Tautan-tautan Akses

Penderita Baru HIV/AIDS di Jakarta Berjumlah 1.184 Orang

  • Fathiyah Wardah

Meskipun HIV/AIDS terus menjangkiti penderita baru, laporan UNAIDS 2011 menyebutkan infeksi baru dan kematian akibat AIDS semakin menurun (foto:dok).

Meskipun HIV/AIDS terus menjangkiti penderita baru, laporan UNAIDS 2011 menyebutkan infeksi baru dan kematian akibat AIDS semakin menurun (foto:dok).

Angka penderita baru HIV AIDS di Jakarta pada tahun 2011 ini mencapai 1.184 orang. Hal tersebut diungkapkan Kepala Divisi Promosi Pencegahan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Jakarta, John Alubwaman.

Kepala Divisi Promosi Pencegahan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Jakarta, John Alubwaman kepada VOA mengatakan angka penderita baru HIV/AIDS di Jakarta hinggaJuni tahun ini mencapai 1.184 orang.

Kebanyakan dari mereka adalah pekerja muda dan ibu rumah tangga.

Data tersebut kata John diperoleh dari Sistem Informasi AIDS Jakarta yang mengumpulkan laporan dari rumah sakit dan puskesmas di Jakarta.

Penderita baru HIV AIDS ini kebanyakan tertular melalui hubungan seksual. Untuk itu menurut John, pihaknya telah menyiapkan program pencegahan melalui transmisi seksual.

Diharapkan kata John program ini dapat mencegah terjadinya penularan HIV AIDS melalui hubungan seksual.

John Alubwaman mengatakan, "Dari pekerjaanya itu kebanyakan profesional muda dan yang paling tidak mengenakan sebenarnya ada sejumlah 340 adalah ibu rumah tangga, itu persoalan yang kita hadapi sekarang ini. Program tahun depan kita arahkan kesana yang kita sebut dengan pencegahan melalui transmisi seksual. Kita arahkan kepada lelaki yang kita sebut dengan highrisks-man, nah itu di Jakarta tinggi banget, mobilitasnya, ada duitnya, ada tempatnya. Di Jakarta itu kurang lebih ada sekitar 1 juta sampai 1,5 juta lelaki yang punya resiko tinggi dalam menerima penularan HIV bagi dirinya maupun kepada orang lain."

Sebelumnya, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi telah mengeluarkan kebijakan yangmengharuskan semua perusahaan di Indonesiamemiliki program penanggulangan HIV AIDS di tempat kerja.

Hal ini juga untuk mencegah terjadinya tindakan diskriminatif dari perusahaan terhadap pekerja yang sudah terinfeksi HIV AIDS.

Aktivis dari Yayasan Pelita Ilmu, Tika Suryaatmaja menilai tindakan diskriminatif perusahaan terhadap pekerja yang terkena HIV AIDS masih sangat tinggi.

Tika yang aktif mendampingi penderita HIV/AIDS di lembaga itu menilai upaya pemerintah untuk melindungi para pekerja yang mengidap HIV AIDS belum maksimal.

Ia mengatakan, "Pemerintah harus berani atau mau bertindak tegas misalnya ada perusahaan kemudian dia mengeluarkan atau tidak mau menerima orang dengan HIV AIDS kerja disitu padahal dia punya potensi. Sanksi harusnya ada."

Data yang dikeluarkan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi DKI Jakarta menunjukan jumlah penderita HIV/AIDS terus meningkat, tahun ini saja peningkatan yang terjadi sudah lebih dari 10% dibanding tahun lalu.

Semantara itu Pengamat Kesehatan dari Universitas Indonesia, Adang Bachtiar mengatakan kurangnya dana yang dimiliki pemerintah untuk menanggulangi masalah HIV/AIDS juga menjadi salah satu penyebab terus terjadinya peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia.

Adang Bachtiar mengatakan, "Kontribusi nasional untuk program tersebut mestinya (escalating) makin meningkat tahun ketahun. Eskalasi anggaran nasional atau anggaran sendiri itu tidak terjadi, ketergantungan terhadap asing masih tetap terjadi atau proporsi yang besar."

XS
SM
MD
LG