Tautan-tautan Akses

Peneliti Australia Berhasil Berantas Nyamuk Penyebab Demam Berdarah

  • Art Chimes
  • Zefanya Rampengan

Aedes Aegypti, nyamuk penyebab penyakit DBD.

Aedes Aegypti, nyamuk penyebab penyakit DBD.

Para peneliti Australia melaporkan keberhasilan dalam mengatasi nyamuk penyebab penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan setiap tahunnya ditemukan 50 juta kasus infeksi dengue, dan 40 persen populasi dunia berisiko terinfeksi.

Virus demam berdarah dengue (DBD) dibawa dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. Peneliti Scott Ritchie dari Universitas James Cook mengatakan bahwa berbagai upaya memberantas DBD selama ini lebih terfokus pada pembasmian nyamuk.

“Satu-satunya cara membasminya adalah dengan pestisida dan mungkin penyuluhan masyarakat. Sejumlah nyamuk mulai resisten terhadap pestisida-pestisida itu, jadi kita memerlukan sesuatu yang baru dan berbeda,” ujar Ritchie.

Hasil penelitian Ritchie dan para ilmuwan lainnya dimuat dalam atikel di jurnal Nature.

Menurut para peneliti, nyamuk Aedes Aegypti dapat ditulari bakteri Wolbachia, yang menghambat perkembangan virus DBD, sehingga virus ini tidak dapat ditularkan ke orang yang digigit nyamuk itu.

Untuk meniru situasi nyata, mereka melepaskan nyamuk-nyamuk yang ditulari Wolbachia ke sebuah fasilitas pengujian di dalam ruang yang dipenuhi nyamuk-nyamuk tak terinfeksi. Dalam beberapa bulan, hasil perkawinan kedua nyamuk itu menunjukkan serangga yang diinfeksi Wolbachia itu mendominasi seluruh populasi nyamuk.

Para peneliti kemudian beralih dari tes simulasi ke tes di dunia nyata, dengan melepaskan nyamuk-nyamuk di dua kota terpencil di Australia.

Peneliti utama Scott O'Neill dari Universitas Monash mengatakan bahwa sewaktu serangga-serangga yang terinfeksi dilepaskan selama beberapa pekan, mereka mulai mendominasi nyamuk-nyamuk setempat yang tidak terinfeksi.

“Yang terpenting, setelah pelepasan nyamuk-nyamuk Wolbachia dihentikan, jumlah nyamuk Wolbachia terus bertambah hingga eksperimen selesai pada akhir musim hujan. Sekitar waktu itulah kita dapat melihat bahwa kita hampir menuntaskan penetrasi infeksi Wolbachia ke populasi nyamuk di lokasi-lokasi itu,” papar O’Neill.

Anggota tim lainnya, Ary Hoffman dari Universitas Melbourne, mengatakan bahwa para peneliti selanjutnya perlu melepaskan Wolbachia ke wilayah di mana DBD mewabah, untuk mengetahui apakah bakteri ini dapat benar-benar mencegah penyakit.

“Hingga tahap tersebut, kita harus berhati-hati. Menurut saya hasil ini masih dini. Pada saat ini kami masih penuh harapan. Tetapi sebelum mencapai tahap di mana kita dapat menyatakan bahwa Wolbachia dapat memberantas DBD, ini soal lain, ini soal mendatang,” ujarnya.

Dalam komentar yang juga diterbitkan di jurnal Nature, ilmuwan Johns Hopkins Jason Rasgon mengatakan penelitian Australia menandai apa yang ia sebut “dimulainya era baru pemberantasan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh nyamuk,” dan menunjukkan strategi yang dapat diterapkan untuk malaria. Rasgon juga mencatat bahwa dampaknya bagi ekosistem harus diminimalisasi karena nyamuk-nyamuk itu diubah jenisnya, bukannya dibasmi.

XS
SM
MD
LG