus — beberapa hari setelah Vatikan secara resmi mengakui negara Palestina.

Ribuan jemaah mengikuti misa di Lapangan Santo Petrus hari Minggu (17/5), untuk menyaksikan Paus Fransiskus menasbihkan empat biarawati - termasuk dua dari Palestina yang hidup dalam abad ke-19.

Vatikan berharap penasbihan itu dapat memberikan dorongan kepada umat Kristen di Timur Tengah yang sedang mengalami gelombang penindasan.

Di antara para pengunjung adalah Presiden Palestina Mahmoud Abbas – yang diundang ke sebuah pertemuan tertutup dengan pemimpin Gereja Katolik Roma itu hari Sabtu (16/5).

Pengakuan Paus atas negara Palestina menguatkan dukungan Vatikan bagi Palestina di PBB, kata pengamat Timur Tengah yang yang berkantor di London, Sharif Nashashibi.

Sharif mengatakan, “Dia (Paus) telah melakukan upaya besar untuk menjembatani hubungan dengan Timur Tengah dan merangkul kawasan itu untuk mendukung komunitas Kristen di sana - dan tentu saja ada komunitas Kristen yang cukup besar di Palestina. Paus merupakan tokoh yang sangat populer dan dihormati, bukan hanya di kalangan umat Kristen di Timur Tengah, tapi secara umum di seluruh kawasan itu.”

Sementara, Israel menyatakan “kekecewaannya” akan pengakuan Vatikan atas negara Palestina. Tetapi, pengakuan itu disambut baik oleh warga Palestina.

Polisi Israel menangkap warga Palestina yang berusaha memasuki kota tua Yerusalem, Minggu (17/5).

Polisi Israel menangkap warga Palestina yang berusaha memasuki kota tua Yerusalem, Minggu (17/5).

Sementara doa-doa perdamaian dipanjatkan di Vatikan, di Yerusalem, kekerasan berkobar antara warga Israel dan Palestina hari Minggu (17/5). Orang-orang Yahudi nasionalis memperingati peristiwa tahun 1967 ketika Israel merebut Yerusalem Timur. Mereka berpawai di kota tua yang didominasi warga Muslim itu.

Kekerasan itu terjadi menyusul beberapa acara di wilayah Palestina pekan lalu untuk memperingati apa yang mereka sebut “Nakba” atau “bencana” — peringatan didirikannya negara Israel pada tahun 1948, ketika 700 ribu warga Arab dipaksa meninggalkan rumah mereka.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Presiden Abbas menyerukan kepada warga Palestina supaya jangan kehilangan harapan.

Abbas mengatakan, “Bersama-sama kita memperbarui tekad bahwa kita tidak akan menyerahkan wilayah nasional kita, dan kita tidak akan merundingkannya.”

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan serangan militan Palestina yang menarget warga sipil Israel menyebabkan berakhirnya proses perdamaian, dan mengatakan pemerintahan barunya tidak akan berganti arah.

Netanyahu mengatakan, “Israel akan tetap teguh membela batas-batas wilayah dan membela keamanan kami dari ancaman jauh maupun dekat. Semua musuh negara kami seharusnya tahu bahwa kami punya batas-batas mutlak. Ini adalah kebijakan kami sejak dulu dan akan terus berlanjut dengan pemerintahan baru.”

Vatikan adalah negara ke-135 yang telah mengakui negara Palestina. Para pengamat mengatakan posisi Paus sebagai pemimpin spiritual lebih dari satu milyar umat Katolik menjadikan langkah itu lebih signifikan.

XS
SM
MD
LG