Tautan-tautan Akses

Penembak Norwegia Merinci Pembantaian dalam Sidang


Tersangka pelaku pembantaian Oslo, Anders Behring Breivik saat tampil di hadapan pengadilan di kota tersebut, Selasa (17/4).

Tersangka pelaku pembantaian Oslo, Anders Behring Breivik saat tampil di hadapan pengadilan di kota tersebut, Selasa (17/4).

Anders Behring Breivik tampil tanpa emosi saat memaparkan detail peristiwa berdarah yang menewaskan 69 orang pada tanggal 22 Juli 2011.

Secara mendetail, Anders Behring Breivik, laki-laki Norwegia, Jumat (20/4) waktu setempat menjelaskan bagaimana ia memburu dan menembak mati 69 orang Juli lalu di perkemahan politik pemuda di satu pulau di luar Oslo.

Ekstremis sayap kanan ini mengatakan di pengadilan yang sesak oleh keluarga para korbannya, awalnya ia ragu melaksanakan rencananya menembak orang sebanyak mungkin ketika tiba di pulau Utoya. Ketika itu, ia sudah meledakkan bom mobil di gedung pemerintah di Oslo, menewaskan delapan.

Bersaksi pada hari kelima sidang, Breivik mengatakan, seluruh tubuhnya berusaha melawan keinginan menembak siapapun. Tapi, ia lalu teringat, bahwa ketika ia bertemu dengan korban pertama, "saya angkat senjata dan menembaknya di kepala." Setelah itu, ia mengungkapkan, pembunuhan itu menjadi semakin mudah baginya. Breivik menambahkan, ia berjalan menuju kafe di perkemahan itu dan berpikir, "Sekarang saya akan masuk gedung dan akan membunuh orang sebanyak mungkin dalam gedung itu."

Pada saat lain, ia mengungkapkan, ia menemui orang "yang berteriak dan bermohon agar tidak dibunuh." Tetapi beberapa korban tampak "lumpuh" dan tidak bisa mencoba lari dari serangan tembakannya. Beberapa orang "pura-pura mati. Itu sebabnya saya menembak begitu banyak."

Sebagian besar orang yang tewas di pulau itu adalah remaja peserta perkemahan pemuda Partai Buruh yang berkuasa di Norwegia. Breivik mengakui melakukan pemboman dan serangan penembakan itu, tetapi menyatakan tidak bersalah atas tuduhan kriminal. Menurutnya, kedua serangan tersebut dapat dibenarkan untuk melawan multikulturalisme di Norwegia dan apa yang ia anggap sebagai invasi Muslim di Eropa.

Ia merencanakan pemboman tersebut setelah meriset secara intensif serangan lain di seluruh dunia, termasuk teroris lain yang anti-pemerintah, Timothy McVeigh di Amerika. McVeigh meledakkan bom truk di Oklahoma City tahun 1995, menewaskan 168 orang dan melukai lebih dari 600.

Kesaksian Breivik disiarkan ke-17 ruang sidang lain, tetapi tidak di televisi Norwegia. Seorang penulis Norwegia yang menonton jalannya sidang, Asne Seierstad, mencatat Breivik tidak menunjukkan emosi apa pun ketika mengenang serangannya 22 Juli lalu. Tujuan utama sidang adalah memutuskan apakah Breivik waras sewaktu melakukan serangan itu. Norwegia tidak mengenal hukuman mati, tapi jika pengadilan mendapati ia bersalah dan waras, ia akan dihukum penjara maksimal 21 tahun, yang bisa diperpanjang jika ia dianggap masih berbahaya. Breivik menyatakan putusan tidak waras "lebih buruk daripada kematian."

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG