Tautan-tautan Akses

Penelitian Tunjukkan MERS-CoV Belum Jadi Pandemi


Seorang pria memakai masker untuk menghindari penularan coronavirus, berjalan dekat rumah sakit di Khobar, Dammam, Arab Saudi (21/5).

Seorang pria memakai masker untuk menghindari penularan coronavirus, berjalan dekat rumah sakit di Khobar, Dammam, Arab Saudi (21/5).

Penelitian baru Institut Pasteur di Paris menunjukkan penyakit sindrom pernafasan MERS-CoV belum menjadi pandemi karena tingkat penularan masih rendah.

Sejak coronavirus sindrom pernafasan Timur Tengah (MERS-CoV) pertama kali diidentifikasi di Arab Saudi tahun lalu, sudah 77 orang tertular, sebagian besar di Timur Tengah dan Eropa. Sebanyak 40 orang dari mereka meninggal karenanya, namun MERS dinyatakan belum menjadi pandemi, menurut penelitian baru Institut Pasteur di Paris.

MERS, yang menyebabkan demam, batuk dan kadang-kadang gagal ginjal, mungkin berkembang dari virus yang ditemukan pada kelelawar. Ini mirip virus SARS, yang menewaskan hampir 800 orang di seluruh dunia pada 2003.

Menggunakan data dari kasus MERS yang sudah diketahui, para peneliti mendapati bahwa rata-rata, pengidap penyakit ini paling mungkin menulari hanya satu orang lain. Pasien SARS cenderung menulari tiga orang lainnya. Tingkat penularan itulah yang membuatnya pandemi.

Meskipun Mers lebih mematikan daripada SARS, tingkat penularan yang rendah berarti penyakit itu pada akhirnya dapat sembuh dengan sendirinya.

Namun, peneliti mengimbau pengawasan lanjutan dan kehati-hatian. Mereka menunjukkan, SARS menjadi lebih menular dari waktu ke waktu. MERS, menurut mereka, bisa seperti itu.
XS
SM
MD
LG