Tautan-tautan Akses

Penelitian di Amerika: Kemampuan Baca Tuna Rungu Rendah

  • Kelly Nuxol

Salah seorang pengajar pada Universitas Gallaudet menggunakan bahasa isyarat pada acara penerimaan mahasasiwa baru di universitas itu.

Salah seorang pengajar pada Universitas Gallaudet menggunakan bahasa isyarat pada acara penerimaan mahasasiwa baru di universitas itu.

Sebuah penelitian di Amerika mengenai pengguna bahasa isyarat menunjukkan bahwa kemampuan baca rata-rata tuna rungu dewasa sama seperti kemampuan baca anak berumur sembilan tahun.

Di Amerika tuna rungu tidak bermasalah dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat. Namun, sebuah penelitian mengenai pengguna bahasa isyarat menunjukkan bahwa kemampuan baca rata-rata tuna rungu dewasa sama seperti kemampuan baca anak berumur sembilan tahun.

Penjelasan mengenai hal itu biasanya adalah, karena tuna rungu tidak pernah belajar menghubungkan abjad dengan bunyinya. Sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan, para pembaca tuna rungu sama saja dengan orang yang belajar bahasa asing.

Jill Morford, guru besar linguistik pada Universitas New Meksiko dan juga bekerja pada pusat penelitian Universitas Gallaudet di Washington, yang kebanyakan mahasiswanya tuna rungu, mengepalai penelitian itu.

Ia mengatakan para pengguna bahasa isyarat sama dengan orang yang bahasa pertamanya punya abjad berbeda, belajar bahasa Inggeris.

“Setiap orang yang bahasa pertamanya punya sistem penulisan yang berbeda dari bahasa Inggeris, seperti bahasa Arab, Mandarin, atau Rusia, tahu bahwa belajar mengenali dan memahami kata-kata dalam bahasa Inggeris jauh lebih sulit daripada jika kita sudah terbiasa menggunakan bahasa dengan ortografi yang sama,“ ujarnya.

Ortografi adalah cara penulisan dan pengucapan suatu bahasa. Dalam hal pengguna bahasa isyarat, tentu saja, bahasa pertama mereka tidak punya sistem penulisan sama sekali, hanya isyarat tangan.

Guru Besar pada Universitas Gallaudet, Tim Allan, menjelaskan pengaruh kemampuan berbahasa isyarat pada kemampuan baca, "Kita tidak membahas bagian-bagian di otak yang berkaitan dengan pendengaran. Kita tahu, pada orang normal ketika mereka membaca, mereka juga mendengar. Namun, ketika seorang tuna rungu membaca sebuah kata, ia melihat kata itu dan dari situ ia mengenal ortografi kata itu. Sebagian penelitian yang dilakukan di lembaga ini menunjukkan bahwa ketika seorang tuna rungu membaca sebuah kata bahasa Inggeris, kata itu mengaktifkan bahasa isyarat untuk kata-kata itu.”

Pengguna bahasa isyarat bisa menghadapi masalah yang sama seperti orang-orang bisa bicara dua bahasa. Otak mereka harus memilih dua bahasa sepanjang waktu. Contohnya kata “paper” dan “movie”. Ejaannya dan artinya sama sekali berbeda, tetapi bahasa isyaratnya sama, ujar Profesor Allen.

Hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Cognition.

XS
SM
MD
LG