Tautan-tautan Akses

Peneliti Jerman Unggah Genome Neanderthal di Internet


Sebuah teknik baru yang mengikat molekul khusus untuk untai tunggal DNA memungkinkan peneliti untuk urutan merangkai genome Neanderthal terkait Denisovan dari sebuah fragmen kecil dari tulang jari kuno. (Foto: Max Planck Institute untuk ilmu Antropologi Evolusi)

Sebuah teknik baru yang mengikat molekul khusus untuk untai tunggal DNA memungkinkan peneliti untuk urutan merangkai genome Neanderthal terkait Denisovan dari sebuah fragmen kecil dari tulang jari kuno. (Foto: Max Planck Institute untuk ilmu Antropologi Evolusi)

Para peneliti di Jerman telah menyelesaikan penyusunan genome Neanderthal dan mengunggah informasi tersebut di internet untuk dapat diteliti para ilmuwan lain secara bebas, Selasa (19/3).

Genome Neanderthal yang diteliti para ilmuwan Jerman, dihasilkan dari tulang ibu jari kaki dari sisa kerangka Neanderthal. Kerangka yang ditemukan di sebuah gua Siberia itu jauh lebih terperinci dibandingkan dengan “rancangan” genome Neanderthal sebelumnya, yang disusun tiga tahun lalu oleh tim yang sama di Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman.

“Genome Neanderthal sekarang sudah ada dalam bentuk yang se-akurat genome manusia yang berkeliaran sekarang,” demikian penjelasan Svante Paabo, pakar genetika yang memimpin penelitian itu kepada Associated Press.

Richard G. Klein, seorang paleoanthropolog di Universitas Stanford di California yang tidak terlibat dalam penelitian itu, mengatakan hal tersebut merupakan suatu pencapaian besar yang tidak ada mengira akan terwujud 10 atau bahkan lima tahun yang lalu.

Tim Leipzig itu sudah dapat menentukan gen mana yang diwarisi Neanderthal dari ibunya dan yang mana dari ayahnya. Tim tersebut sekarang berharap akan membandingkan genome baru itu dengan genome Neanderthal lain, manusia moderen dan Denisovans – satu lagi species manusia yang sudah punah dan genome sebelumnya diperoleh dari kerangka yang ditemukan dalam gua Siberia yang sama.

“Kita akan memperoleh pemahaman mendalam mengenai banyak aspek sejarah Neanderthal dan Denisovan dan meningkatkan pengetahuan kita mengenai perubahan genetika yang terjadi dalam genome manusia moderen setelah manusia berpisah dari nenek-moyang Neanderthal dan Denisovan,” demikian kata Paabo.

Klein mengatakan perbandingan itu barangkali akan memungkinkan ilmuwan untuk menentukan apa yang membuat species kita unik dan menjelaskan mengapa kita dapat bertahan hidup dan lainnya tidak.

Kelompok Paabo berencana menerbitkan makalah ilmiah tahun ini. Sementara itu, susunan genome tersebut disediakan dengan bebas online supaya para pakar di tempat lain dapat melakukan penelitian mengenai hal tersebut, katanya.

Pengumuman itu disambut baik oleh para peneliti lain.

Wil Roebroeks, seorang arkeolog di Universitas Leiden di Negeri Belanda yang tidak terlibat dalam penelitian Leipzig, mengatakan ini adalah masa yang menggembirakan bagi penelitian komparatif manusia dan kerabat paling dekat kita yang sudah punah.

"Dengan menggabungkan temuan-temuan dari genetika dengan penelitian makanan, teknologi dan anthropologi berbagai species manusia, para ilmuwan kemungkinan akan menghasilkan pemahaman baru mengenai evolusi kita di masa lampau segera," kata Wil.
XS
SM
MD
LG